Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

BIASA

Cerpen Herman RN

Aku baru saja tiba di kota ini. Sudah lama aku berencana kembali ke kota ini, tapi baru sekarang tercapai. Ini pun karena sekolah. Senang sekali rasanya aku dizinkan orangtua sekolah di Banda Aceh. Setelah bencana alam tiga tahun lalu, perkiraanku, kota Banda yang hancur tak mungkin dapat dibangun kembali dalam waktu sepuluh tahun sekalipun. Dugaanku ternyata salah. Sekarang Banda Aceh sudah kembali seperti dulu. Bahkan sudah banyak gedung mewah yang dulunya tidak ada, sekarang sudah dibangun. Bangunan-bangunan bertingkat berjejer di sepanjang jalan utama dan jalan nasional.

Sebelumnya aku memang pernah ke kota ini, tepatnya dua minggu setelah gelombang besar meluluhlantakkan kota ini. Waktu itu aku ikut teman-teman relawan dari Padang untuk membantu korban bencana dan konflik di Aceh. Sebulan kemudian aku harus kembali ke kotaku, Padang, karena aku akan mengikuti ujian kenaikan kelas. Setelah itu aku tak pernah lagi melihat Banda Aceh, kecuali di televisi. Aku masih ingat waktu itu aku baru kelas dua menengah pertama.

***

Aku masih di dalam angkot. Angkot di sini sedikit berbeda dengan angkot di kotaku. Di Banda Aceh mereka masih menggunakan angkot model zaman. Sebuah mobil yang mirip mobil pick-up yang diberi penutup atas dan samping. Penumpang di dalamnya duduk berhadap-hadapan, kecuali penumpang di sisi supir. Orang-orang sini menyebutnya labi-labi.

Aku sengaja memilih duduk di depan, bersebelahan dengan supir, agar aku lebih leluasa menikmati pemandangan kota Banda.

Labi-labi yang kunaiki dari terminal Stui tadi sekarang sudah berada di terminal Kedah. Terminal Kedah memang tempat berkumpulnya angkot dalam kota. Di terminal ini aku harus ganti angkot. Aku mencari angkot menuju Darussalam. Biasanya angkotnya bernomor satu. Aku lebih mudah mendapatkan angkotnya karena di depan angkot memang di tulis jurusan yang dilalui. Kunaiki Labi-labi hitam yang sisi-sisinya diberi gambar bendera Amerika dan bola. Barangkali pemilik angkot ini salah satu penggemar bola dan Amerika, pikirku. Aku memilih angkot jurusan Darussalam karena di sana nanti aku akan tinggal. Aku akan tinggal bersama dengan seorang teman kenalanku sewaktu jadi relawan dahulu. Namanya Dani.

“Bang, sampai ke simpang Tanjong kan?” tanyaku pada supir labi-labi yang hendak kunaiki.

“Ya, naik saja, di depan mesjid Kampus kan?”

Aku tahu, mesjid kampus yang dimaksud supir itu pasti mesjid milik Universitas Syiah Kuala, Perguruan Tinggi yang jadi idola di Aceh. Di depan mesjid Unsyiah itu memang ada jalan raya bersimpang empat. Orang-orang menamainya simpang Tanjong. Rumah Dani di simpang sebelah kiri. Aku masih ingat betul rumahnya. Semoga saja Dani ada di rumah. Aku sengaja tidak mengabari kedatanganku, karena aku hendak memberikan dia surprise.

Labi-labi yang kunaiki sekarang sudah berada di simpang lima. Kami berhenti di sini, karena lampu merah sedang meyala. Beberapa tangan menjulur ke depanku. Din telapak tangan mereka ada sudah berisi uang receh. Kupikir hal seperti ini biasa, di kota mana pun pasti ada peminta-peminta. Sesaat kemudian lampu hijau menyala, kami kembali melanjutkan perjalanan.

“Aku bukan relawan lagi, tapi aku minta kau sekarang yang jadi relawanku.” Ujarku sambil tersenyum kepada Dani sesampai di rumahnya.

“Jangan begitu. Rumahku rumahmu juga.” Kata Dani.

“Tapi, aku tidak hanya menumpang tinggal, masih banyak yang ingin aku minta tolong padamu. Aku kemari hendak mendaftar di MAN model. Kudengar madrasah itu sangat terkenal di kota ini. Mungkin aku akan tinggal bersamamu sampai pengumuman penerimaan siswa baru. Aku juga belum melihat-lihat keadaan Banda Aceh setelah dibangun kembali. Tadi waktu di labi-labi aku lihat banyak gedung yang dibangun, jalanan sudah mulus. Aku ingin sekali melihat-lihat keadaan kota ini. Kalau besok aku minta kau menemaniku, mau?”

“Kemana pun kau minta, akan kutemani. Kita kan sudah jadi saudara. Sama-sama Sumatra lagi kok.” Ujar Dani sambil tersenyum.

***

Seperti kata Dani, besoknya kuminta dia menemani aku ke mesjid Raya Baiturrahman, mesjid termegah di kota ini. Kabarnya, mesjid ini sangat bersejarah. Di halaman mesjid jenderal Belanda tewas sewaktu memimpin pertempuran terhadap mesjid Raya.

“Setiap orang yang baru datang ke Banda Aceh, belum sah jika belum mendatangi mesjid Raya.” Ujar Dani sesampainya di mesjid bertiang seribu itu.

“Ya, aku pernah dengar pameo itu.”

“Kau belum berpoto di sini kan? Poto di sini wajib lho.”

“O ya?!” mataku mendelik.

“Pameo juga.” Dani tersenyum.

Kami terus berjalan di halaman mesjid. Kami mengelilingi kolam ikan yang ada di halaman mesjid. Seorang lelaki berlari ke arahku. Sesampainya di hadapanku, lelaki tua bertongkat dari rotan itu melantunkan ayat-ayat suci sambil melentangkan telapak tangannya. Kuberikan selembar ribuan kepadanya.

“Alhamdulillah… Jazakallah…” ucap orang itu, kemudian pergi.

Baru beberapa langkah aku berjalan, seorang perempuan setengah baya menghadang jalanku dengan kursi rodanya. Dia menyodorkan timba kecil warna hijau ke hadapanku.

“Seudekah bacut.” Katanya.

Di dalam timba itu kulihat ada beberapa lembar uang ribuan dan beberapa receh seratusan. Dia menggoyang-goyang timba itu di hadapanku sehingga terdengar bunyi uang logam melompat-lompat dari dalam timba. Kuraba saku celana. Selembar uang ribuan kuletakkan dalam timba hijau miliknya. Kami berjalan lagi mengelilingi kolam ikan seukuran lapangan bola voli itu. Beberapa ekor ikan memantulkan cahaya dari dalam air kena sinar matahari.

“Apakah kita boleh menyentuh ikan-ikan ini?” tanyaku pada Dani. “Kelihatannya ikan-ikan ini jinak.”

“Kita hanya boleh melihat dari sebelah pagar ini. Melemparkan umpan pun tidak boleh, apalagi sampai menyentuh airnya.”

“Kenapa?”

“Dulu pernah terjadi, ikan-ikan di kolam ini banyak yang mati setelah ada orang yang melemparkan umpan ke dalam kolam. Gara-gara kejadian itu, semua pengunjung tidak diperkenankan lagi mendekati kolam ini, apalagi sampai menyentuh airnya.”

“Oooo….”

Ketika aku sedang asik melihat ikan-ikan Mas yang sedang meleok-leokkan ekornya di air bening itu, seorang anak perempuan menghampiriku. Anak itu sebaya adikku yang masih kelas dua sekolah dasar. Lengan bajunya robek. Gaun yang dikenakan mirip orang hamil itu lusuh dan kumal. Muka anak itu pun kelihatan hitam. Di bawah hidungnya sebekas hitam pudar masih lengket. Pasti itu bekas ingus, pikirku. Kasihan anak ini.

“Kak, bi peng seurebee. Kak, bi peng seuribee.” Anak itu mengulangi kalimatnya beberapa kali seraya melentangkan telapak tangannya.

Mata gadis cilik itu bercahaya, bening seperti tiada dosa. Aku teringat adiku. Oh, andai saja perempuan di hadapanku ini adikku… Aku segera kembali memasukkan tangan ke saku celana. Kuserahkan selembar uang ribuan ke padanya. Anak itu pun menghilang selepas menerima uang dariku, padahal aku hendak bertanya namanya, asalnya, masih sekolah atau tidak, orangtuanya di mana, dan…

Sekejap kemudian dua orang anak sudah berdiri di hadapanku, seorang lelaki dan seorang perempuan. Keduanya juga kumal dan lusuh. Keduanya menengadahkan telapak tangan padaku. Aku kembali menyerahkan uang ribuan pada mereka, masing-masing dapat selembar. Dani memandangku. Sorot matahya kelihatan kesal.

“Kau terlalu baik. Tak selamanya kau harus berbuat seperti itu.” Kata Dani selepas dua anak tadi menghilang dari hadapanku.

“Kasihan anak-anak itu. Jangan-jangan mereka salah satu korban tsunami.” Ujarku.

“Di sini semua orang korban. Polisi, pejabat, petani, tukang becak, dan gubernur sekalipun, jika dia di sini pada saat gelombang tsunami lalu, dia termasuk korban. Tapi perlu kau ketahui, Man, di sini juga banyak korban-korbanan.”

Sekejap kemudian selepas Dani berkata, serombongan anak-anak mengelilingiku. Di anatara mereka ada lelaki dan perempuan. Ada yang bawa timba, mangkok plastik, botol minuman mineral, dan berbagai jenis kaleng. Ada juga yang hanya tangan kosong. Semua mereka mengulurkan tangan dan mangkok-mangkoknya ke arahku. Suara mereka riuh sambil berucap, “Sedekah bacut. Bi peng seuribee.” Ada juga yang hanya mengeluarkan suara tanpa bunyi yang beraturan.

Aku melihat ke arah Dani. Dani tersenyum.

“Sudah kukatakan, tak selamanya yang kita anggap baik dan biasa itu harus kita lakukan.” Ujar Dani.

Aku memandang ke arah Dani, sirat mataku sengaja kuperlihatkan meminta pengertian darinya. Dani mendekati aku dan anak-anak itu.

“Maaf, adik-adik ya, kakak tidak punya uang receh.” Ujar Dani pada anak-anak itu.

“Tadi sama Intan kok Kakak kasih?” Salah seorang dari mereka mengeluarkan suara sambil menunjuk ke arah perempuan kumal yang kuberi sedekah tadi. Anak-anak lain membenarkan kata anak itu.

Aku mulai gagap. Aku memandang ke arah Dani sekali lagi. Keningku berkerut.

“Itu uang terakhir. Sekarang untuk ongkos labi-labi saja Kakak tak tahu lagi cari kemana. Kalian cari sedekah di tempat lain saja ya?”

Dani memegang beberapa anak itu di bahunya, lalu dengan lembut dia membalikkan badan anak-anak itu agar segera pergi. Aku hanya mengamatinya. Aku tahu Dani bohong mengatakan tidak ada uang lagi.

“Beginilah kehidupan di sini, Man. Semenjak musibah mahadahsyat menghancurkan kota ini, semuanya berantakan. Mesjid tidak lagi jadi tempat orang yang hendak shalat. Mesjid kebanggaan rakyat Aceh ini sekarang jadi tempat berkumpulnya parapengemis.” Ujar Dani setelah anak-anak tadi berlalu.

“Apakah anak-anak itu tidak sekolah?”

“Aku tidak tahu. Jangankan anak-anak, orang dewasa sehat sekalipun sekarang lebih memilih jadi pengemis daripada mencari pekerjaan yang lebih wajar. Semuanya karena bantuan.”

“Maksudmu, Dan?”

“Kau kan tahu, ketika pertama-tama kota kami dilanda musibah, bantuan datang dari belahan dunia. Kau sendiri kan salah satu relawan. Semua korban dapat jatah. Akhirnya orang-orang kebiasaan menerima bantuan, dan jadi malas mencari. Bayangkan saja, orang yang tinggal di bawah tenda setiap pagi dapat minum susu. Entah susu dari jepang, china, dan daerah lain. Kemudian roti dan indomie membanjiri dapur mereka. Mereka hanya tinggal di bawah tenda, terima bantuan, tiap bulan tanda tangan jatah hidup. Bukankah hidup jadi korban itu menyenangkan?” kata Dani. Penghujung kalimat, suaranya terdengar jengkel.

“Tapi sekarang kan Negara-negara yang memberi bantuan sudah banyak pulang kembali ke asalnya?”

“Itu dia masalahnya. Kebiasaan menerima sudah mendarah daging dalam tubuh mereka. Jadinya mereka malas mencari. Maunya dikasih melulu.” Suara Dani geram.

“Kasihan ya?” ujarku lemah.

“Jangan terlalu dikasihani, nanti mereka kemanjaan. Kau lihat sendiri kan tadi, satu dua orang kau beri uang seribu, lalu dia melapor ke teman-temannya, dan teman-temannya menyerbu kita. Itu akibat terlalu dikasihani.”

“Kita pulang yuk.”

Aku sengaja mengajak Dani segera pulang, karena kulihat raut wajahnya sangat menjengkelkan.

Kami naik labi-labi lagi. Di Simpang Lima labi-labi yang kami tumpangi berhenti. Lampu merah baru saja menyala. Mobil-mobil mulai berkumpul dari empat pesimpangan jalan, termasuk dari simpang yang hendak menuju ke Darussalam.

Seperti kemarin, berpasang tangan antri di jendela mobil-mobil yang berhenti. Dari sekian banyak mobil yang berhenti itu, ada Kijang, Toyota, Panter, Avanza, tak satu pun kaca mobil itu yang terbuka. Jendela berkaca hitam itu semua tertutup. Agaknya mereka sengaja menutup rapar-rapat kaca jendela mobilnya agar tak kelihatan oleh peminta-peminta.

Di depan, sebelah kanan labi-labi yang kunaiki, kulihat segerombolan anak-anak mengetok-ngetok kaca mobil sedan warna metalik. Jendela depan dan belakang sedan itu dipenuhi tangan-tangan mungil yang kumal. Mereka terus mengetok-ngetok kaca sedan itu, tapi tetap tak terbuka. Beberapa saat kemudian sedan itu semakin dikerumuni orang-orang. Ada yang sambil menggendong anak. Ada yang memegang tongkat. Ada yang diapah oleh temannnya. Ada yang membawa timba kecil, botol minuman yang telah kosong, batok kelapa, dan sejenisnya. Peminta-peminta yang tadi sedang di mobil lain pun kini berlari ke sedan itu. Kupastikan semua peminta sudah mengelilingi sedan itu.

“Dan, mengapa semua orang ke sedan itu? Kan masih banyak mobil lain di sini.” Tanyaku pada Dani yang kelihatannya tidak peduli dengan sedan dan peminta-peminta itu.

“Ah, biasa itu, Man.” Ujar Dani acuh tak acuh.

“Biasa?! Maksudmu?”

“Mereka meminta pada orang yang tepat.”

“Aku tidak mengerti, Dan.”

“Ya iyalah. Kalau mereka minta sama kamu, sama aku, sama saja mereka minta pada temannya sendiri. Tapi kalau pada orang di mobil itu, sudah wajar.”

“Karena orang itu naik sedan mengkilap? Begitu? Belum tentu kan orang itu orang kaya. Jangan-jangan dia bukan pemilik sedan pula.”

“Dia memang bukan pemilik sedan itu.”

“Jadi?”

“Sudahlah, aku bosan bicara tentang sedan dan orang itu. Memang sudah begini kehidupan di kota kami. Biasa itu. Kupikir di semua daerah pasti ada.”

Tiba-tiba terdengar suara gaduh. Aku melihat kembali ke arah peminta-peminta itu. Suara klakson dari sedan itu tidak dihiraukan parapeminta. Ternyata lampu hijau sudah menyala. Orang-orang masih mengerumuni sedan mengkilap itu.

Labi-labi yang kutumpangi perlahan berjalan. Aku masih melihat sedan yang dikerumuni parapeminta. Ketika mobil kami sudah sedikit di depan pun aku masih sempat melihat sedan itu. Perlahan sedan maju, tapi orang-orang di sekelilingnya masih mengusap-usap tangan mereka di jendela sedan. Terlihat olehku nomor polisi di sedan itu, BL 1 AL. Aku langsung menggoyang pundak Dani.

“Dan, nomor polisinya! Nomor polisinya!”

Dani hanya diam.

“Dan, plat sedan itu nomor satu, Dan!” kataku lagi.

“Aku sudah tahu. Sudah kukatakan mereka pantas meminta sama orang di dalam sedan itu. Mereka meminta hak mereka. Ah, biasa itu, Man.” Jawab Dani sambil bersandar di job mobil, lalu dia memejamkan matanya.

Aku diam. Mataku masih memandang ke sedan. Perlahan sedan itu semakin jauh tertinggal di belakang. Terlintas satu kata dalam benakku, kata-kata yang sering diulang Dani sejak pagi tadi. Ah, biasa.

Banda Aceh, Desember 2006.

Kosa kata Bahasa Aceh:

Seudekah bacut           : Sedekah sedikit.

Bi peng seuribee          : Minta uang seribu.

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: