Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Menulis Publikasi Ilmiah

oleh Herman RN dan Safriandi

Mantap1. Pendahuluan

Istilah karya ilmiah dan nonilmiah merupakan istilah yang sudah sangat lazim diketahui orang dalam dunia tulis menulis. Berkaitan dengan istilah ini, ada juga sebagian ahli bahasa menyebutkan karya fiksi dan nonfiksi. Terlepas dari bervariasinya penamaan tersebut, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah, baik karya ilmiah maupun nonilmiah/fiksi dan nonfiksi atau apa pun namanya, kedua-keduanya memiliki perbedaan yang signifikan.

Perbedaan-perbedaan yang dimaksud dapat dicermati dari beberapa aspek. Pertama, karya ilmiah harus merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif). Yang dimaksud dengan faktual objektif adalah adanya kesesuaian antara fakta dan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri. Kedua, karya ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode atau cara-cara tertentu dengan langkah-langkah yang teratur dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah dan penentuan strategi. Ketiga, dalam pembahasannya, tulisan ilmiah menggunakan ragam bahasa ilmiah. Dengan kata lain, ia harus ditulis dengan menggunakan kode etik penulisan karya ilmiah. Perbedaan-perbedaan inilah yang kadangkala menjadi dasar bagi para ahli bahasa untuk melakukan pengklasifikasian.

Selain karya ilmiah dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, terdapat juga karangan yang berbentuk semiilmiah/karya ilmiah populer. Sebagian ahli bahasa membedakan dengan tegas antara karangan semiilmiah ini dengan karangan ilmiah dan nonilmiah. Finoza (2005:193) menyebutkan bahwa karakteristik yang membedakan antara karangan semiilmiah, ilmiah, dan nonilmiah adalah pada pemakaian bahasa, struktur, dan kodifikasi karangan. Jika dalam karangan ilmiah digunakan bahasa yang khusus dalam di bidang ilmu tertentu, dalam karangan semiilmiah bahasa yang terlalu teknis tersebut sedapat mungkin dihindari. Dengan kata lain, karangan semiilmiah lebih mengutamakan pemakaian istilah-istilah umum daripada istilah-istilah khusus. Jika diperhatikan dari segi sistematika penulisan, karangan ilmiah menaati kaidah konvensi penulisan dengan kodifikasi secara ketat dan sistematis, sedangkan karangan ilmiah agak longgar meskipun tetap sistematis. Dari segi bentuk, karangan ilmiah memiliki preliminaris. Ini tentu saja tidak terdapat pada karangan ilmiah.

Berdasarkan karakteristik karangan ilmiah, semiilmiah, dan nonilmiah yang telah disebutkan di atas, yang tergolong dalam karangan ilmiah adalah laporan, makalah, skripsi, tesis, disertasi; yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel,  feature,kritik, esai, resensi; yang tergolong karangan nonilmiah adalah anekdot, dongeng, hikayat, cerpen, cerber, novel, roman, puisi, dan naskah drama.

  1. 2. Jenis-jenis Karya Ilmiah

2.1 Laporan

Laporan merupakan bentuk penyajian fakta tentang suatu keadaan atau suatu kegiatan (Hasani, 2005:68). Fakta yang tersaji dalam laporan berkenaan dengan tanggung jawab pelapor kepada pemberi tugas. Ia merupakan bahan atau keterangan berdasarkan keadaan objektif yang dialami sendiri oleh pelapor ketika ia melakukan suatu kegiatan.

Laporan yang komunikatif didukung oleh empat unsur penunjang yang meliputi pelapor, penerima laporan, bahan yang dilaporkan, dan sarana. Baik tidaknya laporan lebih banyak dipengaruhi oleh keterampilan penyusun atau pembuat laporan. Fakta-fakta yang lengkap belum tentu dapat dijadikan andalan dalam penyusunan laporan yang baik. Meskipun fakta sudah lengkap, pelapor masih dituntut melaporkannya dengan bahasa yang baik dan benar. Dalam hal ini unsur bahasa merupakan unsur penunjang yang sangat penting (Hasani, 2005:68).

Bentuk laporan sangat beragam. Berdasarkan metode penyampaiannya, dikenal adanya laporan lisan dan laporan tertulis. Dilihat dari segi keresmiannya, dikenal adanya laporan formal dan nonformal.

2.2 Makalah

Makalah merupakan karya tulis ilmiah yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara runtut dan sistematis dengan disertai analisis yang logis dan objektif (Universitas Negeri Malang, 2000:5). Makalah disusun untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah. Penulisan makalah memiliki sistematika yang berbeda-beda, bergantung kepada ketentuan lembaga atau editor yang akan menerbitkan makalah tersebut. Namun, secara sederhana isi makalah berupa pendahuluan, isi, dan kesimpulan. Makalah juga harus ditulis secara objektif, tidak memihak, berdasarkan fakta, sistematis, dan logis. Berdasarkan kriteria ini, baik tidaknya makalah dapat diamati dari signifikansi masalah atau topik yang dibahas, kejelasan tujuan pembahasan, kelogisan pembahasan, dan kejelasan pengorganisasian pembahasannya.

Berdasarkan sifat atau jenis penalaran yang digunakan, makalah dapat dibedakan menjadi tiga macam: makalah deduktif, induktif, dan campuran. Makalah deduktif merupakan makalah yang penulisannya didasarkan pada kajian teoretis yang relevan dengan masalah yang dibahas. Makalah induktif merupakan makalah yang disusun berdasarkan data empiris yang diperoleh dari lapangan serta relevan dengan masalah yang dibahas. Makalah campuran merupakan makalah yang penulisannya didasarkan pada kajian teoretis digabung dengan data empiris yang relevan dengan masalah yang dibahas. Dalam pelaksanaannya, jenis makalah pertama merupakan jenis makalah yang paling banyak digunakan.

Dari segi jumlah halaman, makalah dapat dibedakan menjadi makalah panjang dan makalah pendek. Makalah panjang memiliki jumlah halaman lebih dari 20 halaman, sedangkan makalah pendek kurang dari 20 halaman.

2.3 Skripsi, Tesis, dan Disertasi

Jenis karya ilmiah ini ditujukan untuk kepentingan masyarakat akademik. Ia cenderung bersifat teknis, berisi apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian. Isinya disajikan secara lugas dan objektif. Format laporan cenderung baku, mengikuti ketentuan dari perguruan tinggi atau suatu kelompok masyarakat akademik. Yang dibahas dalam skripsi, tesis, dan disertasi ini dapat berupa penelitian kualitatif dan dapat pula berupa penelitian kuantitatif, hasil kajian pustaka, atau hasil kerja pengembangan.

  1. 3. Karya Semiilmiah

3.1 Artikel

Jenis karya ilmiah ini terdapat di media cetak seperti jurnal, koran, majalah, buletin, dan mungkin juga di buku. Karena itu, artikel sering disebut induk dari semua jenis tulisan, misalkan tulisan sastra, dapat pula disebut dengan artikel sastra, kecuali puisi. Tulisan dalam skripsi, tesis, laporan, disertasi, dan sejenisnya pun disebut dengan artikel.

Dalam pembahasan ini, yang dimaksud dengan artikel adalah jenis tulisan yang dimuat di media publikasi seperti koran dan majalah. Artikel yang diterbitkan di koran, selain berita, cenderung berupa gagasan yang disampaikan oleh seorang penulis melalui ruang yang disediakan oleh koran. Karena tulisan itu berupa gagasan atau ide yang sifatnya sangat subjektif, koran-koran yang menyediakan ruang untuk artikel tersebut sering menamakan ruang tersebut dengan ruang/desk opini.

Sebelum melihat ciri-ciri artikel yang dimuat di koran, terlebih dahulu kita menyimak ciri-ciri artikel yang dimuat di jurnal. Setiap artikel yang dimuat di jurnal memiliki gaya selingkung tersendiri, tetapi artikel-artikel tersebut memiliki ciri umum yang menjadi sistematika penyusunan artikel dimaksud. Perlu diketahui, umumnya artikel yang dimuat dalam jurnal berupa artikel hasil penelitian. Jurnal biasanya diterbitkan berkala, misalnya bulanan, dwibulanan,atau enambulanan. Ciri-ciri artikel di dalam jurnal dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Judul

Judul diletakkan di bagian atas sebagai kepala tulisan.

  1. Nama Penulis
  2. Abstrak

Abstrak berisi gambaran umum  penelitian. Dalam abstrak, judul tidak perlu disebutkan. Antara tujuan dan rumusan masalah, pilih salah satu untuk dimuat dalam abstrak, tidak boleh dua-duanya. Selain itu, dalam abstrak dijelaskan metode penelitian secara garis besar. Hasil penelitian perlu dijelaskan, tetapi untuk saran, jika memang dianggap sangat penting, perlu dijelaskan (jika tidak penting, tak perlu dijelaskan). Selanjutnya, di bawah abstrak perlu dijelaskan kata kunci. Kata kunci berisi satu kata atau frasa yang dianggap menjadi kata penting yang terdapat dalam artikel tersebut. Karenanya, kata kunci ini biasanya tidak perlu banyak, yang penting dapat mewakili saja.

  1. Pendahuluan

Secara umum bagian ini memuat latar belakang, masalah, dan tujuan penulisan artikel tersebut. Rumusan masalah dan tujuan dapat pula menjadi subjudul tersendiri.

  1. Metode Penelitian

Dalam metode penelitian dijelaskan metode yang digunakan oleh penulis, misalnya metode deskriptif kualitatif atau kuantitatif.

  1. Hasil Penelitian

Pada hasil penelitian, penulis memaparkan hasil penelitian yang sudah dilakukan.

  1. Penutup

Bagian ini berisi simpulan dan saran.

Catatan:

Sistematika penulisan artikel untuk jurnal seperti disebutkan di atas dapat pula berlaku untuk penulisan makalah. Semua poin di atas ditulis tanpa mesti mengikuti penomoran yang ada, tetapi dapat disesuaikan dengan gaya selingkung masing-masing jurnal.

Berbeda dengan ciri-ciri artikel di jurnal, artikel di koran atau di majalah tidak mesti berformat. Artikel di koran terkadang tidak memiliki subjudul meskipun untuk menjelaskan beberapa bagian seperti pendahuluan, tujuan, dan hasil analisis. Namun, semua itu dijelaskan dalam bentuk paragraf-paragraf yang koherensi. Kalaupun subjudul, biasanya bukan untuk menjelaskan beberapa item berformat, tetapi hanya menjadi penegas saja. Selain itu, bahasa yang digunakan dalam artikel di koran, cenderung lebih komunikatif daripada bahasa artikel di jurnal. Penggunaan bahasa-bahasa sehari-hari memiliki peluang lebih besar dalam artikel koran. Selain itu, pembuka tulisan dapat pula dimulai dengan sebait puisi, pantun, kata-kata mutiara, slogan, atau berita dari media massa (lihat beberapa contoh artikel koran). Di samping opini, jenis artikel di koran dapat pula berupa esai (lihat penjelasan esai).

Dari segi ukuran (panjang), artikel di koran lebih pendek daripada artikel di jurnal. Hal ini karena koran terikat dengan kolom yang tersedia. Oleh karena itu, ada artikel di koran yang tidak memiliki simpulan dan saran sama sekali, bahkan keputusan terhadap apa yang ditelaah (ditulis) dipertanyakan (diserahkan) kepada pembaca.

3.2  Feature

Tulisan berita kreatif yang dirancang untuk memberi informasi tentang suatu kejadian, situasi, atau aspek kehidupan seseorang sambil menghibur dinamakan feature. Ia juga merupakan karangan lengkap nonfiksi, bukan berita lempang dalam media massa yang tak tentu panjangnya, dipaparkan secara hidup sebagai pengungkapan daya kreativitas. Jika dibandingkan dengan artikel,  feature memiliki kekhasan. Kekhasan tersebut terletak pada unsur kreativitas (dalam penciptaannya), isinya yang informatif, menghibur (gaya penulisan). Karena itu, feature disebut dengan tulisan jurnalisme sastrawi.

Sebagaimana jenis artikel, feature dapat dibagi atas beberapa jenis. Kusnawan (2004:143) menyebutkan bahwa secara umum feature terdiri atas beberapa jenis. Jenis feature yang pertama adalah news feature. Feature jenis ini biasanya muncul bersamaan dengan suatu peristiwa. Dalam hal ini news feature membicarakan kejadian dari peristiwa tersebut diserta proses timbulnya kejadian itu. Dengan kata lain, yang diperlukan dalam feature adalah apa dan bagaimana terjadinya peristiwa tersebut, sedangkan mengapa tidak begitu menjadi perhatian. Jenis feature yang kedua adalah feature pengetahuan. Tulisan jenis ini biasanya dikemukakan dengan cukup berbobot. Ciri tulisan ini ditandai oleh kedalaman penjelasan objektivitas pandangan yang dikemukakan. Dalam operasionalnya, ia tidak hanya menjelaskan mengapa dan bagaimana, tetapi juga harus dapat menjelaskan sesuatu secara ilmiah yang dapat diterima secara logis. Tulisan feature pengetahuan dapat dijumpai dalam bagian suplemen  Republika, Kompas, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, dll. Jenis feature yang ketiga adalah human inters feature. Feature ini lebih banyak menuturkan situasi yang menimpa orang dengan cara penyajian yang menyentuh hati dan menggugah perasaan.

Karena penulisan feature mengandalkan tuturan kejadian, situasi, peristiwa atau juga proses terjadinya suatu peristiwa, penyajiannya harus jelas dan logis. Penulis tidak dibenarkan menggunakan kalimat yang didramatisasi, dilebih-lebihkan atau diberikan penafsiran secara subjektif oleh penulisnya. Hal lain yang juga perlu dihindari adalah penggunaan nada yang menggurui pembaca dan yang sejenisnya. Dengan demikian, tulisan ini akan lebih menarik jika dibiarkan bercerita sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.

3.3 Kritik

Kritik adalah jenis tulisan ilmiah populer atau cenderung disebut semiilmiah. Tulisan ini berisi beberapa hal kritikan/masukan terhadap teks/nonteks yang sudah ada, baik dari segi isi maupun cara penulisan/pemaparan yang digunakan oleh si pengkarya yang dikritik. Istilah kritik ini mulanya muncul pada karya sastra sehingga ungkapan kritik cenderung dikaitkan pada kritik sastra. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan kritik juga dapat diberikan kepada karya nonsastra. Adanya tulisan kritik untuk memperbaiki atau menyempurnakan karya yang sudah ada. Orang yang membuat tulisan kritik disebut kritikus. Kritik itu penting karena kritik merupakan bentuk apresiasi yang mendalam. Di kalangan akademik, ketika menulis kritik, itu artinya ia sedang mengaplikasikan berbagai teori dalam satu metode. Seorang kritikus harus tahu ruang lingkup, pisau analisis, metode, serta teknik
yang ia gunakan. Kriteria, kategori, dan skema dalam kritik tak dapat dilakukan tanpa pijakan. Karenanya, tulisan kritik bukan rangkuman atau resume pemikiran dari seorang kritikus. Kritik mesti memiliki nilai seni dalam bertutur, sebab kritik tidak bertujuan untuk mencari kejelekan, melainkan memberikan solusi penyempurnaan.

3.4 Esai

Esai adalah tulisan yang menuntut sangat kreativitas penulisnya. Berbeda dengan tulisan artikel seperti opini, meskipun dalam esai opini (pendapat) penulis boleh muncul, tetapi tulisan esai penggaliannya lebih mendalam sehingga membutuhkan data dan fakta akurat. Namun, bahasa yang digunakan ringan seperti bahasa bertutur. Esai membahas satu masalah dari sudut pandang penulis dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak terlalu ilmiah, tetapi ia menjadi bacaan yang serius. Karenanya, esai sering ditulis di koran.

Farid Gaban, mantan wartawan Tempo, dalam sebuah perbincangan ringan setahun lalu, menyebutkan tantangan bagi penulis esai lebih berat daripada penulis opini. Agar dapat membedakan beberapa jenis penulisan artikel, orang-orang sepakat memberi nama penulisan jenis artikel yang mendalam ini dengan “esai”. Kreativitas mendalam saat menulis esai disebut dengan creative non-fiction atau “nonfiksi yang ditulis secara kreatif. Disebut demikian, karena bahasa bertutur dalam penulisan esai mengadopsi bahasa teknik penulisan fiksi (dialog, narasi, anekdot, klimaks dan antiklimaks, serta ironi).

Iklan

Filed under: Opini

One Response

  1. Paulus Sukresno berkata:

    Terima kasih artikel ini, kami sedang mengikuti Diklat Penulisan KTI. Mudah-mudahan ini banyak bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: