Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Terlahir Tanpa Bapak Dan Ibu

puisi Herman RN

Aku lahir dari pertengkaran Bapak dan Ibu

aku tak berbapak jua tak beribu

tak ada zigot yang membuahkan aku

aku lahir dari sebentuk penindasan

tak ada darah tak ada lahirku

Aku pula tak tahu siapa pemeliharaku

aku besar dan mendunia hampir ke seluruh penjuru

dan mereka menimangku untuk terkenal dan menang

sesama mereka ada aku

di antara mereka ada aku

di rumah, di desa, di kota, di negara, aku ada

akulah peperangan yang lahir tanpa Bapak dan Ibu

maka setelah senjata dikubur

panah dibusur

keris dan rencong dilebur

aku masih mencari di ujung sana akan aku

Jnuari, 2005

BUNYI

Kemarin semua sangat takut letusan

setiap bunyi kami kira meminta nyawa

“Tiarap!” kata sesuara saat dengar letusan itu

bertubuh pula guling ke tanah

entah ke kiri entah kanan

pula ada yang terpijak adan terjepit

dalam sebuah keluarga

“Ke bawah ranjang!” kata ayah

“Kemari!” kata ibu ke pada buah hati

seperti rapa’i dalam sunyi

berbunyi bertalu waktu malam

semacam gergaji besi waktu siang

berdendang tanpa irama pasti

Sejak Agustus 2005

entah karena amukan gelombang

bunyi itu jadi rindu dalam nyanyian kami

seperti ada yang hilang pada malam kami

semacam ada yang kurang di siang kami

selayak ada yang tak lengkap dalam menung kami

yang dulu kami takutkan jadi kami rindu

Peurada, September 2006

Dialog Sebuah Keluarga

Seorang bapak berkata pada anaknya

“kamu harus bisa membaca”

anak malah mengetus,

“apa bapak sudah bisa mebaca?”

di sana, bapak, di kertas-kertas tebal itu

mereka menyebutnya suci.

bapak sudah baca?

takkan tertegun kita sekarang jika

kita tahu isi tulisan dalam lembarannya

Seorang ibu menyempong

“kita terlalu lelah mebaca ayat-ayat itu”

makanya kita pingsan, ketus sang anak

dan kenyataan itu semakin nyata.

Aceh, 2006.

SUARA TRAUMA

Sebuah ban mobil melindas paku karatan

yang diletakkan anak jalanan di sebuah lubang jalan

Bum!!!

“Tiarap!” teriak PNS sepulang dari kantor

Koeta Radja, awal 2007

Iklan

Filed under: Puisi

3 Responses

  1. Muhammad Baiquni berkata:

    keren…. puisinya

    kerasa bener

  2. lidahtinta berkata:

    Terima kasih Bai. Saya percaya puisimu tak kalah menariknya. bahkan, lebih dahsyat.

    salam

  3. Asri berkata:

    Elok terlihat apa tertulis, seolah ide tak pernah habis.
    Baik berguna bagi pak kumis, berarti pula buat neng geulis.
    Jari menari tulis kelimis, buat yg baca tersenyum manis. hehe

    Mantap2 that tulesan droe neuh bang, hawa teuh jeut teumuleh lage droe neuh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: