Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sering Bukan Berarti Congok

Oleh Herman RN

Mungkinkah sebuah keseringan dapat dianalogikan menjadi loba sehingga seringnya orang Aceh dalam kearifannya mengadakan khanduri (kenduri) dapat disebut congok?

Pertanyaan ini bermula sebab pada Iskandar Norman, pengelola desk TAMADUN Harian Aceh yang menulis bahwa “Kita Adalah Kaum yang Congok” (Harian Aceh, 31 Mei 2009). Norman berasumsi bahwa “kita” (baca: Aceh) adalah kaum yang congok karena hampir dalam setiap kegiatan masyarakat ada dibarengi dengan khanduri. Misal, mau turun ke sawah pakai khanduri, memasuki masa panen pakai khanduri, selepas panen pun ada khanduri lagi. Benarkah kearifan yang sudah mendarah daging tujuh belas turunan ini kemudian dikategorikan dengan karakter congok? Pertanyaan ini kiranya mesti dijawab Norman sehingga ia yang juga orang Aceh menjad lebih paham kata “congok” itu lebih pantas disandang untuk siapa.

Sederhananya ungkapan “congok” dapat disinonimkan dengan loba—dalam bahasa Aceh geureuda. Karena itu, saya tidak habis pikir mengapa seringnya khanduri dapat disamakan Norman dengan geureuda.

Sejatinya, patut dilihat dahulu apa esensi dari sebuah khanduri yang sering dilakukan masyarakat Aceh hampir di setiap kegiatan itu. Hal ini agar tidak gegabah melekatkan kesimpulan karakter “busuk” kepada masyarakat. Apalagi, kesimpulan itu menggunakan kata jamak “kita” yang seolah semua orang sama pendapatnya dengan si penulis/pembicara.

Dalam kearifan ureueng Aceh, kenduri bukanlah hal untuk berlomba-lomba menjadi loba, bukan pula untuk pamer. Kegiatan tersebut adalah sebuah kearifan yang dapat dimaknakan dengan tindakan bersyukur, karena khanduri ureueng Aceh sering dikaitkan dengan anak yatim dan fakir miskin. Artinya, khanduri yang digelar untuk memberi makan anak yatim. Misalkan saja, ada khanduri trôn u blang, khanduri simula, khanduri laôt, dan khanduri lainnya, di setiap kegiatan tersebut selalu mengundang anak yatim. Dengan kata lain, ada esensi beramal di sini. Kegiatan itu digambarkan pula untuk bersyukur atas apa yang diperoleh atau yang akan diperoleh sehingga menjadi keharusan memberikan jatah orang lain semisal jatah anak yatim di dalamnya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt., bahwa dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain (fakir miskin dan anak yatim) di dalamnya. Karena itu, hampir dalam setiam kegiatan diadakan syukuran yang mengundang serta anak yatim, istilah Aceh “jôk bu aneuk yatim”.

Selain itu, kegiatan khanduri yang dilakukan adalah untuk mempererat tali silaturrahmi, apakah antarsesama petani (untuk khanduri blang), antarsesama nelayan (untuk khanduri laôti), dan antarsesama warga gampông untuk khanduri gampông semisal khanduri meulôd, khanduri tulak bala, khanduri meukawén, dan sebagainya. Lantas, apakah ini dikategorikan congok? Hanya karena kuantitas keseringan, karakter congok mesti melekat pada masyarakat Aceh? Hemat saya, Norman terlalu gegabah dalam hal menyimpulkan hal ini.

Tatacara Makan dalam Kenduri

Saya berani bertaruh, semua bangsa di dunia memiliki budaya kenduri, hanya saja mungkin mereka memberi nama dengan sebutan berbeda untuk kata khanduri. Mungkin ada yang menyebutnya dengan party (pesta), syukuran, arisan, dan lain-lain. Sedangkan dalam masyarakat Aceh yang tidak mengenal istilah-istilah itu, tetap menyebut kegiatan serupa dengan khanduri (dialek Aceh Barat: kanuri, Aceh Utara: kauri). Namun, ada yang membedakan tatacara makan dan menyambut tamu dalam acara khanduri di masing-masing wilayah/daerah. Hal ini sesuai tradisi dan kebiasaan suatu daerah. Bukankah lain padang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya?

Coba amati kembali tatacara khanduri dalam masyarakat Aceh di gampông-gampông. Bagi masyarakat Aceh, tamu adalah raja yang mesti dihormati. Demikian halnya dengan tamu, selalu menganggap tuan rumah sebagai “tuan” yang mesti harus disalami tangannya. Konkretnya begini, dalam kebiasaan khanduri di gampông-gampông, tamu selalu dilayani dengan hormat. Makanannya dihidang langsung oleh tuan rumah (atau orang yang sudah dipakai oleh tuan rumah/ awak dapu) sehingga kedatangan tamu hanya untuk makan dan sliaturrahmi. Hal ini juga belaki dalam khanduri blang atau khanduri laôt. Tamu akan diminta mengambil tempat yang sudah disediakan tanpa harus bersusah payah. Nasi dan lau-pauk akan diantar oleh mereka yang menjadi tuan rumah.

Untuk khanduri di rumah-rumah seperti khanduri meukawén, khanduri sunat rasul, dll., biasanya tamu dihidang pakai talam (baki). Di sini akan terlihat tamu yang sopan dan yang tidak. Misalkan, kepala ikan yang besar diletakkan di tengah talam. Bisanya, kepala ikan yang ditengah talam itu khusus diperuntukkan kepada teungku atau ahli agama atau orang yang dituakan. Kepala ikan tersebut tidak berani disentuh oleh anak-anak muda sebelum disentuh oleh yang tua. Yang tua pun, tidak langsung menungging kepala ikan tersebut untuk piringnya sendiri, melainkan hanya mencomot sedikit lalu membagikannya ke tamu di sampingnya. Bukankah ini budaya yang sopan dan saling berbagi? Apakah etika ini congok?

Demikian halnya dengan pembagian tamu, yang muda dan yang tua dipisah guna menghormati yang lebih berumur. Yang muda tidak pernah mencomot jatah hidangan orang tua karena ia sadar posisi.

Banyak etika lainnya dalam tatacara khanduri ureueng Aceh yang memperlihatkan betapa mereka sangat menjaga tatakrama dan sopan santun. Namun, coba lihat kenduri gaya barat yang sudah masuk ke dalam budaya Aceh, terutama di kota-kota. Kalau ada acara khanduri, kita tidak menemukan lagi hidangan seperti di gampông-gampông. Orang-orang kota mulai menggunakan pelayanan ala prasmanan atau dalam bahasa kita, “hidangan Prancis”. Mau nasi, teumok keudroe, mau paha ayam, tulang kambing, daging lembu, dan kerupuk, pun teumok keudroe (ambil sendiri). Inilah sebenarnya budaya congok. Sebagai tamu, dalam masyarakat Aceh, tidak seharusnya mengambil sendiri, karena tamu mesti dijamu. Namun, budaya kebaratan ala Prancis tersebut telah mengikis budaya khanduri sesungguhnya orang Aceh sehingga tamu dengan leluas teumok keudror. Bahkan, selesai makan, tamu tidak mesti lagi mengenal siapa tuan rumah. Yang penting, datang ke tempat kenduri, makan, minum, colok amplop (bisa jadi tidak usah), lantas pulang. Tak ada lagi “mat jaroe” dengan tuan rumah. Apakah ini lebih pantas disebut sebagai kebiasaan congok. Jika kebiasaan ini yang dimaksudkan Norman, mungkin kita memang sudah menjadi kaum yang congok. Namun, ingat, kebiasaan tamu yang “tidak sopan” ambil nasi dan lauk sendiri sesukanya ini bukan kebiasaan masyarakat Aceh, melainkan degradasi budaya dari barat. Maka siapakah yang congok?

Dimuat di Harian Aceh

Herman RN, mantan aktivis Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh.

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: