Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Curiga

Oleh : Herman RN

Dua hari lagi libur menjelang bulan suci Ramadhan tiba. Sudah menjadi kebiasaan para mahasiswa dan pelajar yang berasal dari kampung pasti akan mudik ke kampung halamannya. Sama halnya dengan saya yang bukan penduduk asli kota ini, saya juga berniat menjenguk nenek dan keluarga di kampung.

Ingat nenek, saya jadi ingat giginya yang sama rata dengan gusinya– nenek saya tak bergigi lagi, mungkin sama dengan nenek orang kebiasaan. Nenek saya sangat rajin menganyam tikar dari daun pandan, tulangnya yang keriput tak menjadi kendala baginya untuk dapat bekerja seperti layaknya orang yang masih muda. Tikar-tikar buatan itu tak pernah ia jual, Nenek lebih senang kalau tikar-tikar itu dipakai oleh anak cucunya sendiri, makanya setiap selesai selembar tikar, Nenek langsung membagikannya kepada yang belum dapat giliran. Inilah yang membuat saya bertambah kagum kepada Nenek.

Sudah dua tahun saya tak pernah lagi pulang ke kampung nenek, kampung halaman saya. Tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Di sana ada teman-teman kecil saya yang saya tinggalkan dengan berbagai kenangan. Ada kenangan yang menyakitkan, yang menanamkan dendam di hati saya. Seandainya saya tidak disekolahkan nenek, pasti saya akan menjadi orang yang selalu diliputi dendam, dan akan ikut ke hutan dengan beberapa orang teman belajar menggemgam senjata karena ayah saya harus menghembuskan napas terakhirnya di ujung senjata. Ya, sama seperti teman-teman saya yang kehilangan Ayah Ibu mereka, begitu juga saya, Ayah saya dibawa orang tak dikenal malam hari dan Ibu saya mati bunuh diri karena shock kehilangan Ayah. Seandainya saya tidak dibekali ilmu pendidikan, mungkin nasib saya seperti teman-teman yang harus menyusul ayahnya ke hutan.

Bagi saya, dua tahun bukan waktu yang singkat untuk tidak merindukan kampung halaman. Konon lagi hidup di rantau dengan belanja alakadarnya. Tapi apa hendak dikata, saya harus mewujudkan cita-cita saya dan cita-cita nenek. Nenek tak ingin saya serupa teman-teman. “Kamu harus menjadi orang.” Begitu kata nenek waktu itu.

Akantetapi ada suatu hal yang membuat saya enggan untuk pulang kampung. Hal ini berawal sejak tahun pertama saya kuliah di sini. Ketika itu saya pulang kampung sebentar karena saya mendengar kabar nenek sakit. Sesampainya saya di kampung ternyata berita orang hilang masih marak di kampung kami. Meski sudah dua tahun saya tinggalkan, kampung kami masih seperti dulu. Si Adi yang waktu itu juga pulang kampung didapati kabarnya hilang sebelum sampai di rumahnya. Inilah yang membuat saya takut melihat tanah tumpah darah saya sendiri, padahal saya sudah mempersiapkan ole-ole alakadarnya untuk nenek dan adik-adik sepupu saya. Tetapi saya memang harus berpikir kembali, atau saya akan menyusul Adi. Kalau hal ini terjadi dan menimpa saya pasti cita-cita nenek yang sudah bersusah payah menyekolahkan saya tak akan tercapai.

Begini ceritanya, si Adi, teman kecil saya yang rumahnya bertetangga kampung dengan saya. Sekarang tak diketahui lagi kabarnya. Menurut desas-desus yang kudengar dari orang-orang dan cerita nenek sendiri, Adi dicuri orang tak dikenal, karena ia dicurigai sebagai komplotan teroris.

Ketika itu, Adi pulang membawa tas yang besar, tentu saja dalam tasnya berisi ole-ole seperti yang ingin kubawa kalau jadi pulang nanti. Dan sebuah tas ransel yang berisi buku-buku tentang politik, karena ia memang kuliah di Fakultas Hukum. Kabarnya, Inilah yang membuat Adi tak pernah sampai di rumahnya, mencium tangan kedua orangtuanya, layaknya seorang anak pulang dari perantauan.

Karena rumah Adi memang agak jauh dari jalan raya, Bis yang ditumpanginya tak bisa mengantarkan hingga sampai ke rumah. Adi turun di persimpangan jalan setapak yang menuju rumahnya. Naas malam itu menimpa Adi, ketika ia sedang asyik menyeret tas bawaannya, ia dijegat oleh beberapa orang bersenjata. Ketika itu ada petugas ronda malam yang sempat melihat dan menyaksikan kejadian itu. Tetapi dua orang petugas itu tak berani berbuat apa-apa, karena ia juga takut akan menyusul nasib Adi. Di kampung kami suara orang biasa tak ada artinya waktu itu. “Lebih baik diam daripada kehilangan nyawa.” Begitu perinsip orang-orang kampung. Meski ia petugas ronda sekalipun, diam adalah lebih baik. Karena yang menugaskan mereka untuk jaga malam juga mereka yang bersenjata, katanya untuk keamanan kampung. Sayangnya kampung itu bukannya aman, melainkan penduduk semakin dikecam ketakutan. Sebab setiap malam masih ada saja yang hilang, padahal setiap sudut kampung sudah didirikan pos jaga. Begitu juga yang terjadi malam itu, saat kejadian itu menimpa Adi, mereka hanya mampu menutup mulut meski itu terjadi di depan mata.

“Sempat terjadi dialog antara Adi dan orang bersenjata itu.” Kata salah seorang petugas malam itu ketika bercerita di warung kopi. Semula orang itu meminta k-t-p Adi, setelah mengamatinya sejenak,

“Dari mana kamu?”

“Saya dari Banda Pak, saya mahasiswa.” Adi mengeluarkan k-t-m-nya sebelum diminta orang itu, karena ia tahu ujung pertanyaan mereka memang ke situ.

Orang-orang tak dikenal itu memeriksa tas dan semua bawaanya.

“Mahasiswa apa, bawaan sebanyak ini? Untuk apa? Itu, yang kamu bawa dalam tas itu apa?” Ujar orang itu mulai menginterogasi Adi.

“Pakaian sebanyak ini? Kamu pasti baru turun gunung!” yang lain menambahkan.

“Tidak Pak. Saya mahasiswa, rumah saya di ujung lorong itu, sekarang kami sedang libur Pak.” Adi mencoba membela diri.

“Buku-buku ini? Kamu jangan bohong! Kamu mau bermain politik.” Timpalnya lagi saat melihat buku-buku politik hukum pidana milik Adi.

“Tanpa menunggu waktu, orang-orang tak dikenal itu menyeret paksa Adi. Alasan mereka, Adi dicurigai karena membawa tas yang dalamnya berisi banyak pakaian yang bukan ukuran tubuhnya. Ia juga dicurigai karena membawa buku-buku politik. Tambahnya lagi, mahasiswa sekarang semuanya sering membuat keributan di sana-sini, demonstrasi sebentar-bentar, maka dia dianggapi berbahaya. Dicurigai bahwa Adi sedang dalam misi tertentu.” Begitu cerita yang kudapat di warung kopi.

Masih banyak hal yang membuat seseorang itu dicurigai di kampung saya. Mudah sekali mencurigai seseorang, konon lagi bawaanya yang banyak. Predikat mahasiswa, dan macam-macam lah, tidak boleh berambut gondrong, tidak boleh memakai baju warna hitam, itu semua sebagian kecil yang membuat orang dicurigai di kampung saya.

Mengingat semua ini, saya jadi berpikir kembali untuk melepaskan kerinduan terhadap kampung halaman, kepada kali kecil tempat saya berkejar-kejaran dulu sewaktu masih di bangku Sekolah Dasar, kepada Nenek belahan hidup saya. Saya benar-benar harus berpikir jika tak ingin menyusul Adi dan yang lain. Karena semua hal yang membuat orang dicurigai ada pada saya. Saya seorang mahasiswa, berambut gondrong, kebetulan saya memiliki postur atletik. Bukankah ini sangat gampang untuk menjadi ornag yang dicurigai?

Sementara itu bau buah kelapa yang di busukkan sudah dekat di hidung saya, pertanda nenek sudah siap dengan kuah pli-knya untuk menyambut kehadiran cucu kesayangannya. Karena nenek tahu dan sangat yakin bahwa keharuman kuah plik mampu mengalahkan bau mesiu. Makanya ia siapkan semua itu untuk menyambut kepulangan saya. Saya dapat merasakannya…

Darussalam, Ramadhan 1426H

Ket; Kuah plik: sayur dengan kelapa yang sudah

dibusukkan (khas Aceh)

Herman R.N,

Pegiat Kebudayaan di Banda Aceh.

Tulisannya tersebar di berbagai media.

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: