Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menabur Mimpi di Masa Depan

oleh Herman RN

Seorang anak manusia mempunyai mimpi adalah sebuah kewajaran. Untuk menggapai mimpi tersebut sangat dibutuhkan visi. Demi tercapainya visi diperlukan aksi. Melihat wajah Indonesia sekarang ini menggantung mimpi terkadang terlalu naif, tetapi itu harus dilakukan demi tercapainya sebuah perubahan.

Kata ‘mimpi’ adalah sebuah abstrak yang sangat membutuhkan visi dan aksi untuk mencapainya. Indonesia sebagai negara yang sedang membangun adalah baik menggantung mimpi setinggi-tingginya. Bak kata orang bijak “gantunglah cita-cita setinggi langit.” Namun demikian, sebuah mimpi takkan ada artinya tanpa visi dan aksi. Oleh karena itu, saya mengharapkan dalam mimpi-mipi yang saya tawarkan melalui tulisan ini pemerintah dapat mempunyai visi untuk melakukan aksi demi tercapainya mimpi kita.

Saya optimis negara ini akan dapat menggapai mimpinya, yakni menjadi negara maju dan berkembang dari segala bidang selama memperhatikan segala bidang tersebut. Di sini saya ingin mengambil contoh bidang budaya.

Budaya tidak dapat kita lepaskan dari pembangunan karena identitas suatu bangsa bukan hanya terletak pada bahasa, juga adat dan budayanya. Mengapa demikian? Sebab bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, yaitu kebudayaan turun temurun. Koendjaraningrat dalam bukunya menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk budaya. Dapat kita artikan secara logika, yang tidak berbudaya berarti bukan manusia. Demikian makna secara kasarnya meskipun Koendjaraningrat tidak bermaksud seperti itu.

Pemerintah dalam membangun negara ini cenderung melupakan hal ini (budaya). Contoh kasus saya sebutkan pembagunan Aceh pascagempa dan tsunami. Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD-Nias bisa dikatakan sebagai induknya perubahan dan pembangunan di Aceh dan Nias. Banyak dana mengalir dari dan ke BRR, namun pembangunan yang tampak hanya fisiknya. Maka, cukup sudah untuk BRR!

Menurut hemat saya, pemerintah menilai sebuah kemajuan pembangunan terletak pada pembangunan fisik seperti jalan dan rumah-rumah saja. Akhirnya budaya cenderung dilupakan karena budaya sifatnya abstrak. Oleh karena itu, melalui tulisan singkat ini saya menabur mimpi dan optimisme bahwa bangsa Indonesia akan maju jika menggalakkan pembangunan bukan hanya dari segi fisik, tetapi juga budaya. Terimakasih. Salam pembangunan.

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. TIP berkata:

    Great…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: