Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Magic Show: 186 Jurus Seni Kebal Kota Juang

oleh Herman RN

magicshowAceh kaya seni dan budaya adalah hal yang tak dapat dipungkiri. Aceh memiliki seni ukir, seni lukis, seni tafsir, hingga seni pertunjukan yang di dalamnya juga memiliki beragam bagian-bagian, seperti pertunjukan tari-tarian, pertunjukan teater (drama, sandiwara), dan pertunjukan debus.

Beragam kesenian tersebut tersebar di seluruh daerah dalam Provinsi Aceh. Bireuen salah satunya. Untuk kesenian sandiwara saja, Bireuen memiliki sebuah sanggar yang sangat terkenal di era tahun 70-an, bahkan sanggar tersebut boleh jadi dianggap sebagai pelopor seni pertunjukan sandiwara di Aceh. Sanggar itu diberi nama Geulanggang Labu.

Ternyata kesenian di Bireuen tak cukup hanya sampai di sini. Kendati sudah berpisah dengan Aceh Utara yang dikenal dengan Rapa’i Pasenya, Bireuen masih memiliki sebuah kesenian pertunjukkan. Kesenian yang memperlihatkan kekebalan tubuh seperti tak mempan dimakan benda tajam itu mereka beri nama “Magic Show”. Hanya saja, kesenian ini jarang dipertontonkan kepada masyarakat luas sehingga kurang dikenal masyarakat umum.

“Kami kurang dana, makanya agak sulit memperkenalkan kesenian ini ke luar. Untuk kebutuhan peralatansaja kami masih kewalahan,” ujar Ridwan, pembina LSM Magic Show Gelanggang Labu, didampingi pembina lainnya, H.Teuku Muhammad Amin bin Ishak, Teuku Nurdin, dan Teuku Abdul Razak.

Lembaga yang berkantor di Jalan Kuburan nomor 10, Lorong Lhokpeunteut, Kabupaten Bireuen, itu bergerak dalam dua bidang: Seni Pertunjukan Magic dan Pengobatan Tradisional.

“Sambil main (pertunjukan seni kebal-red), kami juga bisa mengobati orang sakit. Sakit yang tidak bisa diobati oleh dokter pun, insyaAllah bisa kami sembuhkan,” kata Ridwan

Kebal, Bukan Debus

Kendati yang dipertontonkan grup kesenian itu berbau mistis kebal seperti debus, Ridwan menegaskan, yang dimainkan grup Magic Show bukan debus, melainkan seni magic. “Ini bukan debus, kami menyebutnya dengan seni magic show. Kalau debus diiringi dengan musik rapa’i, sedangkan peremainan kami tidak. Kami mengiringinya dengan musik keras seperti musik rock dan disco,” tutur Ridwan.

Namun demikian, menurut Ridwan, musik keras tersebut bukanlah sebuah keharusan. Sesekali mereka juga bisa main dengan musik slow. “Musik keras ini untuk semangat. Pemain akan semangat menunjukkan aksinya. Mereka bisa main sambil goyang mengikuti irama musik. Demikian juga penonton, mereka akan terbawa alunan musik keras tersebut. Jadi, sambil menonton pertunjukkan, secara sadar dan tidak, penonton pun bisa ikut bergoyang,” tandasnya.

Hal senada dikatakan juga oleh Mas Yoga, guru besar yang menjadi pelatih grup Magic Show, sekaligus juga salah seorang pemain. “Kami main diiringi dengan musik keras,” ucapnya.

Menurut Ridwan, saat ini grup seni kebal itu sudah memikili 186 jurus atraksi magic. Dia mencontohkan, menarik mobil giling dengan rambut, potong leher sampai putus kemudian disambung lagi, mengebor badan hingga tembus, berdiri di atas bola lampu dan tidak pecah, berdiri di atas koran, lalu diangkat, tapi koran itu tidak robek.

“Ini baru sebagiannya, masih banyak lagi, ada 186 jenis sampai saat ini. Hanya saja kami kekurangan dana untuk menyosialisasikannya kepada masyarakat umum,” beber Ridwan.

Terkait itu, dirinya mengaku sudah pernah meminta bantuan kepada beberapa pihak, namun realisasinya belum ada, sehingga mereka hanya dapat main alakadarnya, yakni sesuai alat yang tersedia. “Padahal, kami hanya minta bantuan alat, misalkan mau merebus manusia hidup-hidup, di mana kami harus mencari belanga besar, atau mau menarik mobil giling, kemana kami harus mencari mobilnya. Nah, ini semua kan butuh dana, belum lagi setiap darah yang keluar dari tubuh manusia harus dibayar. Dipotong leher misalnya, sampai putus. Meskipun dapat disambung lagi, darah tetap keluar. Darah ini harus dibayar,” pungkasnya.

Walaupun kesulitan dan kekurangan alat, mereka tetap masih bersikukuh memperkenalkan kesenian tersebut kepada masyarakat umum. Untuk itu, setiap ada permintaan main, semisal pada acara-acara pesta atau pegelaran seni, mereka selalu berusaha untuk tampil. “Kesenian ini perlu ditampilkan agar masyarakat tahu, di Aceh juga memiliki kesenian jenis ini. Ini perlu disosialisasikan, makanya kami masih tetap berusaha, meskipun kekurangan dari segi dana,” ujar Ridwan yang sekarang bekerja di Humas Polres Bener Meriah.

Iklan

Filed under: Feature

One Response

  1. bos rayeuk berkata:

    beu ta teupu lé gata,nyan mandum sihèè

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: