Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pertapa Sakti di Kota Naga

oleh Herman RN

pertapaMobil merah yang kami tumpangi mulai menanjak. Jalan yang mendaki ditambah berbelok-belok sempat membuat perutku mual. Kadang juga decit rem yang diinjak supir bis membuat aku terhoyong ke muka belakang. Tekongan demi tekongan mulai terlewati. Perjalanan ini pun kurasa semakin jauh. Sebuah gunung telah terlewati, tapi jalan yang datar hanya sekejap kurasakan. Mobil kami kembali menanjaki jalan berbukit. Sebelah kanan jalan, gunung menjulang tampak semacam hampir tumbang. Hutan tandus berdiri di atasnya. Pohon-pohon kelapa dan pala saling berjajar diantara belukar akar. Warna tanah kapurnya yang kuning seperti mau melongsor ke bawah. Aku merasa nyeri melihat pemandangan ini. Tambah lagi ketika aku melihat ke sebelah kanan yang waktu itu kebetulan aku memang duduk dekat jendela sebelah kanan. Laut biru luas membentang tepat di bawah kami. Ombaknya yang biru seakan memanggilku untuk terjun. Aku semakin bergidik.

Ini awal perjalananku ke kota Naga. Banyak yang bilang kalau di kota itu penuh legenda. Terutama legenda seekor naga yang dibunuh seorang pertapa sakti yang kesohor itu. Begitulah cerita yang kudengar dari kakek, membuat kota ini sangat dikenal dengan sebutan kota Naga. Padahal, kota ini sebenarnya bernama Tapak Tuan, itu pun berdasarkan legenda pertapa sakti tadi yang meninggalkan sebelah tapaknya di kota itu.

Konon, pertapa sakti itu kembali keluar dari persembuanyiannya sehari sebelum banjir besar datang menghantam seluruh kota. Pertapa itu kembali menampakkan kesaktiannya sehingga kota itu bebas dari hantaman gelombang laut. Padahal, seluruh kota di propinsi ini babak belur, tapi kota itu masih utuh. Ya, katanya pertapa itu yang menyelamatkan orang-orang dan kota tersebut. Inilah yang membuat aku sangat tertarik berkunjung ke kota ini.

Aku sendiri berasal dari Medan. Meski masih banyak kota-kota kecil di Medan yang selamat dari amuk gelombang raya, aku tak mendapatkan cerita apa-apa dari kotaku. Tapi di kota ini? Wah…

Mobil mini yang kami tumpangi terus melaju. Terkadang aku menutup mata ketika mobil kami oleng ke kanan dan ke kiri. Sebelumnya kami telah melewati gunung kapur, jalan yang melintas dari Subussalam ke tapak Tuan. Namun, sunguh sangat berbeda. Meski sama-sama gunung yang tinggi, tapi jalan di gunung ini sangat membuat aku ketakutan. Tekongannya patah-patah. Jalannya lebih sempit dari jalan di gunung Kapur.

Aku tak tahu apakah penumpang lain merasakan kengerian yang kurasakan. Aku melihat mereka biasa-biasa saja. Mungkin mereka telah terbiasa dengan keadaan seperti ini. “Pak, apakah gunung ini masih panjang?” tanyaku pada penumpang di sebelah.

“Baru saja satu gunung yang kita lewati. Masih ada dua gunung besar lagi dan dua gunung kecil yang harus kita lalui.”

Aku terdiam. Keningku mengernyit mendengar penjelasan bapak itu.

“Kenapa, Nak? Kau hendak kemana?”

“Ah, nggak kenapa-napa, aku cuma sedikit pening, di kiri gunung di kanan laut. Aku hendak ke Kota Naga, masih jauh, Pak?”

“Setelah kita melewati tiga gunung yang kusebutkan tadi, kita baru sampai ke Kota Naga. Ya, jalan di gunung ini memang berbelok-belok, ini namanya gunung Kerambi. Kalau kau pernah mendengar lagu Aceh Selatan yang dibawakan Syahlotan, kau pasti sudah tau tentang gunung ini.”

Ya, aku pernah dengar nama dan lagu itu, batinku. Teryata apa yang dikatakan dalam lagu itu benar adanya. Jalanan di gunung kerambi berbelok-belok dan terjal, sedangkan di bawah membentang Selat Hindia.

“Oh ya, nampaknya kau bukan dari daerah sini.”

“Aku dari Medan, Pak.” Ujarku singkat.

“O…pantas saja kau merasa pening. Belum biasa. Nanti setelah biasa, kau akan merasakan kenikmatan perjalanan ini. Coba lihat ke bawah sana, indah bukan? Itu laut Hindia. Di bawah sana juga ada sebuah gua tempat Tuan Tapa bersemedi.”

“Jadi, cerita tentang pertapa sakti itu benar, Pak?” tanyaku penasaran dan penuh semangat.

“Tentu saja benar. Dahulu di sini pernah hidup sepasang naga. Naga itu mempunyai seorang putri yang jelita.” bapak tua itu mulai berkisah.

Suatu hari anak naga itu sedang mandi di laut. Ketika itu sebuah kapal pesiar melintas. Awak kapal dikejutkan dengan kehadiran seorang putri yang asyik mandi. Mereka tak tahu kalau orangtua si putri sepasang naga yang ada dalam gua. Kebetulan waktu itu sang naga sedang tidur pulas.

Singkat cerita, nakhoda kapal memerintahkan anak buahnya menangkap putri itu dengan hati-hati, niatnya hendak dijadikan istrinya. Ketika mereka mendekat, baru sadar jika dekat putri mandi itu ada gua yang dihuni naga tidur. Dengan cepat mereka melarikan putri yang tengah asik mandi tadi.

Merasa dirinya dicuri, sang putri menjerit. Jeritannya sempat didengar induknya. Spontan saja naga terbangun dari tidurnya. Dan ketika di dapatinya putrinya tak ada lagi di sampingnya, naga ini ke luar dari dalam gua.

Sesampainya di luar, naga masih sempat melihat sebuah kapal. Dari kapal itu naga mendengar jeritan putrinya. Menyadari putrinya diculik, naga mengamuk, mengejar kapal. Dia menghempaskan ekornya ke kiri dan ke kanan. Bunyi hempasan ekor naga dan gelombang laut yang semakin besar akibat hempasannya, membuat seorang pertapa yang sudah bertahun-tahun di salam gua terjaga dari semedinya.

Pertapa ini sangat sakti. Badannya besar melebihi manusia biasa. Dia  mempunyai telapak yang juga sangat besar, layak kita sebut raksasa. Tapaknya masih ada dekat gua pertapaanya, itu adalah langkahnya yang pertama ketika turun gua, sehingga meninggalkan bekas di tempat itu. Karena itulah kota ini dikatakan orang Tapak Tuan atau kota Naga.

Pertapa itu menggenggam sebuah tongkat di tangannya. Ia mengejar naga yang mengamuk itu dan melibasnya dengan tongkatnya. Hingga kepala naga itu terpental. Konon hati naga itu menjadi batu, yang sekarang menjadi nama sebuah kampung yang dikenal orang dengan sebuatan Batu Hitam. Dan darahnya diabadikan menjadi nama sebuah kampung juga, Batu Merah. Kini kampung-kampung itu masih ada, sebentar lagi juga kita akan sampai di Batu Hitam.

Aku mengangguk mendengar semua penjelasan bapak itu. “Apakah pertapa sakti itu pernah keluar lagi dari pertapaannya setelah kejadian itu?” tanyaku kemudian.

“Ya, pertapa itu yang kini disebut orang sebagai Tuan Tapa pernah keluar lagi. Tepatnya sehari sebelum air laut naik.”

“Apakah itu benar?”

“Semua orang mungkin tak percaya, tapi ada saksi mata yang melihatnya.” Bapak itu berusaha meyakinkanku.

“Suatu siang, sehari sebelum banjir datang, pertapa itu ke luar dari guanya. Dia berdoa di pinggir pantai. Sementara itu di tengah laut, tiga orang berpakaian serba putih merentangkan tangan. Menurut cerita tetua di sini, mereka adalah kawan-kawan si Tuan Tapa. Mereka menahan air laut agar tidak naik ke darat. Walhasil, cerita itu dibenarkan semua orang, sebab benar adanya, kota kecil yang terdapat dipinggir laut ini selamat dari amuk gelombang. Padahal, banyak yang mengira kalau kota ini akan karam, melihat ibu kota propinsi saja yang jauh dari laut bisa hancur. Tapi itulah kenyataan di sini, kota ini selamat.”

Rasa takjub dan kurang percaya merasuk di dadaku, menjadi satu. Akan tetapi, aku hanya diam. Aku mengamati wajah bapak yang bercerita itu. Wajah itu menggambarkan keseriusan. Kemudian aku kembali mengalihkan pandangan ke arah laut. Kuamati riak gelombang biru yang tenang itu sambil menyandarkan pundakku ke sandaran job.

Rasa mual yang tadi hampir saja ke luar, kembali masuk ke perutku setelah mendengar cerita bapak di sampingku ini. Perlahan kubayangkan semua yang kudengar tadi sambil memejamkan mata. Aku membayangkan, andai saja pertapa sakti itu ada di Banda, pasti air laut takkan sampai menenggelamkan ibu kota propinsi serambi Mekah. Andai pertapa itu ada di kotaku…

Aceh, 2006.

Legenda Pertapa Sakti dan Naga memang ada di Tapak Tuan

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: