Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Panopticon di Panggung

oleh Herman RNpanopticon

Mulanya ruangan itu gelap, perlahan sebuah cahaya dari atas jatuh tepat di tengah panggung, memantulkan sesosok lelaki tua, kumal, rambut berantakan, pakaian acak-acakan, tetapi sorot matanya bagai harimau siap menerkam. Lelaki itu duduk terjuntai di sebuah ayunan yang sesekali mengesankan hantu pakis kehilangan paku di kepala. Di sudut yang lain, dari lubang-lubang sebesar talam, keluar beberapa sosok mirip semut keluar dari sarang. Empat ekor ‘semut’ itu kemudian panik mendengar sesuara; suara berita di radio pecah, suara tembakan, suara jeritan, tangisan, dan sesuara yang sulit dimaknai sebagai sebuah kata.

Begitulah sederhananya prolog pementasan teater “Panopticon” di Teater Nol, Minggu 21 Juni 2009 kemarin. Pementasan yang surealis, tetapi terlihat realis. Sebuah ayunan menjuntai yang diduduki seorang lelaki tua kumal ditamsilkan sebagai sebuah menara “panopticon” yang perkasa. Di belakangnya sebuah penjara bawah tanah dengan ‘lubang-lubang semut’ sebagai pintu. Cerita mengalir tentang kehidupan dalam penjara zaman dahulu. Kisah yang klasik tentunya. Namun, di tengah perkisahan, kejadian yang sangat dekat dengan kita di zaman ini ditampilkan, yakni tentang agama, tentang syariat yang digadaikan.

Empat ‘semut’ yang menjadi tokoh masyarakat penjara menaiki sebuah kubah masjid. Mereka menanjaki atas kubah tersebut satu per satu. Di atas kubah, masyarakat penjara itu memperagakan sesuatu adegan yang kemudian diikuti oleh rekannya yang lain. Tatkala rekan yang lain mendapat giliran naik ke atas kubah, tiga tokoh yang dibawah mengikuti gerak tokoh di atas kubah. Demikian seterusnya.

Empat tokoh tersebut yang memperagakan gerak orang salat, gerak orang berpidato, gerak si tukang catat, dan gerak komandan perang. Hal ini menyimbolkan empat pilar yang terdapat dalam kearifan masyarakat Aceh, yakni ulama, umara, putro phang, dan bintara. Hadih majanya adalah adat bak Poteu Meureuhom, hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, reusam bak Lakseumana. Keempat pilar ini berhasil disitir oleh para pemain di panggung.

Menutup kisah, beberapa tokoh tambahan–menggunakan pakaian lapangan dan helm, sangat mengesankan pekerja proyek–naik ke atas panggung. Layaknya arsitek, seorang di antara tokoh proyek tersebut memandang ke sekeliling, mengamati posisi yang tepat untuk mendirikan bangunan. Tak ada dialog di bagian ini, hanya gerak-gerak gestur seperti tuna wicara. Dari gerak itu masih dapat dipahami bahwa bos pekerja proyek sedang memberitahukan bahwa kubah mesjid yang tadi dinaiki ‘para semut’ akan dibangun di bagian barat.

Adegan ini sangat menyentuh lokalitas keacehan. Betapa sekarang di Aceh, mesjid tidak lagi dibangun dengan kekuatan gotong royong masyarakat, melainkan menunggu proyek tiba. Kalau proyek tak ada, kubah-kubah mesjid hanya menjadi pajangan di kedai-kedai tukang kayu atau tukang las. Unsur keacehan semakin kental terlihat pada adegan-adegan yang diperankan masyarakat penjara. Ada beberapa gerak, terutama saat melangkah, mereka mainkan seperti dalam gerak sedati, petik jari, pukul dada, dan lenguh napas tak ketinggalan. Karena itu, saya berpendapat naskah ini realis yang disurealiskan.

Kendati dramatugnya, Azhadi Akbar—Sarjana Seni STSI Padang Panjang—bersikeras menyatakan naskah tersebut surealis (dalam bahasa Azhadi: nonrealis), tetapi adegan demi adegan masih berjalan pada tataran realis. Suasana yang dibangun dalam cerita masih dapat dianggap sebuah realita, yang benar-benar mungkin ada di alam nyata. Pengantar awal boleh jadi surealis, sebab ada simbol yang tak dapat terbaca, yakni saat seorang perempuan berdendang dengan tokoh di ayunan. Kemudian adegan ini putus. Entah dari mana bermula, adegan selanjutnya malah bercerita tentang keadaan yang kerap kita jumpai di alam sungguhan. Tentang mesjid, tentang ketakutan normalitas, dan sebagainya.

Di sisi lain, artikulator beberapa tokoh yang ‘belepotan’ membuat beberapa dialog yang hendak disampaikan hanya dapat ditangkap oleh penonton dengan samar-samar, beberapa dialog malah tidak sampai sama sekali. Sebut saja saat tokoh di ayunan menjeritkan kata “panopticon”, yang terdengar “menantikan”, dua kosa kata yang sangat jauh beda tentunya.

Muasal Panopticon

Panopticon adalah kata lain dari “menara pengintai”. Ini merupakan sebuah konsep “peraturan” atau “hukum” yang dipopulerkan oleh Michel Foucault dari gagasan Jeremy Bentham (Panopticon; Or The Inspector House, 1987). Konsep berupa sebuah menara yang letaknya di tengah penjara—ada pula yang menyebutnya di tengah rumah sakit jiwa—yang dapat memantau segala aktivitas masyarakat penjara/ pasien rumah sakit jiwa (RSJ).

Awalnya, orang-orang kurang waras (gila) dengan penjahat (bandit) dianggap satu golongan yang mesti dipisahkan dari kehidupan ‘masyarakat normal’. Agar tidak mengganggu masyarakat, orang-orang gila dan bandit dihanyutkan di sungai. Akhirnya, Foucault menemukan sebuah konsep bahwa golongan orang-orang yang dianggap gila dan bandit ini mesti ditempat dalam sebuah penampungan untuk dibina mentalanya. Di tempat itu, orang-orang ini mendapat pemantauan perkembangan mentalnya. Dari sinilah sejarah mulanya terciptanya penjara dan rumah sakit jiwa. Rumah sakit jiwa dan penjara yang pertama berkembang di Eropa itu, mulanya dibentuk seperti tapal kuda yang ditengahnya berdiri sebuah menara sangat tinggi. Kalau saja tak menjadi penjahat atau gila, pastinya penampungan itu kosong dan menara tersebut tidak berguna. Karena itu, Foucault menganggap wajar pelanggaran hukum. Dialah yang membuat jargon “Hukum diciptakan untuk dilanggar”. Dan minggu lalu, Teater Nol mencoba memperlihatkan maksud Foucault tersebut melalui medium panggung. Akan tetapi, di akhir pesan tetap ada petuah layaknya sebuah karya sastra, siapa yang melanggar peraturan, dialah yang mendapat binaan konsep “Foucault”.

tulisan ini telah dimuat di Harian Serambi Indonesia, 5 Juli 2009.

Herman RN, penikmat sastra dan pekerja teater di Gemasastrin

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: