Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Penulis Itu Menulis di Aspal

hermanCerpen Herman RN

“Dia seorang penulis!”

***

Dua puluh lima menit yang lalu suara menggelegar. Seseorang terpental ke udara untuk beberapa saat, lalu ambruk ke tanah. Sebuah sepeda motor terguling. Motor itu nyaris hancur. Patahan-patahan atom dan kaca bertaburan. Motor itu hanya tinggal sebuah bannya, satu lagi mencelat ke parit kecil di pinggir jalan. Tak jauh dari sana, sebuah Truck pengangkut kayu berdiri. Kap depan mobil itu yang sebelah kanan peot. Lampu depannya pecah. Plat mobil itu sedikit lagi hampir copot.

Orang-orang berkerumun di tempat itu. Suara gaduh tak beraturan. Ada yang memuji Tuhan, ada yang histeris, ada yang mengeluarkan kata-kata iba dan terkejut. Ada yang sekedar mengangakan mulut tanpa sepatah kata pun, ada yang menggeleng-geleng kepala sambil berdecah seperti orang memanggil kucing, ada yang memicingkan mata dengan kening berkerut, ada juga yang memelototkan mata, ada yang menutup mulut dengan kedua telapak tangannya, bahkan ada yang menutup mukanya. Beragam corak mimik wajah terlihat dari mereka semua selayaknya tengah berlangsung pagelaran topeng.

Di tengah kerumunan itu seorang lelaki tertelungkup di semak-semak pinggiran jalan. Darah berceceran dari tengah aspal sampai pada tempat lelaki itu tergolek, ada yang tersangkut di dedaun ilalang dan rumput putri malu. Orang-orang masih gaduh. Semakin lama kerumunan itu semakin dipadati. Orang-orang yang lalu lalang di sekitar jalan pun menghentikan kendaraan mereka dan nimbrung di tempat kerumunan.

Matahari siang hampir berat ke barat. Darah yang berceceran mulai mengering. Ilalang yang tadi terpercik darah berubah warna. Orang-orang mulai menutup hidung. Bau darah semakin menyengat hidung. Suara-suara perempuan menahan napas masih terdengar.

“Coba balik tubuhnya, kita lihat siapa dia?” Kata seseorang dari kerumunan itu.

Semua diam sambil memandang ke arah yang bersuara. Sesaat kemudian perempuan itu berkata lagi. “Begini banyak kaum laki-laki, tak seorang pun yang berani menolongnya? Dia butuh pertolongan. Panggilkan ambulan!”

Dua orang pemuda maju selangkah mendekati lelaki yang tak berkutik itu. Keduanya berpandangan sekejap, lalu membalik sosok yang tertelungkup di rumput. kedua pemuda tersebut nyaris membuang muka ketika melihat wajah lelaki yang baru dilentangkannya itu. Kedua pemuda itu merasa hendak muntah.

Terlihat wajah sosok yang terkulai itu hancur. Darah segar masih mengalir dari hidung dan mulutnya. Beberapa helai rumput melekat di wajahnya. Kepalanya juga mengeluarkan darah tiada henti seperti mata air. Pelipis lelaki itu terkopek, tampak batok kepalanya menyembul ke luar.

Sesaat kemudian beberapa orang lagi turun ke rumput tempat lelaki itu terbaring. Tubuh yang penuh luka itu mereka papah dan mereka baringkan di tepi aspal. Mereka membuka jaket jeans biru yang dikenakan si lelaki. Jaket itu berlumur darah, juga kaos putih yang masih melekat di tubuhnya berubah merah. Dengan jaket itu seseorang mengusap darah di wajah yang terluka.

“Hidungnya tak ada lagi.” Ujar yang mengusap darah itu.

Suara-suara gigi beradu terdengar dari beberapa orang yang menahan ngilu. Ada yang memegang tengkuknya sendiri. Ada yang mengusap pergelangan tangannya seolah menidurkan kembali bulu-bulunya yang berdiri karena melihat darah.

“Mulutnya juga koyak. Giginya rata.” Tambahnya setelah mengelap mulut si lelaki.

“Kasihan sekali.” Sebuah suara terlontar dari kerumunan.

“Darahnya masih mengalir.” Suara yang lain.

“Ngeri sekali.” Kata yang lain pula.

“Aku tak sanggup melihatnya.” Ujar yang lain sambil berlalu.

“Siapa dia? Apakah tak ada yang mengenalnya?”

“Mengapa bisa ketabrak?”

Beragam pertanyaan terlontar dari kerumunan.

“Di.. dia penulis!” Seru seseorang setelah darah di wajah lelaki itu habis dilap.

“Penulis?!!!” Beberapa suara hampir serentak.

“Ya. Saya pernah melihat poto dia di surat kabar. Di sana dikatakan kalau dia seorang penulis.”

“Kamu tahu di mana dia tinggal?”

“Oh, itu saya tidak tahu. Koran itu minggu lalu saya baca. Seingat saya tidak ada alamat dia di sana?”

“Kamu yakin?” Tanya seorang bapak-bapak.

“Ya, memang tidak tertulis alamat lelaki ini di koran itu.”

“Bukan itu, maksud saya, kamu yakin kalau dia penulis?”

Pemuda yang ditanya diam. Dia mengamati kembali tubuh yang terkulai itu. Diperhatikannya bulu halus di bawah dagu si lelaki. Lalu…

“Ya! Ini dia, penulis itu! Mirip sekali. Saya yakin. Atau… sebentar, apa dia masih hidup?”

Seseorang meraba pergelangan tangan lelaki yang berdarah itu, kemudian meletakkan tangannya di perut si lelaki, lalu di dadanya, dan di lehernya. Seseorang itu lantas memandang ke arah orang-orang.

“Dia sudah mati.”

Suara-suara menahan perih kembali terdengar. Wajah-wajah yang tadi tegang berubah melemas. Bahkan ada yang mulai terisak. Ada yang lari ke belakang sambil menutup mulut. Desah napas saling berpacu.

“Bagaimana ceritanya, mengapa bisa ketabrak?” Tanya orang yang memberi keterangan tadi.

Orang-orang memandang ke arah seorang lelaki bertubuh besar. Lelaki itu mengusap peluh dengan handuk kecil yang melilit lehernya, kemudian matanya. Mata lelaki itu merah. Mulutnya gemetar sebelum mengeluarkan suara.

“Saya tidak sengaja.” Tangannya menunjuk si lelaki di rumput. “Dia.. dia tiba-tiba saja keluar dari simpang kanan sana dengan kecepatan tinggi. Barangkali dia tidak sempat menginjak rem. Dia yang menabrak mobil saya.” Ucap lelaki bertubuh besar itu seraya mengusap peluh di lehernya.

“Ya, bapak ini tidak salah, lelaki itu yang ngebut sembarangan, saya melihatnya.” Seseorang bersuara.

Sejenak semua diam. Hening, kecuali desah napas, kecuali suara ilalang yang bergesek ditiup angin.

“Ya sudah, sebaiknya kita kuburkan saja dia. Kasihan jasadnya dikerumuni lalat.” Ujar seorang bapak-bapak.

“Tapi apa sebaiknya tidak kita beritahukan saudaranya terlebih dahulu? Familinya barangkali ada di sekitar sini.” Ujar yang lain.

“Jika memang ada di sekitar sini, pasti familinya sudah melihat dia. Kalau kita tunggu familinya datang, kapan bisa dipastikan? Sampai tubuhnya habis dimakan lalat dan belatung?”

Sudahlah, sebagai sesama manusia sudah kewajiban kita menguburkannya. Bayangkan saja jika sekarang yang terlentang itu adalah jasad kita. Betapa tersiksanya kita.

Selepas orang tua itu berkata, serempak kerumunan orang-orang beregrak. Seperti dikomando mereka sibuk. Sebagian mendekati tubuh yang terkulai itu, membersihkannya. Sebagian lagi bergerak ke rumah-rumah penduduk. Keluar dari rumah mereka membawa parang dan cangkul. Kelihatannya kampung itu memang sudah terbiasa mendapati orang kecelakaan. Mereka sudah tahu tanah yang dituju untuk menguburkan yang meninggal di tempat. Orang-orang pun mulai disibukkan dengan pemakaman. Supir truck juga ikut mengurusi jasad yang berlumuran darah itu.

Selesai pemakaman, masih terdengar suara-suara yang memperbincangkan orang yang kecelekaan itu.

“Kasihan sekali, dunia kepenulisan pasti akan merasa kehilangan dia.”

“Mungkin dia terlalu memainkan imajinasinya sehingga tak mendengar lagi suara-suara di sekitarnya, makanya sampai ketabrak. Biasa kan penulis menghayal di tengah jalan mencari ilham?”

“Barangkali dia sudah bosan menulis di kertas, karena terlalu sedikit orang yang dapat membaca. Dia hendak mencoba menulis di aspal. Setiap orang yang lalu kan dapat melihat tulisannya kalau di jalan?” Kata seseorang sambil tersenyum. “Menulis dengan darah kan belum pernah dilakukan penulis lain, di aspal pula.” Lanjutnya.

Satu per satu kerumunan kembali sunyi. Yang tadi berhenti, melanjutkan perjalanan kembali. Yang mempunyai rumah di sekitar tempat itu kini kembali ke rumahnya. Tinggallah supir truck yang masih memerhatikan depan mobilnya yang peot. Tangannya meraba-raba lampu depan yang pecah, lalu memandang ke arah tanah gundukan di bawah pohon nangka. Di tanah itulah seseorang baru saja dikuburkan, seseorang yang dua puluh lima menit lalu tertabrak dengan sebuah truck.

***

Cerpen ini sudah dimuat di Aceh Independen pada Maret 2009. Saya persembahkan cerpen ini untuk mengenang senior saya…

Iklan

Filed under: Cerpen

2 Responses

  1. David berkata:

    Tulisan yang bagus

  2. hikmah berkata:

    mengharukan!!!
    manusia akan dikenang karna karya n budi baiknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: