Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

PKA, Proyek Keributan (Seniman) Aceh

Oleh Herman RN

Irwandi peh canangUsah terkejut melihat judul tulisan ini. Judul itu memang sengaja saya pilih untuk menginterpretasikan singkatan dari PKA yang makna sejatinya kita ketahui “Pekan Kebudayaan Aceh”. Namun, seperti halnya Ampuh Devayan dan Barlian AW (baca Serambi, 12 dan 13 Juli) yang berhak memberikan makna PKA, saya kira tak salah pula jika saya punya cara tersendiri memaknai singkatan PKA semisal Proyek Kesenian Aceh.

Ada alasan tersendiri bagi saya menyatakan bahwa PKA sebagai Proyek Kesenian Aceh. Hal ini karena ajang akbar atas nama kebudayaan Aceh ini ditenderkan dan gemingnya terkesan hanya pada beberapa penampilan kesenian etnis Aceh yang mungkin nanti akan ‘digagahi’ dari kesenian sebelah gunung. Ini pula sebenarnya awal dari keributan proyek kesenia tersebut sehingga timbul hasrat menyatakan bahwa ini adalah Proyek Keributan (Seniman) Aceh.

Sejak PKA dikatakan akan ditender, sejumlah pegiat seni di Aceh sudah mulai atur stragtegi memenangkan tender. Desas-desus tak suka kemudian mulai jadi bisikan yang tujuannya kepada Pemerintah Aceh yang memberikan peluang menang kepada EO dari luar Aceh, meskipun kemudian diketahui dalam perusahaan EO itu sebenarnya orang Aceh juga. Kebetulan saja mereka sudah lama berdomisili di luar Aceh.

Setelah menyadari bahwa kemenangan EO dari luar itu sah dengan segala prosedur yang telah diikuti, sejumlah seniman di Banda Aceh atur strategi berikutnya. Tujuannya sekarang menjadi dua: selain ingin dapat bergabung dalam ajang tersebut sebagai panitia kecil, juga memiliki hasrat untuk mengacaukan pelaksanaan PKA lima (kalau bisa gagalkan pada tahun ini) sehingga berserabutanlah desas-desus tentang ketidakbecusan kerja EO. Mungkin alasan yang kedua ini terlalu picik, tetapi inilah yang tertangkap dari cang panah satu warung kopi ke warung kopi lainnya. Karena itu, sang EO tak tinggal diam. Mengantisipasi agar tak terjadi ‘demo seniman’, beberapa nama seniman Aceh (di dominasi seniman yang berada di Banda Aceh/Aceh Besar) akhirnya dimasukkan di SK panitia yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Aceh. Permainan pun dimulai.

Kisruh ini tidak hanya setingkat EO dan seniman. Namun, berlanjut pada dinas-dinas yang ada di pemerintahan. Kita tahu bahwa PKA sudah ditenderkan dalam artian sudah menjadi tanggung jawab pemenang tender, tetapi unsur pemerintahan tidak mau tinggal diam mencari celah masuk dalam proyek akbar atas nama kebudyaan ini. Sebut saja salah satunya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Untuk even angerah budaya, Disbudpar ingin menangani sendiri secara langsung, meskipun mereka sadar even itu sudah dimasukkan dalam paket kegiatan PKA lima tahun ini. Sejatinya, kalaupun dinas ingin tetap terlibat, ya sekedar membantu saja. Artinya, kerja sama, tidak ambil alih sepenuhnya salah satu cabang kegiatan yang terkesan ‘bagi tugas’ antara dinas dan EO. Inilah salah satu penyebab lambannya kerja EO dalam mempersiapkan segala sesuatunya di PKA nanti. Dalam beberapa hal, EO masih memikirkan ada dinas yang akan melaksanakan beberapa persiapan kegiatan. Namun, sebaliknya, pihak dinas menganggap semua persiapan menjadi tanggung jawab EO.

Hal ini dapat kita lihat dari tumpukan sampah di Taman Ratu Safiatuddin yang merupakan lokasi pelaksanaan PKA lima. Menurut EO, taman itu dikelola di bawah dinas sehingga masalah kebersihan menjadi tanggung jawab dinas. Sementara itu, dinas sendiri belum bertindak apa-apa untuk itu karena ada anggapan taman ratu sudah di tangan EO pelaksana PKA.

Beginilah jika even kebudayaan dijadikan proyek. Sana-sini mesti dapat ‘dikorek’. Kalau perlu, minta sedekah kepada fakir miskin yang hendak menjajakan sebungkus rokok atau permen di sana nantinya. Seperti diketahui, walaupun dana lebih dari Rp1,5 miliar untuk melaksanakan perhelatan akbar ini, kepada penjual kelontong tetap dikenakan biaya ‘mencekik’ untuk sewa lapak yang hasil penjualannya belum tentu dapat sebanyak itu. Apalagi, sampai memperoleh laba. Saya khawatir, karena ulah menjadikan PKA sebagai proyek, taman Ratu Safiatuddin itu bakal sepi nanti pada hari “H” nanti, kecuali hanya orang-orang yang haus hiburan.

Kecimplung Ribut

Melihat PKA sudah menjadi lahan proyek, tak salah Zulfikar Sawang (ZS) ikut-ikutan kecimplung ribut demi kepeduliannya terhadap even tersebut (baca Serambi, 17/07/09). Sayangnya, ZS lupa, ada yang mestinya lebih penting dipikirkannya sekarang ini daripada ikut meributkan PKA lima, yakni Musyawarah Besar (Mubes) Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB).

Hal ini karena masa kepengurusan ZS sebagai ketua DKB sudah selesai sejak setengah tahun yang lalu. Hemat saya, ZS lebih baik segera mempersiapkan Mubes DKB daripada ikut mencimplungkan diri—mengatasnamakan Ketua Dewan Kesenian pula lagi—terkait masalah PKA. Sungguh saya tidak tahu, apakah tulisan ZS kemarin sebagai pintu masuk agar DKB dapat proyek PKA juga, karena ada nada dalam tulisan dia itu bahwa baikya perhelatan PKA diberikan kepada Dewan Kesenian. Jika memang demikian, saya ucapkan selamat ikut proyek dan teruslah berebut proyek, tak usah sadari bahwa ada tanggung jawab yang lebih penting daripada proyek yang mesti diributkan. Namun, kalau boleh saya memberikan sebuah pepatah, tapeuseuleusoe dilee jabatan, bek malee geutanyoe dalam kawan. Takzim.

Penulis, masyarakat biasa yang senang menikmat seni

Tulisan ini sudah dimuat di Harian Serambi Indonesia, 22 Juli 2009. Yang Anda baca di sini adalah versi asli dari penulisnya sebelum masuk ke redaksi Serambi Indonesia.

Iklan

Filed under: Essay

3 Responses

  1. info yang sangat bagus, kritis dan membangun….. trim’s

  2. lidahtinta berkata:

    Terima kasih apresiasinya… salam

  3. munawar berkata:

    PKA ke 5 adalah pasar kaget aceh ,suatu event yang semraut yang panitianya tdk profesional,dimana-dimana hanya orang jualan tetek begek dan menyebabkan semraut serta macet, masak diberi izin jualan sepanjang jalan orang untuk melihat2 stan kebudayaannya ini memalukan bagi orang luar yang mengujungi event ini. memalukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: