Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

JANDA

Cerpen Herman RN

jandaSungguh sangat beruntung janda itu. Meski hanya tinggal berdua dengan anak gadisnya yang masih belia, setiap hari ada saja orang yang datang melihat keadaannya. Orang-orang yang datang itu terkadang membawakan beras, minyak tanah, minyak makan, makanan ringan, dan kebutuhan lainnya. Bahkan pernah seorang lelaki berdasi memberikannya jilbab sekaligus dengan baju.

Janda itu tinggal di sebuah rumah di sudut gampoeng Lam Peudeh. Rumah panggung yang terbuat dari pelepah rumbia itu belakangan ini sering didatangi orang-orang yang membawa mobil mengkilap. Sangat tidak sedap dipandang mata sebuah mobil Avanza, Marcy, atau Panter, beridiri di halaman seukuran seper-empat lapangan bola kaki, namun di depannya terdapat sebuah rumah berdinding pelepah dan atap daun rumbia. Tapi begitulah, rumah Janda itu sering dikunjungi orang.

Dia seorang istri bekas pejuang. Suaminya meninggal dalam peperangan antarsuku dua tahun lalu. Satu-satunya warisan suaminya hanya seorang anak perempuan yang sekarang sedang menempuh pendidikan di bangku sekolah dasar.

Melihat belakangan ini banyak yang datang ke rumahnya, salah seorang tetangga janda itu bertanya suatu hari, “Mengapa kau tidak menikah lagi? Bukankah akhir-akhir ini banyak yang datang menjengukmu?”

Janda itu hanya tersenyum mendengar tutur tetangganya. “Saya ini seorang janda.” Katanya.

“Semua orang tahu kalau kau janda. Tapi coba kau lihat tamu-tamu yang datang itu. Saya yakin pasti ada salah seorang diantara mereka yang jatuh hati padamu.”

“Saya ini sudah tua, Bu. Bukan hanya janda, tapi juga miskin.”

“Ah, itu kan hanya alasanmu. Katakan saja kalau kau masih ingat suamimu.”

“Perempuan mana yang tidak pernah mengingat suaminya, Bu?”

“Iya, tapi…”

“Sudahlah, Bu. Tamu-tamu itu datang bukan untuk saya.”

“Jadi?!”

“Mereka datang untuk mereka.”

“Maksudmu?”

“Ah, sudahlah. Saya hendak memasak dulu, sebentar lagi si Upik pulang sekolah. Bukankah Ibu katakan tadi kalau Ibu juga hendak ke Pasar? Nanti kesiangan.” Kata janda sambil tersenyum.

“Kau selalu seperti itu. Ada saja alasanmu untuk memutuskan pembicaraan.”

Janda itu masuk ke dalam rumahnya dan tetangganya berlalu meninggalkan halaman rumah yang tak berpagar itu.

***

Suatu hari, di halaman rumah janda itu kembali beridiri sebuah Toyota coklat. Di dinding kiri kanan Toyota tertempel gambar dua orang berpakaian rapi. Orang dalam gambar itu mengenakan jas hitam dan peci yang biasa dipakai orang sembahyang. Di atas gambar tertera angka 3.

Dua orang lelaki turun dari mobil. Salah seorangnya mirip yang ada dalam gambar. Lelaki itu memberi salam. Janda mempersilakan keduanya masuk ke dalam rumah.

“Silakan duduk, Tuan. Saya ambilkan air putih.” Ujar janda sambil bergerak hendak ke dapur.

“Tidak usah, Bu. Kami hanya sebentar. Sekedar silaturrahmi.” Kata salah seorang lelaki itu, seorang lagi hanya tersenyum sambil mengangukkan kepala.

Begini, Bu Fatimah. Tidak lama lagi di gampoeng kita ini akan diadakan pemilihan Bupati secara langsung. Bapak Juanda ini salah satu calon bupati kita. Kebetulan kami lewat di depan rumah Bu Fatimah. Kami dengar kabar kalau Bu Fatimah jarang keluar. Kami hendak memberitahukan, kalau tanggal sebelas nanti kita sama-sama datang ke tempat pemilihan.

Janda yang sebenarnya bernama Fatimah itu hanya diam.

“O ya, Bu. Ini ada sedikit ole-ole dari Pak Juanda.” Lelaki itu menyodorkan selembar amplop ke hadapan Fatimah.

“Ini apa, Tuan?”

“Hanya sekedar silaturrahmi. Siapa tahu Bu Fatimah membutuhkannya. O ya, ini photo Pak Juanda. Dia calon bupati kita yang kelak akan membangun jalan di gampoeng Lam Peudeh ini.” Ujar lelaki itu kembali seraya memberikan selembar gambar yang sama dengan gambar orang yang ada di dinding Toyota. “Yang seorang lagi itu pasangan Pak Juanda. nanti kalau Pak Juanda terpilih, dia akan jadi wakil Pak Juanda, “ lanjut lelaki itu.

Selepas menyerahkan amplop dan gambar, kedua lelaki itu menuruni tangga rumah Fatimah. Janda itu mengikuti kedua orang tersebut dan melepas kepergian Toyota dari rumahnya. Amplop didekapnya di dada dan matanya terpicing sambil mulutnya megucapakan kata syukur.

***

Hari berikutnya, sebuah Panter warna merah berdiri di halaman rumah Fatimah. Tiga orang lelaki baru saja menuruni tangga rumah rumah Fatimah.

“Ini gambar Pak Arifin, calon bupati kita. Ingat saja nomornya, nomor 1. Nanti kalau Pak Arifin sudah jadi bupati, beliau akan memberikan pekerjaan kepada kaum janda.” Ujar salah seorang dari lelaki itu.

“Ini sekedar modal usaha.” Ujar salah seorang lagi seraya menyerahkan selembar amplop. “Ini juga ada sedikit minyak makan.” Ujarnya kembali sambil memerintahkan seorang pemuda di mobil Panter agar menurunkan sebuah jereken berisi minyak makan.

Begitulah setiap hari, ada saja mobil mengkilap yang berdiri di halaman rumahnya. Dan orang-orang yang membawa mobil itu selalu meninggalkan pesan kepada Fatimah setelah menyerahkan sesuatu.

“Jangan lupa, Pak Zainal dan Pak Supri nomor delapan.”

“Pak Ikhsan nomor lima ya, Bu Fatimah. Ini photonya.”

“Pak Khairul nomor dua. Nanti beliau akan memberikan rumah bagi fakir miskin.”

“Kalau lupa wajahnya, ingat saja nomornya. Pak Thaib nomor 7, Bu. Beliau akan memberantas korupsi di daerah kita. Kita sangat butuh orang-orang yang bersih dari korupsi seperti Pak Thaib.”

“Sebelah jari tangan kita kan lima, Bu. Kalau Ibu ingat jumlah sebelah jari tangan, Ibu akan mudah ingat nomor Pak Saiful.”

Begitulah saban hari. Setelah seminggu, janda itu melihat kembali gambar-gambar yang diberikan padanya. Ada delapan buah gambar yang berbeda, berarti ada enam belas wajah yang akan dipilihnya.

Pernah suatu hari anaknya hendak menempelkan salah satu gambar itu di depan pintu, tetapi Fatimah melarangnya.

“Jangan pernah kamu tempelkan satu pun gambar-gambar ini, nanti tak ada lagi orang yang datang ke rumah kita membawakan beras atau baju.”

“Tapi, Mak kan disuruh pilih satu saja. Mak pilih siapa? Biar gambar itu yang saya tempel di depan pintu kamar.”

Janda itu diam. Ditatapnya wajah-wajah dalam gambar satu per satu. Lalu dia tersenyum.

“Besok tanggal sebelas ya, Nak?”

***

Hari senin, 11 Desember. Lapangan bola kaki gampoeng Lam Peudeh dipadati penduduk setempat. Di sebelah kiri lapangan terdapat lima buah kamar ukuran kamar mandi. Di sampingnya ada sebuah tenda dan kursi-kursi. Kursi-kursi itu diduduki orang-orang berpakaian rapi. Di atas meja terdapat sebuah kertas bertuliskan ‘Tim Pemantau’. Sementara itu di tengah lapangan, orang-orang sedang menunggu giliran namanya dipanggil. Di sana juga ada Fatimah dan anaknya.

Dari pengeras suara terdengar nama Fatimah dipanggil. Janda itu melangkah ke hadapan meja Tim Pemantau. Diambilnya selembar kertas terlipat yang diserahkan Tim Pemantau, lalu masuk salah satu kamar. Sesampainya di dalam, Fatimah membuka kertas itu. Terlihat olehnya empat belas wajah yang kemarin beberapa diantaranya pernah ke rumahnya membawakan beras, baju, jilbab, amplop, dan minyak.

Lama Fatimah memandang kertas itu. Diputar-putarnya beberapa kali, lalu dilipatnya kembali. Sambil mengipas-kipaskan kertas tersebut di depan dadanya, Fatimah keluar dari kamar kecil itu. Kemudian kertas itu dimasukkannya ke dalam salah satu kotak di hadapan Tim Pemantau.

“Kita sudah selesai, Nak. Mari pulang. Mak belum memberi makan ayam.” Kata Fatimah kepada anaknya.

“Mak, Mak menusuk gambar yang mana?”

Fatimah hanya tersenyum.

“Mak, katakan padaku, Mak tusuk photo siapa?” kata anaknya sambil menarik-narik tangan Fatimah.

“Semua.”

“Semua?!”

“Semua.”

“Mengapa semua, Mak?”

“Karena semua sama,” ujar janda itu sambil bergegas ke luar dari lapangan bola Lam Peudeh.

***

Banda Aceh, Desember 2006

tulisan ini sudah dimuat di Harian Aceh

Herman RN, cerpenis dan pegiat kebudayaan di Banda Aceh.

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: