Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menangisi Pergerakan Mahasiswa Jantong Hate

Oleh Herman RN

Dulu sekali, saat saya masih menyandang predikat mahasiswa di FKIP Unsyiah, pernah saya tulis secuil keresahan untuk mahasiswa walau saya saat itu juga masih mahasiswa. Entah layak itu disebut surat, tapi sudah tersampaikan melalui media salah satu koran terbitan Banda Aceh (Serambi Indonesia, 2006). Setelah keresahan itu, kini keresahan juga yang membuat saya harus menulis sepucuk keresahan lagi, yang keresahan ini tentu hampir sama; tertuju kepada teman-teman mahasiswa.

Sekedar membuka lembaran ingatan menjelang hancurnya rezim Orde Baru, mahasiswa di Indonesia telah memperoleh poisi yang sangat mulai karena mampu meruntuhkan rezim tirani Soehartois. Kegemilangan mahasiswa serupa juga dialami oleh kampus Jantong Hate rakyat Aceh. Bahkan, setelah rezim Soehartois jatuh, mahasiswa Jantong Hate masih berjuba-juga turun ke jalan melarang politik masuk kampus. Kalau saya tidak salah ingat, kegemparan mahasiswa meloncat ke jalan waktu itu sangat mengharukan. Mereka beramai-ramai menolak atribut parpol masuk kampus. Apalagi, kampanye partai politik di wilayah kampus. Akibatnya, bendera partai Golkar dan PDI waktu itu tidak jadi berkibar di Darussalam.

Namun, belakangan bukannya melarang entek-entek politik masuk kampus, malah mahasiswa sendiri mulai membawa politik praktis ke kampusnya. Kalau tidak berhasil membawa calon-calon legeslatif masuk kampus untuk kampanye dengan alasan diskusi politik untuk mahasiswa, embel-embel parpol semacam stikers dan poster mereka tempal di buku-buku kuliah. Saya tidak tahu apa tujuannya itu dilakukan.

Tercatat pula, jenjang pemilihan presiden mahasiswa (khusus Unsyiah) sebagai salah satu contohnya, mulai meniru ala pemilihan tingkat pemerintahan negara. Jika tahun ini pesta demokrasi politik Indonesia diwarnai dengan nyaleg, mahasiswa pun pakai gaya nyaleg-nyaleg segala untuk memilih pemimpin mereka di tingkat universitas (Pemerintahan Mahasiswa–Pema). Gaya pajang-pajang poster sebesar dua daun pintu di pohon-pohon dan di tugu pun mulai ditiru mahasiswa. Bahkan, poster bergambar wajah anak belasan tahu itu tak kalah menarik dengan poster-poster caleg DPR RI dengan  menggunakan kertas mahal.

Sekilas gaya mencontek format praktis pemilihan dari tingkat negara atau provinsi oleh mahasiswa dapat dipandang bagus. Calon mahasiswa yang akan terjun ke dunia politik praktis nantinya sudah mulai diajarkan berpolitik sejak di kampus. Kebagusan itu terlihat sejak penerapan tes baca Alquran. Yang tidak bisa baca Alquran mulai mencari cara agar bisa membacanya, sebab salah satu syarat menjadi Presidesn Mahasiswa (Presma) harus bisa membaca Alquran. Jika gaya serupa juga pernah diterapkan beberapa waktu sebelumnya, ‘lomba’ baca Alquran antar-Presma kali ini sedikit berbeda dalam hal penilaian. Tim penilai langsung diminta dari Lembaga Pengembangan Tilawatilquran Provinsi (LPTQ). Waw, kemajuan drastis tentusnya dalam menerapkan syariat Islam di kampus.

Sayang, praktik mencontoh perpolitikan dalam kasus lainnya untuk Pemilihan Raya (Pemira) oleh mahasiswa malah terjebak anarkis. Entah pergerakan tawuran dan anarkis memang sudah mendarah-daging di setiap manusia yang mengaku mahasiswa sehingga selalu setiap masalah harus dipecahkan dengan pelemparan batu, pembakaran, dan uniknya sekarang mulai bermain dengan darah–sungguh sekali lagi: entah. Maka itu, sebuah tanya hendak saya sampaikan melalui ruang ini, apakah memang selalu harus “darah” jadi standardisasi keberanian dalam benak mahasiswa sekarang?

Saya tanya demikian berdasarkan kejadian beberapa waktu lalu. Kalau tak percaya lihat saja kembali apa kata media, “Tiga mahasiswa Unsyiah harus dilarikan ke IGD RSUZA setelah mengalami memar akibat lemparan batu pasca-Pemira (Serambi Indonesia, Harian Aceh, 13 Mei 2009). Begitulah kesimpulan isi berita yang saya baca di dua media terbitan Banda Aceh beberapa waktu lalu. Sungguh mengharukan pergerakan mahasiswa sekarang sehingga saya nyaris menangis dibuatnya.

Sejujurnya, saya heran dengan pergerakan mahasiswa, terutama mahasiswa Jantong Hate rakyat Aceh periode kekinian. Entah apa maksudnya memperebutkan kursi Presma dengan berbentur kepala segala. Padahal, perpolitikan di Aceh, meskipun tahun-tahun terakhir sering kita baca berita tentang kekerasan dan ‘orang dari hutan ingin jadi dewan’, belum ada berita yang menyatakan pertumpahan darah akibat bentrok sesama caleg atau simpatisan partai politik. Akan tetapi, mahasiswa yang seyogianya menjadi contoh segala hal, termasuk pergerakan politik, malah suka ‘bermain’ dengan darah. “Jadi Presma atau pengurus Pema tidak ada uang, tapi mereka rela menumpahkah darah, sedangkan jadi caleg dapat gaji berlimpah, tidak mesti harus mengorbankan darah,” kata seorang teman saya berkomentar terhadap perilaku mahasiswa dalam Pemira Unsyiah baru-baru ini. Saya benar kata teman saya yang juga aktivis mahasiswa pada masanya itu, bahwa Presma dan pengurus Pema tidak ada gaji sehingga naif sekali harus menumpahkan darah hanya untuk jabatan semu yang hanya setahun itu. Sedangkan mereka calon anggota dewan, digaji dan menjabat hingga periode lima tahun, tidak tolol melakukan pertumpahan darah. Lantas, haruskan kita masih mencontoh mahasiswa (sekarang) yang katanya agen of change itu?

Kata berita, kejadian pertumpahan darah antarkubu mahasiswa dalam Pemira tahun ini bermula karena ditundanya perhitungan suara karena salah satu TPS menyatakan komplain kepada Komisi Pemilihan Raya (KPR). Gambaran politik seperti ini sudah duluan dialami dalam perpolitikan nyata Pemilu Calon Legeslatif 2009. Masalah komplai-mengomplain sudah ada mulai tingkat kecamatan, kabupaten, hingga propinsi dan bahkan tingkat pusat. Namun, khusus di Aceh, belum kita dapati pertumpahan darah gara-gara komplain tersebut. Maka ironis sangat tatkala kejadian komplai dalam skup yang lebih kecil (politik kampus) malah melahirkan tumpahan darah. Kemana hendak diletakkan ‘wajah’ mahasiswa sekarang kalau segala sesuatu mesti dipercontohkan dengan darah dan kekerasan fisik? Ah mahasiswa, haruskah kami kembali menangis melihat kekanak-kanakanmu yang telah meninggalkan seragam abu-abu? Sudah dewasakah engkau? Wallahu’alam.

Herman RN, mantan mahasiswa FKIP Unsyiah

Iklan

Filed under: Essay

2 Responses

  1. safriandi berkata:

    Bek teuga that neutuleh surat. neutuleh surat cewek sigo2 pakon han. hehehehehe

  2. Lara berkata:

    Apa yang perlu ditangisi tentang pergerakan mahasiswa di aceh saat ini. Saya tidak pernah melihat ada inovasi-inovasi baru di kampus Syiahkuala saat ini. Sudah 10 tahun berlalu, apa yang telah mereka perbuat hanya sekedar basa-basi. Mereka tidak ada konsep…. mereka diam…. mereka terlena… karena mereka menganggap diri mereka pintar.. sadarlah bahwa dibalik gunung seulawah itu ada alam lain… buka matamu dan telingamu untuk melihat dan mendengar… jangan tertidur pulas… Saatnya kamu berbuat untuk hari ini dan esok lupakan masalalu. pahit dan pahit… lanjutkan perjuangan mu > Hidup mahasiswa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: