Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Prahara di Musim Depik

Cerpen Herman RN

man_depikHujan bercampur batu-batu putih kian lebat menghantam atap rumah-rumah penduduk di kampung yang terdapat di pinggiran Danau Laut Tawar. Ini pertanda musim dingin akan tiba dan “hujan batu” ini hanya ada di daerah Tanoh Gayo. Kebiasaan penduduk di daerah ini ketika musim dingin tiba adalah menyalakan tungku. Dengan tungku paling tidak dapat mengusir hawa dingin yang menusuk tulang sum-sum, yang berhembus dari hawa angin yang menyusup dari celah-delah daun kopi. Maka itu, tak ayal lagi tatkala musim dingin tiba, tungku akan diletakkan di tengah, mengambil alih semua fungsi ruang utama.

Musim yang membawa hawa dingin dari celah-celah daun pinus dan kopi gayo ini biasanya menandakan musim ikan depik (rosbora leptosoma) akan segera tiba. Ikan ini bentuknya kecil-kecil dan hanya terdapat di perairan Laut Tawar.

Sudah menjadi kebiasaan, ketika musim depik tiba, para nelayan tradisional di daerah dataran tinggi Gayo ini tidak pernah melewatkan waktunya dengan melaut malam hari. Mereka mulai mengusung galah dan jaring. Dengan perahu kayu, para nelayan kemudian mengarungi danau Laut Tawar. Keindahan danau ini pun bertambah-tambahlah saat lampu-lampu minyak yang terpancar dari biduk para nelayan pencari ikan depik bagaikan kerlap-kerlip bintang yang jatuh dan menari di atas permukaan air. Pemandangan itu pun, dari kejauhan persis seperti lilin-lilin di atas biduk kertas. Romantis.

Kebiasaan seperti itu tiap tahun pasti ada. Namun, tahun ini keindahan dan keramaian seperti itu terasa mulai pudar. Bukan tidak ada, tetapi hanya beberapa orang saja yang masih setia berkayuh sampan menarungi malam. Pasalnya, menurut cerita yang kudengar dari ine, orang yang telah melahirkanku, ada prahara dua tahun silam di kampung kami yang membuat orang-orang mulai enggan melaut, terutama malam hari.

“Malapetaka itu sempat menggegerkan kampung kita,” kata ine.

Cerita ine, ketika itu seperti biasa, hujan lebat. Musim dingin yang menjadi tanda musim depik menjelang disambut hangat masyarakat kampung. Para nelayan sibuk menyiapkan jaring-jaring dan jala ikannya. Namun, suatu malam hujan sangat lebat. Para nelayan mengurungkan niatnya melaut. Jangankan melaut, keluar rumah saja, mereka enggan, sebab cuaca memang sedang tak bersahabat. Suara riuh hujan batu menghantam atap rumah pun bagaikan bunyi senjata mesin.

Apa yang terjadi keeseokan harinya sungguh sangat menggegerkan. Seisi kampung dikejutkan dengan temuan sesosok mayat dalam sebuah perahu kayu. Posisi mayat dalam perahu itu tertelungkup. Sekujur tubuhnya biru seperti tak berdarah. Kedua matanya dicongkel dan meniggalkan bekas lembam di kelopak matanya. Perut mayat itu juga dicongkel sehingga ususnya bertaburan, berceceran dalam perahu. Persisi seperti bukan pekerjaan manusia.

Perahu itu ditemukan seorang nelayan di tengah danau ketika ia mencari ikan selepas subuh, tatkala hujan sudah mulai reda. Saat ditemukan, semua tubuh mayat itu terbalut dengan jaring ikan yang biasa digunakannya melat. Sosok itu kemudian diketahui bernama Aman Dine.

Kata ine, Aman Dine adalah salah seorang nelayan tradisional di kampung kami. Kendati seorang nelayan biasa yang hanya bermodalkan sampan kayu, kepiawaian Aman Dine dalam mencari ikan, terutama ikan depik, membuat ia dijuluki Pawang Depik. Semua masyarakat pun tahu, setiap Aman Dine melaut, ia tak pernah pulang dengan tangan kosong, betapa pun keadaan cauaca.

Akan tetapi, malam itu benar-benar naas bagi Aman Dine. Ia harus pulang dengan tanpa nyawa. Bahkan, ia harus menemui ajalnya secara mengenaskan. Inilah yang menjadi tanda tanya besar di benak orang-orang kampung, mengapa bisa seorang Aman Dine harus mengakhiri hidupnya seperti itu.

Istri Aman Dine, seraya bersebuku, mengatakan bahwa suaminya malam itu mencari depik dalam hujan lebat. Kata istri Aman Dine, suaminya begitu yakin malam itu Laut Tawar akan dibanjiri ikan depik. Bahkan, menurut suaminya, banyak ikan depik malam itu sebanyak rintik hujan yang jatuh ke permukaan laut. Karena itu, meskipun hujan deras, Aman Dine bersikeras tetap melaut. Dipersiapkanlah segala perlengkapan melautnya.

Sebelum pergi, Aman Dine sempat berpesar pada istrinya bahwa ia agak siangan baru pulang. Karena itulah, si istri tidak curiga apa-apa saat menyadari suaminya belum juga pulang saat mata hari sudah mulai menanjak ke puncak kepala.

“Lantas, apa penyebab kematian Aman Dine, Ine?” tanyaku pada ine sudah tak sabaran.

Ine menghentikan tubukan sirihnya sesaat. Sambil menelan ludahnya yang sdah bercampur dengan air sirih, ine menuturkan, “Menurut desas-desus yang berkembang dalam masyarakat, kematian Aman Dine merupakan salah satu peringatan Putri Hijau, penunggu Laut Tawar.”

Menurut ine, dari cerita yang didengarkan dalam masyarakat, beberapa nelayan pernah bermimpi mendengar suara memangil-manggil dari tengah Danau Laut Tawar. “Minta sedikit…minta sedikit…minta sedikit…” begitu bunyi suara tersebut.

Orang-orang kampung sepakar bahwa itu merupakan suara Putri Hijau yang sedang minta jatah kepada pada nelayan dari hasil tangkapannya. “Sudah beberapa nelayan bermimpi seperti itu, tapi tak seorang pun menggubris, meskipun mereka yakin itu suara Putri Hijau,” kata ine.

“Apakah ine juga percaya? Itu kan takhayul,” selaku.

“Hussy… jangan berkata seperti itu, nanti kau bisa celaka,” sergah ine. Kulihat matanya memancarkan kekhawatiran. Aku tahu, ine sedang khawatir kalau-kalau Putri Hijau mendengar kata-kataku tadi dan akan mencelakakanku.

“Sudah, pergi tidur sana! Nanti terbawa dalam mimpi,” kata ine lagi.

Antara percaya dan tidak terhadap kematian Aman Dine akibat ulah Putri Hijau, bulu kudukku tetap merinding mendengar cerita ine. Akhirnya, kututup pintu dan semua jendela rapat-rapat. Kukunci, kemudian aku beranjak ke ranjang mungil di pojok sebelah kiri ruang tamu. Di ranjang buatan tangan kokoh ama itulah aku memejamkan mata.

Seraya mataku terpejam, aku masih berpikir cerita ine. Apa benar kematian Aman Dine karena Putri Hijau tidak mendapatkan jatah dari hasil depik yang dipanen nelayan? Atau jangan-jangan ada orang lain di balik tragedi tersebut?

Sebagai mahasiswa Fakultas Syari’ah yang hampir menyelesaikan skripsi, aku tidak percaya begitu saja dengan keyakinan orang kampung terkait kematian Aman Dine. Aku menganggap itu semua takhayul. Lagi pula, sekarang ini di kampung kami, nyawa manusia memang sudah sebanding dengan nyawa ayam. Bahkan, di kampung tetanggaku, nyawa manusia lebih murah daripada nyawa ayam. Tetapi, aku juga tidak berasni menyimpulkan bahwa kematian Aman Dine akibat ulah manusia. Aku hanya yakin bahwa itu tidak mungkin karena ulah Putri Hijau, karena bagaiman rupa Putri Hijau, orang-orang sama sekali tidak pernah melihatnya. Orang-orang hanya percya bahwa Laut Tawar ditunggui Putri Hijau.

Ine : ibu (bahasa Gayo)

Bersebuku : tangisan meratap

Ama : ayah

Cerita ini dimuat di Koran Aceh Kita, edisi 19-25 September 2005.

Iklan

Filed under: Cerpen

2 Responses

  1. Saya ingin mencoba menulis sastra seperti pak herman. Tapi, saya belum berani menuangkannya seperti ente!

  2. lidahtinta berkata:

    Sastra itu modalnya sederhana, “KEBERANIAN”. Nah, kalau Pak Boy mau menulis sastra, harus berani seberaninya Pak Boy menulis berita kasus korupsi itu lho.. hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: