Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

KILOMETER TIGA LIMA YANG HILANG

oleh: Herman R N

gunung lampahanHampir tujuh tahun, aku tak menyangka bisa melihat kembali desa kecil yang kutinggalkan dulu. Tentunya banyak kenangan yang hampir terlupakan. Andai saja aku tak pernah mampir lagi di desa ini…? Syukurku pada Allah swt. walau hanya sebentar aku masih diizinkan menjenguknya. Sebuah tempat disaat aku mereguk hari kanak-kanakku. Tempat yang sekarang ini berubah drastis setelah tujuh tahun lalu.

Ya, setahun kurang sewindu aku tak menginjakkan kaki di tempat ini. Kini aku hadir kembali di sini. Aku masih dapat mencium bau buah kemiri di kiri kanan jalan yang kulalaui. Masih bisa kubedakan buah kemiri yang masih basah (mentah) dengan kemiri yang sudah kering. Karena memang ini pekerjaanku sewaktu kecil dahulu untuk mencari jajan sekolah. Desir darah pun mengalir kencang sewaktu aku baru saja memasuki kawasan Kilometer Tiga Lima. Dari balik akar-akar yang melilit pintu gerbang ucapan selamat datang itu aku masih dapat menangkap sebuah kalimat yang kurang sempurna urutan kata-katanya, “S-E-I-/-M-A-T- D-A-I-A-N-G”.

Setahuku, memang desa ini belum ada nama yang menunjukkan identitas suatu kampung layaknya kampung-kampung lain. Aku dan semua orang hanya menyebutnya dengan ‘Kilometer Tiga Lima’, mungkin karena letaknya yang hanya tiga puluh lima Kilometer dari kota Bireuen, Aceh jeumpa. Dan desa ini merupakan perbatasan antara Bireuen dan Takengon.

Dahulu desa ini sangat ramai dihuni penduduk, meski dominant bukan penduduk asli. Karena memang penghuni desa Kilometer Tiga Lima pada umumnya adalah orang-orang yang merantau mengadu nasib. Seperti kami–aku dan keluargaku, adalah perantau yang dahulu berasal dari sebuah desa di sebelah selatan Aceh. Ketika kecil, aku dibawa orangtua merantau ke tempat ini dan di sini aku mendapatkan teman-teman kecil dan pengalaman hidup masa kecil. Sayangnya aku hanya dapat mengecap bangku sekolah sampai kelas empat. Aku dijemput Nenek dan disekolahkan di kampung halamanku hingga sekarang akhirnya aku dapat merasakan nikmatnya bangku Kuliah.

Setelah sekian lama, baru kali ini aku dapat merasakan kembali sejuknya angin Tiga Lima ini, angin yang berehembus dari celah daun kopi dan kemiri dataran tinggi gayo.

Letaknya yang hanya di sepanjang pinggiran jalan, membuat orang berpikir kalau kampung itu sempit. Padahal tidak seperti itu keadaannya, karena sebelah dalam, (Pantanlah- sekarang jadi Pante Peusangan) juga merupakan perkampungan yang juga masih satu kewilayan dengan desa Tiga Lima. Memang daerah sana lebih luas perkebunan dari pada perkampungannya. Itu karena tanah Pantanlah memang baik digunakan buat bercocok tanam. Sementara sebelah kiri jalan yang keadaannya perbukitan itu juga merupakan wilayah perkebunan penduduk. Ada yang berkebun kemiri, cabai, kopi, serai wangi, dan tanaman palawija lain. Meski demikian, Tiga Lima kelihatan sperti kota kecil nan indah. Ketika malam tiba, lampu-lampu neon di sepanjang jalan berjejer menerangi malam bagai ribuan kunang-kunang ketika dilihat dari kejauhan. Namun aku benar-benar terkejut ketika menyaksikannya bulan September 2005 lalu.

Kukira kehancuran Desa itu hanya isue belaka yang dilebih-lebihkan oleh mulut sekumpulan orang. Tetapi saat kusaksikan dengan mataku sendiri, aku baru yakin, telah hilang aura Kilometer Tiga Lima. Semua pandanganku ditutup belukar batang Sangee yang memanjati setiap bekas-bekas bangunan di situ.

Dahulu di Desa ini ada sebuah POS Pajak Distribusi yang besar dan maju. POS ini sangat dikenal orang-orang, baik yang di Takengon maupun di bireuen. Tak ayyal bagi seseorang yang baru saja memasuki kawasan desa Tiga Lima, jika ia hendak turun di desa ini, pasti kondektur Bis atau Bus akan bertanya, “pos?”. Itu bearti POS di sini bukan hanya menjadi tempat pemeriksaan mobil, tetapi juga sudah menjadi terminal pinggiran jalan di desa itu. POS ini pula yang menjadi salah satu penyebab kemajuan Desa. Apalagi ketika malam libur atau malam akhir perkan, sudah tentu POS ini menggambarkan sebuah pusat kota yang penuh hiburan dan keramaian. Penduduk tetangga, dari Kilometer Tiga Enam, Tiga Tujuh, Tiga Delapan, banyak yang turun ke Pos buat bermalam minggu. Begitu juga halnya dengan penduduk Kilometer Tiga Tiga sampai Tiga Empat. Mereka sering main ke Tiga Lima.

Sekarang POS itu hanya tinggal kenangan. Sisa-sisa pembakaran masih dapat dilihat dari celah-celah Ilalang dan akar-akar yang melilit di pondasi tembok POS. menurut kabar burung yang kudengar, POS itu dibakar oleh orang yang menamakan dirinya Orang Tak Dikenal, (maklum, salah satu terkenbalnya Aceh memang dikenal dengan Orang-orang tak Dikenalnya).

Di sinilah awal runtuhnya kejayaan desa Kilometer Tiga lima. Hilanglah sudah pengunjung ke Desa itu, dan para penduduk pun mulai mengungsi mencari tempat yang lebih aman, bahkan ada yang pulang ke Kampung halamannya. Ibuku saja harus mengungsi berpindah-pindah tempat. Maka, Benarlah kata orang, kampung Tiga Lima tak ubahnya ‘kampung mati’ sekarang ini.

Kenapa nekad sekali aku menyetujui kata orang kalau kampung ini mati? Sebab bukan hanya POS itu yang dilahap api, hampir semua rumah penduduk hanya tinggal pondasi. Dan sejauh mata memandang hanya semak belukar yang terlebih dahulu menghalangi mata. Bahkan sebuah Instansi Pemerintah di bidang Pendidikan, Sekolah Dasar yang dahulu pernah aku duduki hingga kelas empat, juga turut menjadi makanan Ilalang. Maksudku ilalang memakannya setelah sisa dimakan si jago merah. Sadis, sekolah pun ikut dibakar. Dimana letak kebanggaan rakyat Aceh? Di siapa yang pintar menghidupkan korek Api?

Aku terus berjalan sambil melirik kiri kanan. Ketika baru saja selesai melewati tekongan 45o, jantungku berdegup kencang. Ada sesuatu yang membuat hati memaki, dan kaki menggigl. Mataku memandang tajam lurus ke arah sebuah Rumah tembok putih. Di depan rumah ada batang-batang kayu yang dilintang menjadi benteng pertahanan. Itu tidak layak lagi disebut sebuah rumah, rumah itu sudah menjadi sebuah POS yang dihuni segenap aparatur Negara yang menyebut dirinya dengan TNI.

Aku sangat kenal betul corak luar-dalam rumah itu. Ukiran biru kerawang gayo yang dulu pernah dibayar ayahku untuk membuatnya dengan mengeluarkan uang ratusan ribu tidak tampak lagi. Sekarang rumah itu sudah dimodis sedemikian rupa. Kemana pergi terasnya? Rumah ini dulu memiliki teras. Aku tahu betul, karena aku pernah menghuninya dengan Ayah, Ibu, Kakak, dan seorang Adik yang nakal.

Kenapa aku banyak tahu tentang rumah yang jadi pos Tentara itu? Karena  dulu ini adalah rumahku, tempat aku mendengar panggilan ‘sayang’ dan tangis bayi kecil yang sekarang sudah 10 Tahun. Tapi sekarang, aura itu kuyakin tidak ada lagi. Ketika pagi menjelang hanya ada suara kokang senjata yang dibersihkan dan denting Gitar yang diiringi gelak tawa penuh ‘kemengan’. Dengan apa harus kuungkapkan perasaanku melihat rumah yang sudah hancur ini?

Rumah ini dahulu dibangun Ayahku dengan cucuran keringat. Sekarang mereka dengan mudah menjual kayu-kayu, papan, atau seng atap rumah ini. Berita ini kudapat dari orang-orang di Kilometer Tiga Tiga. Kayu-kayu itu dijual, dan uangnya…? Entahlah.

Rumah ini dahulu cukup dengan warna putih yang memperlihatkan kebersihan, tidak ada coretan hijau atau sebagainya seperti sekarang. Tak ada gambar senjata atau baret. Dulu rumah ini bersih. Tapi aku tak berani berkata kepada mereka kalau yang mereka duduki itu adalah rumahku. Karena mereka mempunyai ‘telunjuk’ panjang yang dapat mengeluarkan letusan itu. Aku takut ‘telunjuk’ itu. Karena aku juga tak mau seperti yang menimpa ibuku. Ketika itu Ibu hendak mengambil buah pinang yang sudah tua di pinggir rumah itu, seenaknya saja mereka berkata bahwa itu adalah pinang mereka. Bahkan sang Komandan sempat mengancam akan mengambil golok jika Ibu bersikeras memetik pinang itu. Padahal jelas-jelas kebun pinang di kiri rumah itu merupakan tanaman yang ditanam Ayah semasa masih di Desa ini.

Mendengar cerita ibu seperti itu, ingin rasanya aku membalas perkataan orang itu. Tapi aku tak tahu Allah mengizinkannya atau tidak. Yang jelas bayangan orang yang mengancam ibuku dengan senjata itu masih jelas di memori.

Apabila kita teulusuri terus desa ini, sangat masih banyak cerita-cerita dan kenangan lama yang manis dan pahit. Namun sangat butuh waktu dan kesabaran dalam menuturkannya.

Sekarang, kudengar,  desa Tiga Lima bukan lagi kecamatan Timang Gajah, (Bener Meriah). Tetapi Tiga Lima dan Pante Peusangan masuk Wilayah Bireuen, dalam kecamatan Juli. Begitu berita yang kudapat dari salah seorang anggota DPRD Bireuen (aku lupa namanya) yang sedang memperjuangkan nasib Tiga Lima dan Orang-orangnya yang sudah berpencar. Aku hanya bisa mendoakan, Bapak.

Sebelum Kampung ini benar-benar hilang dari auranya, aku menuliskannya sebagai sebuah kenang-kenangan untuk mengingat sesuatu yang hampir hilang dari ingatan. Walaupun kelak jika memang Tiga Lima kembali seperti semula, anggap saja tulisanku ini sebagai bukti sejarah bahwa di Tiga Lima pernah terjadi ‘kehampaan’. Dan ini hanya sebagian kecil yang masih dapat dituturkan. Kuyakin di sana masih ada cerita yang lebih menarik, (mungkin butuh keberanian menceritakannya).

Aku persembahkan tulisan ini buat Teman-teman dan Peri kecilku yang pernah sebangku denganku di sekolah yang terbakar itu. “Semoga kalian masih ingat Meunasah Tua tempat kita bermain dahulu”. Untuk yang sekarang tinggal di rumahku, “Semoga kalian kelak kembalikan rumah kami”. Juga buat kedua Orangtuku, “Yang milik kita takkan kemana, yang milik Allah kembali kepada Allah”.

Oktober 2005

Herman R N, Lahir di Aceh Selatan, 20 April 1983. Pernah tinggal lama di Kilometer Tiga Lima, Takengon (sekarang Bener Meriah). Tulisan ini sudah dibukukan dalam antologi bersama “Kampong dalam Goa” (Komunitas Tikar Pandan, 2006). Saya muat di blog ini kembali sebagai dedikasi kepada sahabat-sahabat lama saya, semoga kalian membacanya, tentang meunasah tua di ujung tekongan jalan.

Iklan

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: