Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Don’t Let’s Me Go

Cerita Herman Pelangi

Baca PuisiDia tersudut. Didekapnya tangan ke dadanya. Matanya menatapku sesaat, lalu menunduk. Aku masih berdiri di mulut pintu sambil terus menatapnya. Hatimu keras seperti batu, tapi itulah yang membuat aku tambah sayang padamu. Bathinku.

“Jadi, sunguh kau tak akan memberikan HP-ku?” kataku seraya mendekati wajahnya.

“Tak akan!”

“Kembalikan HP-ku atau kucium kau.”

“Coba kalau berani!”

Gadis itu menatapku tajam seperti singa hendak menerkam. Aku mundur selangkah. Dia memegang pergelangan tangan kanannya. Keningnya berkerut, matanya memicing menahan sakit. Tangan itu tadi kupicit karena hendak merebut HP-ku.

“Kau cowok yang kasar. Sakit tahu?!” ujarnya seraya menyentakkan pergelangan tangan kanannya.

“Makanya, kembalikan HP-ku?”

“Tidak mau!”

“Ada SMS yang tak seharusnya kau tahu di situ.”

“SMS apa?”

“SMS dengan seorang cewek. Kata-katanya sangat mesra.”

Gadis diam. Dia tidak lagi memandangku. Di tangannya tak ada lagi HP yang kucari-cari. Aku tahu, dia pasti sudah menyimpan dalam saku celanya.

“Ok. Aku kalah. Silakan baca saja SMS itu.” Aku menjauh dari tempatnya duduk. Kudekati komputerku yang masih medendangkan ‘Yang terbaik untukmu’ milik Ungu. Suara Pasha begitu merdu, batinku.

Tiga belas menit kemudian aku kembali membuka suara. “Sudah kau baca?”

“Ini HP-mu.” Katanya sambil meletakkan Nokia 3530 di hadapanku.

“Sudah kau baca SMSnya?” tanyaku lagi.

“Tidak semua. Maaf, aku telah baca SMS-mu.”

“Apa reaksimu sekarang setelah membaca SMS itu?”

Gadis hanya diam. Direbutnya mous dari tanganku. Dia memilih lagu lain di layar komputer. Sekarang terdengar suara vocalis Ungu melantunkan Seperti yang dulu. Suaranya lembut mendayu di antara naspku yang masih terengah karena kelelahan main kejar-kejaran dengan Gadis.

“Bagaimana tanggapanmu sekarang?” tanyaku sekali lagi.

No komen.”

“Kau marah?”

No komen.”

“Gadis. Apakah kau marah padaku?”

No komen.”

“Gadis…” ucapku sembari menghela napas.

“Aku tak marah. Maaf telah membaca SMS-mu.”

Sekarang giliranku yang diam. Mengapa dia tak marah? Mengapa dia tak cemburu? Apakah dia tidak mencintaiku? Berarti aku salah selama ini karena telah mencintainya, orang yang sama sekali tidak mencintaiku.

Gadis meraih tas mungilnya. “Aku pulang ya. Maaf sudah membaca SMS-mu. Sebenarnya aku tak berhak merebut HP-mu. Aku bukan siapa-siapamu. Maaf ya?”

Gadis menghidupkan sepeda motornya. Dia berlalu dari halaman rumahku tanpa menoleh sejenak pun, padahal aku sangat menginginkan dia menoleh saat itu, walaupun sesaat.

Suara motornya terdengar seperti guntur di langit. Kurasakan kepergiannya serupa kilat menyambar. Dia menghilang meninggalkan asap kenalpot di mukaku.

Aku masih berdiri di depan pintu, menatap ke arah menghilangnya Gadis. Kukepal jemari tanganku seperti meregam puntung api. Di dadaku, degup jantung melebihi kecepatan orang yang berlari dikejar binatang buas. Perlahan pandanganku samar-samar. Kepalaku seperti ditusuk jarum. Tempatku berpijak seperti dipenuhi paku, dan aku tanpa alas kaki.

Remang-remang kudengar suara Ungu di komputerku yang masih menyala, lagu yang dipilih Gadis setelah merebut mous dari tanganku tadi.

Tiada guna kau kembali, mengisi ruang hati ini.

Semuanya telah berlalu, bersama lukaaaku.

Semuanya telah berakhir, antara hatiku dan hatimu.

Tak kan ada cinta. Seperti yang dulu.

Tiada guna kau berjanji untuk setia menemani

Hatiku yang telah terluka karena dusta…mu.

Semuanya telah berakhir, antara hatiku dan hatimu.

Tak kan ada cinta, seperti yang dulu.

Semuanya telah berakhir, antara diriku dan dirimu.

Tak kan ada rindu seperti ya dulu.

Semuanya telah berakhir. Ho..wow….

Semuanya telah berakhir, semuanya telah berakhir…

“Belum berakhir andai kau mengerti maksudku melarangmu membaca SMS itu. Belum berakhir andai kau memahami hatiku. Aku sengaja menyimpan SMS itu untukmu. Juga sengaja melarangmu membacanya. Agar aku tahu seperti apa hatimu untukku. Yang kuharapkan sebenarnya setelah kau baca SMS itu adalah kemarahanmu padaku, kecemburuanmu, bukan kepergianmu. Semuanya belum berakhir andai kau paham maksudku.” Batinku sebelum mematikan monitor komputer. Don’t let’s me go!

Istana Peulangi, 15 Desember 2006.

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: