Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Senandung Perang di Negeri Damai

Oleh Herman RN

Konon katanya negeri yang pernah dicam sebagai tempat kumpulan sparatis ini sudah damai sejak ditandatangani kesepakatan damai di Helsinki 15 Agustus 2005 lalu. Semenjak perjanjian itu di negeri ini mulai bersenandung lagu damai melalui penampilan-penampilan berbagai bentuk kesenian daerah. Padahal, diasumsikan negeri ini takkan pernah damai.

Senandung damai yang penulis maksudkan juga bisa diartikan bebasnya masyarakat awam cang panah di warung kopi tanpa ada rasa takut seperti tiga empat tahun lalu. Senandung damai dalam warkah ini dapat pula diartikan dengan bebasnya manusia di daerah ini dari rasa takut ketika keluar malam hari, bebas mencari nafkah ke gunung atau ke lembah tanpa mendapat teguran dari makhluk bersenjata ketika dilihatnya orang-orang membawa parang atau cangkul. Semua ini penulis katakan sebagai senandung damai karena pada saat konflik semuanya bertolak belakang dengan pascaperjanjian.

Setelah perjanjian damai dilakukan oleh kedua belah pihak bertikai, kini tiba saatnya membangun negeri. Kedua belah pihak (GAM dan TNI/ Polri) diminta mematuhi perjanjian damai. Mematuhi perjanjian damai artinya tidak memancing kericuhan, apalagi sampai mengeluarkan bunyi senjata. Alangkah indahnya negeri sparatis ini tanpa bunyi senjata. Tentu semua pihak bernyanyi sukur walau tanpa tabuhan genderang. Namun, menurut amatan penulis senandung perang mulai menggema di negeri damai akhir-akhir ini.

Damai menurut hemat penulis tidak hanya membungkam bunyi senjata, menarik pasukan perang, dan berkibarnya sangsaka. Damai di sini bisa diartikan bebas menikmati hidup dan kehidupan, jauh dari resah dan kegalauan. Dan satu hal lagi, kata ‘damai’ tidak hanya milik parapengangkat senjata, tetapi damai selayaknya dapat diartikan dalam kehidupan masyarakat biasa. Apabila masyarakat sudah mendapatkan ketenteraman dalam hidup bermasyarakat, barulah makna damai sampai digampoengnya.

Tersebutlah sumber bantuan di negeri damai. Oleh karena sumber tersebut merupakan induknya penyalur bantuan, mereka menamakannya Buat Rakyat-Rakyat yang disingkat menjadi BRR. Dari kepanjangannya (Buat Rakyat-Rakyat) menjelaskan kalau lembaga itu semata-mata bekerja untuk rakyat. Merupakan suatu kewajaran jika kepuasan tidak dimiliki hati rakyat, rakyat melakukan protes. Hal ini sudah terlihat semenjak tahun pertama lembaga ini didirikan.

Demonstrasi manusia barak tahun lalu di depan gedung BRR itu adalah sebuah teguran bahwa hati rakyat terluka. Aksi protes dilakukan manusia barak yang nota benenya parakorban bencana alam merupakan sebuah peringatan agar rakyat diberikan kenyamanan menikmati hidup, salah satunya adalah didirikan rumah untuk korban.

Belum hilang diingatan kejadian November 2006 itu, kejadian baru muncul. Induk semang penyalur dana (BRR) mengadakan seminar internasional di hotel termegah di negeri damai tersebut. Kegiatan yang menyita dana senilai RP 1,7 miliyar itu juga mendapat protes dari masyarakat sipil. Pasalnya, masih banyak masyarakat membutuhkan rumah, tapi malah seminar yang diadakan. Bahkan rumah yang sudah diberikan pun masih banyak tidak layak huni. Hal ini seperti beberapa kampung yang diberitakan media meninggalkan rumah bantuan karena belum apa-apa tiang rumah sudah dimakan rayap.

Pedihnya hati rakyat ketika mendengar penjelasan tangan kanan raja pemberi bantuan yang memberi kesimpulan bahwa dana Rp 1,7M yang dialokasikan untuk seminar itu tidak seberapa. “Bagi Tuan barangkali tidak seberapa, tapi bagi rakyat, dana segitu sudah dapat membangun 30-an rumah layak huni,” ungkap salah seorang masyarakat yang ikut aksi di depan hotel Sweesbell.

Belum hilang di ingatan peristiwa aksi masyarakat sipil di depan Swess-belHotell, ‘orang barak’ kembali unjuk gigi di depan gedung induk semang pembagi dana. Namun, sayang mereka ditahan masuk oleh polisi yang notabenenya sebagai pengayom masyarakat. Meskipun mereka tak dapat masuk ke dalam pekarangan gedung, mereka telah membuktikan bahwa masyarakat sebenarnya di atas penguasa. Hanya saja, apakah penguasa mau di bawah mereka? Jika penguasa tidak mau mendengarkan rakyat lagi, niscaya perang kembali bersenandung di negeri ini.

Cerita di atas bukan sekedar ilustrasi dari coretan singkat ini, tapi sebuah kebenaran jika penulis berkata bahwa semua itu merupakan senandung perang di negeri damai. Seperti penulis katakan di atas, damai bukan hanya karena parapenyandang senjata meletakkan senjatanya, tetapi juga bisa dimulai oleh masyarakat biasa. Bahkan perang oleh masyarakat awam dapat lebih dahsyat daripada perang oleh tentara. Apalagi terjadi di negeri yang baru damai ini–sebuah negeri yang mereka menamakannya Aceh.

Di negeri Aceh, masyarakatnya menamakan diri mereka sebagai Ureueng Aceh. Sudah menjadi sipat dan tabiat Ureueng Aceh, tidak pernah mau menerima yang cilet-cilet. Mengapa masyarakat lebih memilih tinggal di tenda ketimbang rumah bantuan? Sebab belum sempat dihuni, rumah itu sudah menampakkan kehancuran. Jadi, daripada mati tertimpa tiang-tiang rumah, lebih baik memilih hidup di bawah tenda biru. Hal ini sesuai hadih maja, daripada juléng göt buta, daripada capiek göt patah, daripada brôk göt hana (daripada juling lebih baik buta, daripada pincang lebih baik patah, daripada jelek lebih baik tidak ada sama sekali).

Menurut hemat penulis, hadih maja di atas bisa dijadikan pandangan oleh Tuan-tuan pemberi bantuan atau Tuan pemegang kekuasaan. Amatan penulis senandung ija putéh ngoen sampôh darah, ija mirah ngoen sampôh gaki (kain putih untuk pengelap darah, kain merah untuk pengelap kaki) sudah mendayu. Hanya menanti genderang ditabuh. Andai genderang sudah ditabuh, niscaya perang tidak lagi sekedar senandung. Maka dimana makna sebuah perdamaian di negeri yang dikatakan sudah damai ini?

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: