Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Episode Ultah

Cerpen Herman RN

20 April, 08:30 pagi.

Diary, kini aku hanya memiliki kamu, lembaranmu yang selalu menemaniku baik suka maupun duka. Hari ini, Ry, apa kamu tak ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukku? Apakah kamu juga sudah sama seperti mereka, melupakan hari jadiku? Oh, maaf, Ry, jika aku kasar sama kamu. Maklum, aku sedih, bingung, tak tahu harus bagaimana. Habis, mereka, Ry, teman-teman dekatku, semua telah melupakan hari ini. Lihat saja Dhani, dia kan sahabatku, tapi dia juga telah melupakan hari ini, hari ulang tahunku, Ry.

Aku tak habis pikir, Ry, apakah aku punya salah sama mereka sehingga untuk mengucapkan sepatah kata selamat pun mereka tak bisa? Lihat pula Arka, Ipit, Tada, Iwan, Rad, mereka sahabat-sahabatku yang selalu bersama, berbagi suka duka. Mereka yang dulu pernah mengikrarkan semacam janji bersama, bahwa Friendship never die. Tapi kini, mana ucapan sakral itu? Mana sebuah kata persahabatan, Ry?

Mungkin aku terlalu sadis menggores lembaranmu hari ini dengan hujaman kasar, Ry. Tapi aku tak tahu harus bagaimana, harus berbuat apa? Hanya kamu yang mau mendengarkan keluh kesahku, bahwa aku hari ini ultah, Ry.

Dulu mereka tidak seperti ini, Ry. Setiap tahun sahabat-sahabatku itu tak pernah melupakan hari ultahku. Apa lagi Dhani. Dia biasanya tak pernah menunggu pagi tiba untuk mengucapkan kata selamat buatku. Dia rela menahan kantuk menunggu jam tepat tengah malam untuk mengirimkan SMS selamat ultah kepadaku. Kemudian siangnya, dia ajak teman-teman lain memberiku surprize.

Ah, itu hanya cerita dulu, cerita lembaran yang manakala aku mengingatnya akan jadi sebuah dendam. Aku tak ingin lagi ingat tahun-tahun itu, tapi aku selalu dihantui tanya, apakah salahku pada mereka sehingga mereka melupakan tentang hari ini?

09:00 pagi.

Lihat saja jam ini, Ry. Sudah jam segini mereka tak menghiraukanku. Di sini, Ry, di tempat ini, kami selalu bersama membagi cerita. Sudut sekolah ini sengaja kami pilih kerena di sini persahatan bertaut. Mungkin kalau boleh aku sedikit puitis mengukirmu, di rerumputan hijau itulah janji kami bertaut, bahwa kami adalah satu dalam lingkaran persahabatan. Aku tak mengira kalau di sini pula tali rantai sejati ini putus. Bukankah seperti yang kamu ketehui, setiap pagi kami di sini? Entah menuggu apa, pokoknya kami sering bersama di sudut gedung ini Ry.

Ry, sengaja aku tuliskan rasa ini di lembaranmu, agar kamu tahu seperti apa hati ini. Bukankah kamu sahabatku yang selalu menerima umpat dan puji dariku? Aku bangga kamu mau bersahabat denganku. Kamu selalu menerima apa yang aku katakan. Kamu baik, Ry, tidak seperti mereka yang membiarkan aku menanti sepatah ucapan selamat ultah dari mereka. Hanya sepatah kata ucapan, Ry. Apkah lidah mereka terlalu tipis untuk mengucapkannya?

Ry, tahun ini benar-benar kurasakan berbeda dengan tahun sebelumnya. Aku tak mengira ini akan menimpaku, karena aku tak pernah melupakan hari ulang tahun sahabat-sahabatku. Bukannya aku menginginkan balasan dari apa yang telah aku berikan, Ry. Tapi aku hanya ingin mereka ada di sini, memberikan senyum untukku. Itu saja sudah cukup. Bukannya menghilang dariku seperti sekarang ini. Sudah satu jam setengah aku menunggu, tak satu pun dari mereka datang menyapa. Ah… Apakah mereka telah sepakat akan menjauhi diriku? Sudah jam segini tak satu pun batang hidung mereka kulihat.

10:05 pagi.

Ok, Ry. Aku tak bisa apa-apa lagi. Terima kasih karena telah mau menemaniku pagi ini. Sebaiknya aku memutuskan untuk pulang saja. Mungkin memang aku tak pantas sejalan dengan mereka. Baiknya kukubur semua kenangan bahwa kami pernah bersama.

Di sini, Ry, di batang kayu ini, ada nama-nama berbaris. Dan akan ada sebuah nama yang terhapus. Ya, aku akan menghapus namaku dari kulit kayu ini. Mereka telah melupakanku. Aku harus bisa melupakan mereka.

10:30 pagi.

Aku melangkahkan kaki setelah menghapus namaku dari batang belimbing. Di pohon belimbing itu sebenarnya ada beberapa nama, namaku dan nama-nama sahabatku. Tapi aku sudah menghapus namaku dari barisan nama yang lain di sana. Niatku sekarang hanya satu, pulang dan takkan kembali lagi ke tempat ini, meski di sini sebuah ikatan pernah terajut. Selamat tinggal, sahabat.

Kakiku terus melangkah, jalan kutapaki terasa berduri. Mataku berbayang, pandanganku pudar. Sebuah gerakan cepat melesat dari sebalik semak yang kulalui. Tiba-tiba mulutku di bekap dari belakang, napasku tersedak. Tanganku diikat. Mataku ditutupi kain hitam. Aku tak tahu apa yang terjadi. Yang kurasa aku diseret ke suatu tempat oleh beberapa tangan. Yang terbayang dalam benakku hanya mati. Perpisahan itu benar-benar nyata. Mungkin di sini akhir hidupku. Aku ingat lembaran koran yang kubaca pagi tadi, penculikan di kampong ini kembali rawan. Apakah yang mengikat tangan dan kakiku ini perampok yang di koran itu? Maka, tamatlah riwayatku, pikirku.

Tanganku masih diikat, tetapi kakiku tidak. Ikat kakiku sudah dilepas agar aku dapat berjalan. Kurasakan aku memasuki sebuah ruangan, ruangan yang sepi. Mungkin ruangan pembantaian.

Beberapa tangan yang tadi memegangku kini melepas ikatan tanganku. Sepi. Aku tak mendengar suara apa-apa. Bulu romaku merinding. Ah, kenapa tidak kulepaskan saja ikatan yang menutupi mataku. Bukankah ikat tanganku sudah terlepas? Aku melepaskan kain yang menutupi mataku. Gelap. Ruangan apa ini, pikirku.

Sesaat kemudian lampu nyala. Aku melihat kertas warna-warni bergantungan. Dimana aku sekarang? Apa aku sudah berada di alam kubur? Mengapa begitu indah? Balon-balon ini? Oh.

Tiba-tiba sebuah suara letusan melengking di udara. Disusul sorak sorai, Happy Birth day to you… kemudian nyanyian selamat ulang tahun menggema dari balik-balik bangku.

Oh, dengan apa aku bisa mebayangkan kebahagiaan ini? Dhani, Arlik, Arka, Tada, Romi, Ipit, Rad, satu per satu kepala itu muncul dari balik bangku-bangku. Aku baru sadar, kiranya mereka sengaja meberiku kado teristimewa dari tahun-tahun sebelumnya. Ya, ini kado ulang tahunku dari mereka. Ini benar-benar surprise, batinku. Mereka sekumpul bersama menata ruang ini untuk menyambut ultahku?

Ada bening mengambang ketika satu persatu tangan itu mengulur ke arahku seraya mengucapkan ‘Selamat Ulang Tahun’ sahabat. Aku tak bisa berkata lagi. Aku hanya diam sambil terus menatap mata mereka satu per satu. Ingin sekali aku mengucapkan ‘terima kasih’ kepada teman-temanku itu, tapi kami sudah sepakat dalam persahabatan tidak ada kata maaf dan terima kasih. Akhirnya aku hanya bisa mengusap mataku yang perlahan basah. Oh, Diaryku…

Banda Aceh, tepat hari ultahku ‘07

Herman RN. Lahir, April 1983.

Cerpenis dan pegiat kebudayaan.

Iklan

Filed under: Cerpen

One Response

  1. Zaky Alatas berkata:

    Ah… Q jg pern4h ngalam1n gt. Sng ya… Tlng bls.. Usia q 14 th.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: