Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Keragaman dan Kekayaan Etnis Alas

oleh Herman RN

spanduk ALAAlas adalah salah satu suku yang ada di Aceh. Suku ini terdapat di wilayah Aceh Tenggara. Bahasa masyarakat yang menetap di daerah ini, di samping bahasa Alas, juga berbahasa Gayo. Namun, ada sedikit perbedaan antara bahasa Gayo di Alas dengan bahasa Gayo di Takengon dan Bener Meriah. Mungkin karena itu pula, sebutan “Tanah Gayo” lebih populer dipakai untuk wilayah Aceh Tengah (Takengon dan Bener Meriah), sedangkan daerah Kutacane lebih cenderung disebut dengan “Tanoh Alas” (Tanah Alas).

Kata “Alas” dalam bahasa Alas bermakna ‘tikar’. Barangkali penamaan itu dikarenakan wilayah tersebut menghampar seperti tikar. Karena bentang wilayahnya yang menghampar itu, daerah ini sangat cocok untuk bertani sehingga mata pencaharian masyarakat Alas adalah tani.

Tanoh Alas pada masa lalu dibagi menjadi dua wilayah kekuasaan: kekuasaan Kejerun Batu Mbulan; dan daerah Kejerun Bambel. Setiap kejerun dibantu oleh seorang wakil yang disebut Reje Mude. Halnya di Aceh yang dikenal dengan Tuha Peuet, dalam kearifan Suku Alas dikenal pula Reje Berempat. Setiap Reje Berempat membawahi beberapa kampung atau desa (kute), sedangkan masing-masing kute dipimpin oleh seorang pengulu. Suatu kute biasanya dihuni oleh satu atau beberapa klen (merge). Anggota satu merge berasal dari satu nenek moyang yang sama. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal atau menurut garis keturunan laki-laki. Sistem perkawinan yang berlaku adalah eksogami merge, yaitu mencari jodoh dari luar merge sendiri.

Adat menetap sesudah menikah yang berlaku bersifat virilokal, yang terpusat di kediaman keluarga pihak laki-laki. Gabungan dari beberapa keluarga luas disebut tumpuk. Beberapa tumpuk bergabung membentuk suatu federasi adat yang disebut belah (paroh masyarakat).

Tanaha Alas disebut juga dengan Tanoh Alas. Selain dikenal dengan hasil pertaniannya seperti kopi dan coklat, juga terkenal dengan beragam kesenian tradisi masyarakat etnik Alas.

Kesenian Alas

Alas sebagai sebuah wilayah yang menghampar di Aceh bagian tengah memiliki ragam kesenian tradisi. Sejumlah kesenian yang sangat kental dan dikenal di Alas antara lain pelebat, mesekat, landok alun, dan vokal suku Alas.

Pelebat

Kata “pelebat” berasal dari kata “rubat” yakni suatu perkelahian yang menunjukkan keperkasaan dan kelihaian seseorang menggunakan senjata berupa benda tajam seperti pisau mekhemu atau pedang. Karena pedang hanya digunakan untuk melawan musuh, terutama masa peperangan, dalam kesenian pelebat tidak dibenarkan menggunakan pedang sungguhan. Penggantinya disepakatai berupa sebilah bambu yang sudah diraut.

Kesenian ini biasanya digunakan dalam acara perkawinan, yaitu saat penjemputan mempelai laki-laki dari rumah perempuan. Kegiatan ini disebut dengan nipengembunan. Kedua belah pihak akan mempersiapkan pemain andalannya dalam memperagakan pelebat tersebut.

Mesekat

Kesenian ini merupakan sebuah tarian yang dimainkan oleh anak-anak dan orang dewas secara berkeelompok. Posisi pemain duduk berbaris seperti duduk tawadhuk/ iftirasy (duduk membaca tahyat) dalam salat. Permainan ini menggunakan seorang imam yang disebut dengan kadhi tau syeh yang menjadi panutan dalam setiap gerakan dan syair secara serentak dan serasi.

Landok Alun

Landok Alun merupakan jenis kesenian yang dimainkan dalam posisi berdiri. “Landok” berarti menari, sedangkan Alun berarti lambat. Jadi, kesenian ini berupa kesenian tarian yang dimainkan dengan gerakan lambat. Tarian ini juga mendapat julukan tari alas yang sangat sensitif dimainkan oleh kaum muda laki-laki. Asal-mula permainan ini tatkala masyarakat mencari dan menemukan lahan pertanian/ perkbunan yang lokasinya sangat luas, rata, dan mudah mendapatkan air, untuk diolah dalam bertani.

Vokal Suku Alas

Kesenian vokal suku Alas dibagi menjadi dua bagian: melagam dan tangis. Melagam dipilah lagi menjadi tiga macam. (1) melagam ni lepo, yakni lagu yang disampaikan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta atau mepakhuh dalam menyampaikan salam selamat datang. Vokal ini biasanya disampaikan kepada seorang gadis yang datang saat begahen pada acar pesta perkawinan dan sunat rasul. (2) melagam ni pedo, yaitu kesenian yang dimainkan oleh siapa saya, tak terbatasi usia atau jabatan. Sebelum memainkan kesenian ini, terlebih dahulu diminta izin kepada hadirin andai kata ada pekhangkenen (antara menantu dan mertua). (3) melagam ni jalu, yakni kesenian yang dimainkan oleh dua atau tiga orang yang sengaja diundang saat acara sunat rasul. Biasanya, lagam ini berkisah antara muda-mudi, dari kisah pekenalan hingga ke perkawinan.

Selanjutnya kesenian tangis. Kesenian ini dimaksudkan pada pengantin perempuan sewaktu njaga i. Ada beberapa macam tangis, di antaranya: (1) Tangis Mangikhi, yakni tangis seorang pengantin memanggil kerabat/famili yang hadir untuk mempeusijuk orang yang nikah. (2) Tangis Dhilo, yakni seorang pengantin menceritakan perjalanan hidupnya kepada teman atau sahabat. (3) Tangis Nekhahken Mas Kawin, yaitu adat istiadat kata bertutur tentang kampong kelahiran sampai ke daerah perkawinan. (4) Tangis Nohkan Bekhas Seselup Lawe Sentabu, yaitu mohon maaf dan minta petunjuk kepada sanak keluarga semoga hidup di tempat yang baru. (5) Tangis Tukhunen, yaitu kisah menitipkan orangtua kepada kerabat lelaki. (6) Tangis Ngehawinken, yaitu tangis jawaban yang diminta mempelai perempuan berupa petunjuk, nasihat, dan pesan-kesan. (7) Tangis Ngehawinken, yaitu tangis jawaban yang diminta mempelai perempuan berupa petunjuk, nasihat, dan pesan, serta kesan. (8) Tangis Mbabe Senubung.

Alat Tradisional

Di samping jenis kesenian, suku Alas juga memili alat-alat kesenian tradisional, di antaranya canang situ (dari tembaga), canang buluh (dari bambu), bagsi (dari bambu kecil), genggong (alat musik tiup dari dari getaran besi yang ditempa), oloi-oloi (dari jerami padi), dan keketuk layar (dari bambu atau kayu).

Menilik keragaman kesenian tradisi suku Alas, memperlihatkan bahwa daerah ini menjadi salah satu kebanggaan bangsa Aceh. Namun, anggapan ini bisa saja luntur manakala Alas menjadi ALA (Aceh Leuser Antara). Akankah terjadi? Sebab, pepatah Gayo mengatakan, “Beluh sara loloten, mowen sara tamunen, bulet lagu umut, tirus lagu gelas, rempak lagu re, mususun lagu belo”.*

sumber tulisan ini di majalah “tuhoe” terbitan JKMA Aceh

Iklan

Filed under: Feature

2 Responses

  1. info yang sangat bagus, kritis dan membangun….. trim’s

  2. vendri berkata:

    ass. senjata tradisional suku alas apa? trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: