Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Dala-é

Cerpen Herman RN

Sungguh mereka sekelompok pemuda yang beruntung. Beruntung mempunyai suara yang sangat merdu menghantam belenggu si nyamuk serdadu. Suara sekelompok pemuda itu, mendayu mengalahkan gaung serdadu nyamuk. Kelompok pemuda dan nyamuk yang bergeombol serupa serdadu itu kulihat berada sama di meunasah gampông.

Semula aku heran, apa yang mereka tukikkan di alat pengeras suara itu, di menasah pula? Lambat laun kumengerti, ternyata itu zikir, kendati mereka bukan menyebutkan zikir. Mereka yang menggoyangkan kepalanya sekali ke kiri dan sekali kekanan, kadang diikuti hentak dada dan perutnya, itu mengatakan dirinya sedang melakukan dala-é.

Rasa penasaran membuat aku menghampiri mereka. Ketika itu kuhitung jumlah mereka ada sebelas. Kitab yang bertuliskan bahasa arab di depan mereka dibacanya dengan irama yang sangat cepat. Sangat cepat, tapi berirama. Jika kukatakan irama nasyid yang sering dibawakan orang-orang di TV atau kaset, ini bukan, jelas beda. Kukatakan irama gambus, juga bukan.  Aku tak tahu darimana mereka mendapatkan irama semacam ini. Irama yang begitu cepat tapi jelas letak dan susunan maqharijul hurufnya. Jika kukatakan ini irama tartil yang sering diperlombakan dalam Musabaqah, juga tidak bisa dikatakan demikian. Kelompok pemuda ini sangat cepat melafalkan huruf-huruf arab itu tanpa ada satu pun yang tertinggal. Meski secepat itu mereka bawakan, setiap huruf yang mereka lafalkan masih jelas susunannya. Sungguh, ini keajaiban zikir.

“Beginilah salah satu piasan meulôd di sini, di kampung kami,” ujar salah seorang dari mereka ketika aku menghampiri.

Keperhatikan kembali mereka. Cara duduknya yang melingkar, goyang kepalanya, sungguh terlihat mereka menikmatinya. Sentakan demi sentakan suara mereka menderu. Mengalahkan suara jengkrik malam. Kadang juga sesekali diselipi dendang dan syair-syair bahasa Aceh. Syair Aceh yang iramanya meuantôk itu sungguh sangat serasi dengan henatakan lantunan ayat-ayat suci yang mereka tukikkan.

Dala-é dan piasan meulôd, membuat aku terpana. Sangat halus di pendengaran meski kelihatan seperti bentakan. Terkadang aku larut dalam suara mereka. Aku yang menonton mereka seolah terlarut ikut main bersama mereka, mengolengkan kepala ke kiri dan kekanan.

“Ah, seperi mantra saja,” lirihku.

“Apa? Kau bilang ayat Tuhan sebagai mantra?!” salah seorang dari mereka menghardikku.

Aku diam. Aku tahu yang bicara itu adalah pemimpin mereka. Kemudian aku di suguhkan sebuah kitab mungil yang mereka baca itu.

“Coba kau lihat, apakah ini mantra?”

Aku mengamati tulisan-tulisan arab itu. Ada yang dikotak-kotakkan. Ada yang digarisbawahi, ada juga yang ditulis diagonal di sudut-sudut lembar kertasnya. Semua dalam bahasa arab. “Ini kitab barzanzi,” katanya.

Aku mencoba mengeja. Jelas saja aku bisa mengerti tulisan itu, tak ubahnya seperti yang ada dalam Alquran. Aku bisa membacanya sebab aku juga pernah diajarkan kakek mengaji sewaktu kecil dulu. Belum habis aku membacanya, aku kembalikan kitab itu kepada pemimpin mereka seraya mengakui jika itu bukan mantra, tapi ayat Allah.

“Lantas mengapa kalian mebacanya seperti itu? Terlalu cepat dan terkesan menghardik Tuhan?” tanyaku kemudian.

“Inilah dala’é. Jika di daerah lain ada yang menyebutnya salawat, ini tak ubah dengan salawat. Semua yang ada dalam kitab ini adalah firman. Jika pun ada yang kami bawakan dalam bahasa Aceh, itu adalah nasihat-nasihat. Sama saja seperti salawat atau nasyid. Hanya saja, kami tidak memakai alat musik, karena ini semua adalah zikir. Zikir yang disenandungkan,” jelas pemimpin mereka panjang lebar.

Bahagia sekali mereka mempunyai suara-suara itu, pikirku. Piasan meulôd dan dala-é. Ah, sungguh nikmat!

Aceh, Maret 2008.

Kosa kata:

dala’é : Zikir Aceh

Meunasah : Surau, Langgar, Mushalla.

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: