Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sajak-sajak Unsyiah

puisi-puisi Herman RN

Unsyiah 1

Malam, sekira embun masih semangat berdatangan dari sebalik awan

Kami kehilangan timba

Saat gedung pendidikan kebanggaan diamuk merak merah

Di mana Rendra?

Subuh, sekira orang-orang sedang menikmati sahur

Kami tak selera puasa

Gedung putih kebanggaan rakyat kami sudah dimakan gelinjang bara

Kami hendak mengadu pada

Syeikh Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al Fanshury As Singkily

Nisannya pun tapi kami tak lagi tanda

Darussalam, 11 Ramadhan 1429 H.

Unsyiah 2

subuh

merah

pengap

bising

air

keringat

api

pecah

asap

o…

unsyiah

api membakar puncakmu!

Darussalam, 11 Ramadhan 1429 H.
Unsyiah 3

Ayam belum berkokok

Jingga di puncak Unsyiah

Kala itu, subuh masih di barat

Orang-orang Darussalam sudah terjaga dari lelap

Memang bulan sedang puasa

Tapi sahur masih di pucak pengab

Entah siapa melepas merak

Sayapnya merekah di perabungan Unsyiah

Orang-orang Darussalam itu meloncat-loncat

Berdiri rapat tengadah muka

Lihat! Semakin besar semakin merah

Semakin ramai orang tengadah

Sedang pemadam kebakaran

Selalu datang setelah cinta kayu kepada arang tersampaikan

Setelah embun menerima cinta langit yang dititipkan lewat raja siang

Banda Aceh, September 2008

Antara Pentagon dan Unsyiah

Selasa, sebelas September 2001

Letusan di puncak Pentagon

Katanya, sengaja dibom

Saat yang sama, WTC terbakar

Katanya, pesawat sengaja menabrak

Sebuah bom bunuh diri.

Kamis, sebelas September 2008

Meletuslah perabung Unsyiah

Entah juga bagian dari harakiri

Masih di angka sebelas sebulan di muka

Seorang lelaki ditua menjenguk kota raja

Tapi ia lupa singgah di Unsyiah

Walau ia mengaku wali dari penduduk Unsyiah

Banda Aceh, September-Oktober 2008

Unsyiah 4

Rendra

Kalau kaumasih punya waktu sekali saja sebelum mati

Datanglah ke Aceh jenguklah Unsyiah

Toreskan puisimu seperti dulu

Bukan di prasasti pondasi perdana

Tapi di sisa kayu yang masih berwujud bara

Lekaslah sebelum ia menjadi arang

Atau diuai angin menjadi abu

Besok pun, kami masih berpuasa

Unsyiah, 11 September 2008

Iklan

Filed under: Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: