Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

GEN

Cerpen Herman RN

“Kenapa anak itu lahir? Bukankah saluran kandung telurku sudah diikat? Sungguh!

titania_wpSungguh Kelahiran itu selalu menghantui hidupku. Dan pertanyaan itu setiap saat menyelinap di benakku. Terkadang kuduga ia sebagai sebuah mukjizat. Seperti kelahiran Isa dari rahim Maryam, ia lahir begitu saja, begitu mudah, tanpa kesakitan yang dirasakan Maryam. Aku juga tak merasakan sakit yang teramat sangat, seperti saat melahirkan anak pertama dulu.

Ini yang ke dua kalinya aku melahirkan, meski dokter sudah melarangku untuk melahirkan anak setelah anak pertama dulu. Tapi anak ke duaku tetap lahir. Dan kini ia benar-benar menjadi hantu dalam hidupku. Pasalnya, setelah melahirkan Farah, anak pertamaku, rahimku mengalami gangguan. Kata dokter waktu itu, aku tidak bisa beranak lagi. Ini anak pertama sekaligus anak yang terakhir untukku. Jika aku memaksakan untuk beranak, akan berbahaya, bukan hanya bagi diriku, tetapi juga calon anakku kelak. Jadi kesimpulannya, saluran kandung telurku harus diikat.

“Kenapa harus diikat, apakah tidak ada jalan lain?” tanyaku waktu itu.

Dokter muda itu menjelaskan, sepermaku akan memberontak dari indungnya saat terjadi persentuhan di bibir ovumku. Dan jika sepermaku dan seperma suamiku bertemu, otomatis akan membuahkan gen. Sementara jika pakai alat kontrasepsi, masih diragukan. Aku tak mengerti maksud dokter itu. Apa maksudnya dengan ‘diragukan’. Apakah ia ragu aku lupa akan menelan pil KB?

“Jika seperma dalam rahimmu dibunuh, juga akan berakibat pada ususmu. Ususmu akan aus. Sebab lain, alat pencernamu bisa tersumbat oleh mengerasnya sel telur yang sudah mati itu. Perutmu akan membuncit, dan kau lam kelamaan akan mati.” Begitu penjelasan dokter Rudi, ahli kandungan yang menjadi kepercayaan suamiku.

Dibelakang suamiku, dokter itu berbisik, “Kamu jangan takut, jika hanya saluran kandungmu yang diikat, kamu masih bisa melakukan hubungan syurga dunia dengan suamimu.” Dokter itu tersenyum kecil. “Atau pilihan lain, suamimu harus puasa menggaulimu? Aku tidak yakin suami akan sanggup.” Tambahnya.

Mendengar penjelasan dokter itu, hatiku seperti digelitik. Aku jadi teringat suatu siang. Ketika itu hari sangat panas, aku hanya mengenakan daster singlet putih. Suamiku yang baru saja pulang kerja langsung menjamahku di ruang tamu. Katanya ia tidak tahan melihat lekuk tubuhku. Mengingat semua kejadian itu, penjelasan dokter Rudi ada benarnya juga. Mana mungkin suamiku akan tahan berpuasa jika melihat lekuk tubuhku saja ia tak tahan. Apalagi jika malam tiba, aku tidak bisa tidur memakai baju. Mana mungkin suamiku akan tahan.

Pada suamiku dokter Rudi menjelaskan lain. Dokter berusaha meyakinkan suamiku kalau aku takkan apa-apa jika saluran kandungan telurku diikat. Akhirnya, aku dan suamiku patuh. Saluran kandung telurku diikat. Meski dalam hatiku ada kecut yang memberontak, mengapa aku tidak boleh memiliki seorang anak lagi, bukankah anak adalah bukti cinta dari sebuah perkawinan? Bukankah di dunia ini yang sangat berharga adalah anak? Tapi apa boleh buat, takdir ini harus kuterima. Aku tidak bisa beranak lagi.

Keanehan itu muncul. Jika memang saluran kandung telurku sudah diikat, mengapa anak ke duaku harus lahir ke dunia ini. Kelahirannya memang agak sedikit janggal. Aku tidak merasakan sakit apa-apa saat melahirkannya. Lebih anehnya lagi, perutku tidak pernah membesar seperti layaknya ibu-ibu hamil. Hanya saja beberapa bulan yang lalu aku memang pernah suka minta yang aneh-aneh, layaknya seorang calon ibu. Setelah diperiksa, ternyata hasil tes urineku memang positif.

Sejak kejadian hasil pemeriksaan itu, suamiku mulai berubah, sikapnya, bicaranya, senyumnya, pandangannya, caranya melayaniku, dan sebagainya, semuanya serba berubah. Suamiku menodongku selingkuh. Yang amat menyakitkan ia menuduhku selingkuh dengan dokter Rudi. Padahal Rudi adalah sahabatnya sendiri. Tapi begitulah dia, suamiku.

Tentu saja aku menolak tuduhan itu, namun apa boleh buat, suamiku egois, ia tetap tak percaya penjelasanku. “Kalau saja tidak memikirkan kau pernah mengandung anakku, sudah kuusir kau dari rumahku.” Kata-kata itu selalu keluar dari mulutnya jika aku berusaha membela diri. Dan akhirnya diam, jadi pilihanku.

Akhirnya masa itu datang, pada suatu ketika aku pusing dan sempat terjatuh di dapur ketika menyiapkan makanan untuk suamiku. Darah segar mengalir dari celah pahaku. Melihat keadaan itu, suamiku panik, ia kahirnya melarikanku ke tempat dokter Rudi praktek. Dokter Rudi segera memeriksaku di ruangnya. Aku bisa membayangkan hati suamiku ketika itu, melihatku di kamar bersama orang yang selama ini jadi tempat ia menumpahkan kecurigaannya. Tapi apa boleh buat, hanya Rudi yang selama ini membantu keluarga kami jika dalam kesulitan, mungkin dari segi pembayaran.

“Istri bapak akan segera melahirkan, bapak diminta menunggu di luar.” Pinta dokter Rudi pada suamiku.

Aku bisa merasakan helilintar yang menyambar kuping suamiku ketika mendengar penjelasan Dokter itu. Aku sendiri masih ragu dengan yang kulahirkan, apakah benar ia anakku?

Selesai persalinan, aku bertanya pada dokter, “Dok, apakah ikatannya putus, atau lepas? Kan Dokter sudah mengikat saluran kelahiranku?”

“Tidak. Semula saluran itu masih terikat seperti dulu. Saluran itu putus saat anak itu muncul di permukaan. Anak itu yang memutuskannya. Anak itu menendangnya dari dalam.”

Aneh, pikirku, mendengar semua penjelasan dokter Rudi. Kelahirannyapun sonsang. Dokter sendiri hampir tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Kalau saja bukan ia yang membidani langsung persalinanku, mungkin ia takkan percaya. Anak itu dikeluarkan dengan sangat mudah meski sonsang. Kakinya terlebih dahulu keluar, lalu badan, dan kemudian kepalanya. Sangat mudah keluarnya, sepeti ada yang mendorongnya dari dalam. Cerita dokter itu menjelaskan proses kelahiran anak ke duaku.

Dokter Rudi bertanya, apakah aku tidak sakit? Kukatakan saja hal sebenarnya. Aku tidak merasakan apa-apa, kecuali sedikit merasa ada sesuatu yang meluncur dari dalam perutku. Dan itu bukan sakit, hanya sedikit geli. Mendengar penjelasanku, dokter itu geleng-geleng kepala. Semacam tidak percaya tergambar di matanya.

Berbeda dengan suamiku, saat melihatku benar-benar melahirkan seorang anak lagi. Rasa kecurigaannya bertambah. Tambah lagi menurutnya wajah anak ke dua ini tidak mirip dengan wajahnya. Makanya suamiku lebih banyak diam ketika menjengukku. Anak itu pun tak mau ia sentuh. Aku benar-benar terpukul dengan sikapnya.

Berkali-kali aku jelaskan, “Ini bukan kemauanku, aku tidak pernah selingkuh, Bang. Ini keajaiban. Mukjizat. Abang ingat cerita Nabi Isa dalam Alquran? Atau sejarah lahirnya Yesus dalam ‘kejadian’? Isa lahir dari rahim Maryam, padahal Maryam masih gadis. Tak ada yang menggaulinya, tapi Isa lahir dengan kehendak Tuhan. Begitu juga Yesus, ia diakui anak Tuhan sebab lahir bukan dari hubungan suami istri. Semuanya bisa terjadi bila Tuhan yang menghendaki, Bang. Percayalah, aku tidak pernah selingkuh. Aku masih setia pada Abang. Ini anak kita bang. Anugrah Tuhan. Sungguh.”

Panjang lebar aku memaparkan semuanya, namun penjelasanku hanya disambutnya dengan diam. Tak ada protes lagi dari mulutnya, juga ia tak meng-iyakan perkataanku. Sejak kelahiran itu suamiku berubah. Ia selalu murung melihatku, juga melihat anak itu. Tapi ia tidak pernah menyuruhku membunuh anak itu. Ya, kenapa ia tidak membunuh anak ini jika memang ia tidak menghendaki kelahirannya? Pernah juga terlintas di pikiranku wacana kotor itu. Membunuh? Ah, betapa membunuh lebih mudah ketimbang melahirkan. Mungkin karena itu suamiku tak membunuh gen ke dua ini.

Meski ia tak pernah menyuruhku membunuh anak ini, aku masih dikecam ketakutan. Aku berpikir, kemana akan kubawa anak ini setelah besar nanti. Apa yang akan terjadi padanya kelak. Siapa namanya. Apakah suamiku akan mengizinkan jika aku tambahkan namanya di belakang nama anak ini? Tentunya dengan alasan agar anak ini juga memiliki seorang ayah seperti anak-anak lainnya? Karena memang sudah begitu kebiasaan di Kampung ini, setiap anak harus memanggul nama ayahnya dibelakang namanya. Mungkin seperti marga.

Aku membujuk suamiku agar dapat memberikan nama untuk anak ini. Tetapi ia masih diam. Aku semakin ketakutan…

***

Iklan

Filed under: Cerpen

2 Responses

  1. Nuri berkata:

    segala sesuatu akan dimintai pertanggungjawabannya oleh ALLAH, termasuk isi tulisan kita.
    baru x ini baca tulisan lidahtinta yang ada unsur miringnya.
    coz pengantarnya lumayan interest. isinya…..tanpa paragraf ke 6 pun tulisan ini akan tetap menarik kok.
    hehehe….

    • lidahtinta berkata:

      Terima kasih atas atensinya. Tolong apa yang dikatakan dalam paragraf enam itu tidak dibayangkan. Justru untuk menghindari ‘pikiran ngeres’ pembaca, saya tidak mendeskripsikan kejadian di ruang tamu, tetapi sekedar mengatakan apa yang terjadi siang itu, tak lebih. Cerita ini diangkat dari kisah nyata. Namun, setelah menjadi fiksi, pasti ada hijab di dalamnya. Sekali lagi, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: