Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Prahara di Panggung

Cerpen Herman RN

dialog dengan wagubIni bukan kali pertama lelaki itu berdiri di atas mimbar. Ia sudah sering berorasi di panggung, seperti lima tahun lalu saat ia pertama sekali bergabung di salah satu partai politik, atau sembilan tahun silam saat ia masih tercatat sebagai mahasiswa di perguruan tinggi ternama di kotanya. Kala itu, ia sempat beberapa kali memimpin aksi demonstrasi mahasiswa. Seperti saat itu, kali ini pun, di panggung ia masih berkeringat meskipun sudah sering berorasi. Peluh bercucuran di dahi lelaki berkumis tipis itu, lalu meleleh ke pipi dan lehernya. Setetes demi setetes peluh itu ada juga yang jatuh menyentuh lantai panggung. Badannya kuyup.

Namanya Moehammad, mirip nama seorang utusan Tuhan dalam agamanya. Nama ini pernah membuat ia bangga sewaktu masih di bangku sekolah dasar. Pasalnya, guru agama di sekolah itu menjulukinya sebagai anak yang jujur. “Moehammad itu artinya jujur, dapat dipercaya,” kata guru agamanya waktu itu.

Lelaki itu sudah pernah ke Makkah Almukarramah. Sudah dua kali bahkan. Kali pertama saat kota tempat ia tinggal masih dalam situasi perang saudara. Waktu itu, Moehammad dicari oleh aparat keamanan negaranya atas dugaan telah mempengaruhi massa sebanyak dua juta orang untuk menuntut referendum kepada pemerintah. Ini bukan jumlah yang sedikit, karena penduduk di provinsi tetangga Kota Barus itu hanya berjumlah empat juta jiwa. Atas tuduhan itulah, Moehammad kemudian tercatat sebagai salah seroang DPO1. Kalau saja ia tak lari ke Makkah, mungkin nasibnya sudah sama dengan beberapa orang temannya: ‘disekolahkan’ oleh aparat keamanan pemerintahan yang sudah terlatih menggunakan berbagai jenis senjata.

Sembilan tahun silam, Moehammad memang terkenal sangat vokal. Dengan gagah ia berdiri di atas panggung sambil menggenggam alat pengeras suara. Hal ini sering ia lakukan dari panggung ke panggung. Ia beserta beberapa kawannya acap kali memekikkan kata “referendum”. Referendum, bagi dia, adalah nilai kemerdeakaan untuk rakyat, untuk daerahnya. Massa yang terdiri atas lelaki perempuan, anak-anak hingga orang tua, menyambut orasi lelaki tersebut dengan yel-yel “hidup referendum…!” ada pula di antaranya yang meneriakkan “merdeka!” meskipun mereka sangat mafhum bahwa kata “merdeka” sangat “haram” diucapkan di kampungnya, kala itu.

Karena itulah, Moehammad mulai jadi incaran aparat keamanan negara. Ia diburu. Bahkan, sempat ditebarkan isu kepada masyarakat, barangsiapa berhasil menunjukkan persembunyian Moehammad dan teman-temannya, diberikan imbalan seratus juta rupiah, jumlah yang sangat sulit didapatkan oleh masyarakat biasa, apalagi dalam keadaan sedang perang.

Moehammad kemudian melarikan diri ke Makkah. Berselang tiga tahun di Makkah, ia kembali ke kampungnya. Saat itu perang sudah mulai reda. Tak ada lagi istilah DPO. Sepulang dari Makkah, teman-teman seperjuangan mulai menyapa Moehammad dengan “haji”. Gelar Teungku2 yang dulunya sering disematkan di namanya, pudar perlahan-lahan. Karena gelar haji tersebut pula, ia dua tahun kemudian terpilih menjadi kepala daerah, setelah mencalonkan diri secara independen. Banyak orang bilang, Moehammad terpilih sebagai kepala daerah di kotanya karena reputasinya saat masih mahasiswa. Ia dikenal berpihak kepada rakyat kecil. “Kalau saya terpilih menjadi kepala daerah, saya akan tetap masih bersama rakyat. Masyarakat adalah tempat saya hidup dan bermain, sama seperti lima tahun lalu saat saya masih mahasiswa. Perjuangan rakyat belum selesai dengan berhentinya gaung referendum. Kini, kita punya wadah yang lebih luas. Saya akan jadi kepala daerah untuk memimpin daerah ini menuju cita-cita yang madani seperti yang kita cita-cita dahulu,” pekik Moehammad lantang dalam orasinya atas nama partai politik independen.

***

EMPAT tahun sembilan bulan masa itu telah berlalu. Sudah setengah windu lebih ia menduduki kursi kepemimpinan sebagai kepala daerah. Kini, lelaki yang sudah memiliki seorang istri dan dua putri itu kembali mencalonkan diri sebagai salah seorang kepala daerah di provinsi paling ujung Pulau Sematera tersebut. Hanya saja, kali ini ia mencalonkan diri atas nama partai politik, bukan lagi independen seperti lima tahun silam. Moehammad telah memiliki sebuah partai politik dan dirinya dipercaya sebagai Dewan Panglima Terhormat di parpol tersebut, sebuah jabatan paling tinggi.

Hari kampanye partai yang dipimpinnya tiba. Seperti dulu, sewaktu musim perang dan referendum, Moehammad mencari celah dalam masyarakat kalangan bawah. Karena itu, ia tak memilih kampanye di ibukota povinsi. Ia lebih suka berkampanye di kecamatan-kecamatan, yang mungkin menurut dia, masyarakat di wilayah kecamatan lebih mudah dipengaruhi dengan janji kampanye.

Seperti beberapa tahun silam, hari ini, Moehammad akan berdiri di panggung Ibukota Kecamatan Pulau Banyak, sebuah wilayah di sudut provinsinya. Perjalanan menuju pulau itu membutuhkan waktu sembilan jam. Belum sempat tiba ke lokasi, rombongan partai Moehammad dihadang oleh sekelompok orang bersebo.

“Pasukan Moehammad dilarang kampanye di Pulau Banyak. Kami tidak bisa menerima orang yang tidak bisa berlaku adil kepada kami. Mentang-mentang kami tinggal di ujung pulau terpencil, daerah kami ditelantarkan. Empat tahun kami menanti janjimu untuk membangun sarana transfortasi ke daerah kami, sebuah jembatan saja tak kaupenuhi. Janjimu dalam kampanye empat tahun lalu hanya bunga mimpi bagi masyarakat di sini,” kata salah seroang dari pasukan bersebo.

Rombongan Moehammad paham maksud pasukan bersebo tersebut. Mereka sudah mendengar kabar tentang pasukan bersebo yang suka menghadang di jalan seperti saat perang dulu. Dengan sabar, kepala rombongan partai Moehammad turun dari mobilnya. “Dengarkan dulu Saudaraku…” kata ketua rombongan Moehammad dengan bahasa daerah Pulau Banyak. Namun, belum sempat ketua rombongan itu menuntaskan kalimatnya, salah seorang pasukan bersebo angkat suara. “Kami tak butuh mendengarkan apa-apa lagi dari orang yang sangat lihai berjanji. Cepat tinggalkan tempat ini atau kami akan memaksa!”

Dari cara dia bicara dan posisinya berdiri di antara teman-temannya, terkesan lelaki pemilkik suara parau tetapi tegas dari balik sebo itu adalah pemimpin pasukan bersebo tersebut. Tanpa mengulangi kalimatnya hingga dua kali, rombongan Moehammad meninggalkan tempat itu. Moehammad gagal kampanye di Kecamatan Pula Banyak.

Rombongan Moehammad kemudian mengalihkan kampanye ke Kecamatan Gunung Terbang, tak jauh dari Kecamatan Pulau Banyak. Di sana, Moehammad berhasil kampanye. Namun sayang, tak ada seorang pun masyarakat yang datang ke lapangan bola kaki tempat Moehammad kampanye di kecamtan tersebut, kecuali panitia kecamatan yang memang telah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Moehammad.

Tanpa menunggu waktu lebih dari setengah jam, Moehammad akhirnya meninggalkan lokasi kampanye di Kecamapat Gunung Terbang. Ia mulai tak habis pikir, dulu masyarakat di kedua kecamatan itu begitu antusias menyambut kedatangan dirinya. Tetapi kini ia diacuhkan. Namun, hal itu tak memupuskan asa lelaki berbadan sederhana itu untuk kampanye di kecamatan lain di Kabupaten Kepala Naga tersebut. Dalam perjalan pulang dari Gunung Terbang, Moehammad dan rombongan singgah di lapangan bola kaki Kecamatan Sungai Woyla. Di kecamatan ini, saat kampanye referendum, dia sempat dikalungi bunga tujuh warna yang dirajut sendiri oleh masyarakat di sana. Masyarakat Kecamatan Sungai Woyla memang terkenal dengan kreativitas kerajinan tangannya.

Saat yang dinanti tiba. Tepat pukul empat sore, kala matahari perlahan menuruni lembah Geurutee, satu per satu masyarakat Kecamatan Sungai Woyla berkumpul di lapangan. Sesungging senyum mengambang di bibir Moehammad. Bulu halus yang melintang di bawah batang hidungnya sempat tertarik ke belakang mengikuti bibirnya yang melebar tersenyum. Senyum yang sama juga terlihat pada wajah beberapa anggota partai Moehammad yang sudah duduk di panggung.

Membuka acara, beberapa artis dan pelawak dari ibukota provinsi dihadirkan menghibur massa. Begitu melihat Apa Cangklak, seorang pelawak yang sedang naik daun di kota tersebut, seratusan massa mulai berteriak riang. Seusai Apa Cangklak menyuguhkan hiburan, salah seorang caleg dari partai Moehammad maju ke mimbar. Namun, belum sempat caleg tersebut meraih gagang pengeras suara, satu per satu massa meninggalkan lapangan tersebut. Sang caleg terkejut melihat kerumunan massa yang mulai beranjak dari depan panggung. Demikian halnya dengan Moehammad, ia sempat beridiri seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tak sampai seperempat jam, depan panggung kosong, melompong. Massa memadati lapangan hanya sebentar, sekedar menyaksikan lawakan Apa Cangklak, sedangkan saat kampanye Moehammad, tak ada lagi massa.

Wajah Moehammad spontan berubah seperti kepiting rebus. Jangankan kalungan bunga seperti tujuh tahun lalu, mendengarkan orasinya saja, masyarakat Sungai Woyla tak mau. Moehammad terduduk lunglai kembali di kursinya.

***

Malam hari, di peristirahatannya, Moehammad tak tenang. Lelaki berusia nyaris setengah abad itu terlentang di atas dipan empat kaki yang sengaja disediakan anggota rombongannya untuk dirinya seorang. Tangan lelaki itu melipat di dahinya. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamarnya.

Perlahan, ingatannya mulai melayang ke sembilan tahun silam, bahkan lebih lama lagi, saat ia masih semester tiga dan semester empat di jurusan Ilmu Komunikasi. Saat itu, ia berdiri di panggung sambil menggenggam TOA kecil. “Kita harus menuntut yang menjadi hak kita. Kita sudah bayar SPP mahal-mahal, tetapi fasilitas kuliah tidak setimpal kita dapatkan. Dosen saja, masuknya suka-suka hati. Perubahan di tangan mahasiswa. Kita harus berontak!” pekiknya.

Pada semester empat, ia sempat memimpin orasi ke gedung gubernur dan gedung anggota dewan. Waktu itu, ia memimpin mahasiswa mempertanyakan pembangunan di provinsi tersebut. “Apa tugas gubernur? Apa tugas anggota dewan? Apa kalian hanya duduk-duduk diskusi saja?!” katanya sembari meniru selarik syair lagu Iwan Fals.

Kemudian, peristiwa manggung yang tak dapat dilupakannya adalah tahun 1999. Sejarah pun mencatatnya. Kala itu, lebih dari dua juta rakyat berkumpul di halaman Masjid Raya mendengar teriakan referendumnya. Moehammad rindu masa-masa itu, masa orang-orang tua, anak-anak, laki dan perempuan memandang ke arahnya dengan kagum dan bangga. Kala itu, ia merasa seperti penglima perang yang baru saja berhasil membawa kemenangan bagi rakyat. Namun, hari ini beda. Di hadapannya, tak ada seorang pun manusia yang mau mendengar orasinya.

Tubuh Moehammad lunglai. Sayup-sayup ia mendengar sebuah kalimat, “Janji apa lagi yang akan Teungku sampaikan kali ini? Merdeka? Referendum? Bebas biaya pendidikan? Mengentaskan kemiskinan? Memajukan perekonomian masyarakat? Janji-janji itu sudah pernah didengar masyarakat. Mereka hanya butuh bukti, bukan janji.”

Banda Aceh, Maret-Juli 2009

Ket:     1DPO: Daftar Pencarian Orang

2Teungku: sapaan kehormatan bagi lelaki (bahasa Aceh)

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: