Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kue

Cang Panah Herman RN

Kue ini beda dengan kue yang dimasak emak-emak pada bulan puasa. Beda pula dengan kue-kue yang dijual di kaki lima atau warung kopi atau yang ada di kantin kampus dan kantin sekolah. Kue satu ini adonannya dari dalam negeri yang dilakoni oleh orang luar negeri. Sangking bedanya, pembuatan kue ini ditenderkan! Begitu kata berita kubaca di koran-koran. Karenanya, tak salah dana untuk membuat kue ini miliaran rupiah. Bahkan, sampai Rp4,5 miliar lebih.

Melihat kebutuhan untuk membuat kue ini mencapai miliaran, tentu adonannya tidak dibuat sembarangan. Selain itu, butuh banyak orang untuk membuat kue ini, karena akan dicicipi langsung oleh presiden. Entah karena itu, Apa Ma’in di Nagari Angin-Angin keciprat sebagai salah seorang tukang adon kue tersebut. Ah, tapi itu belum seberapa. Abu Cangklak dari kampung saya juga dapat bagian.

Memang, banyak orang yang berebut hendak memperoleh bagian tukang adon kue tersebut. Namun, karena cara mendapatkanya sangat sulit, berbagai taktik tak urung dilakoni orang-orang, mulai dari tukang becak sampai tukang jual badak. Tujuannya satu, mendapatkan kue super mahal tersebut.

Itulah yang dilakukan oleh Abu Cangklak kampung saya. Berbekal kemahirannya merangkai syair, ia berhasi memperoleh bagian dari kue tersebut. Tak tanggung-tanggung, dengar-dengar Abu Cangklak dapat bagian tukang aduk tepungnya. Waw..pasti besar dapat bagian dia. Harga tepung kan mahal sekarang.

Begini cerita Abu Cangklak sehingga dipercaya sebagai tukang aduk kue itu. Mulanya, ia sama seperti Pawang Sam, tak dapat apa-apa dari pembagian kue itu. Namun, Abu Cangklak kemudian menulis sebuah syair yang bercerita tentang adonan kue yang cocok untuk dana miliaran. Dia akhirya diberikan mandat untuk mencari dan mengaduk tepung.

Lain halnya dengan Ketua Lorong gampông saya. Ia sangat mafhum kalau persoalan adonan kue tersebut sudah diserahkan oleh geuchik kepada orang luar. Kebutuhan untuk membuat kue itu sudah didagangkan dan yang berhasil membelinya adalah orang dari Nagari Angin-Angin. Semestinya, Ketua Lorong kampung saya tidak ikut campur lagi persoalan adonan kue tersebut. Akan tetapi, itu tadi persoalannya, dana untuk membuat kue ini teramat besar. Kalau boleh dibilang, sangat dahsyat. Makanya, Ketua Lorong kampung saya mencari celah untuk ikut dapat bagian mengaduk kue tersebut.

Di sisi lain, pemenang tender pembuatan kue tersebut juga lihai ‘bermain asap’. Ia sangat tahu ada beberapa ‘preman pulpen’ di gampông saya yang mesti disumpal mulutnya. Kalau tidak, persoalan kue itu akan ditulis oleh preman-preman pulpen tadi, entah dalam bentuk syair seperti Abu Cangklak atau mungkin dalam bentuk puisi. Karena itu, sejumlah penyair pun diberi bagian dari kue tersebut dan mereka akhirnya memang diam. Bagi rame-rame, begitu sederhananya. Sudah dapat bagian, diam adanya. Hahaha…

“Punya kue itu, memang harus dibagi-bagi,” komentar Pawang Dolah. Namun, ia sendiri berpikir, untuk apa dapat jatah kalau kerja mengaduk kue itu tidak jelas. Masa nama Pawang Dolah ditulis sebagai salah seorang tukang aduk kue tersebut tapi kerja tersebut tidak pernah ia dapatkan sampai sekarang. Pawang Dolah berpikir, makan uang adonan kue itu tanpa keluar keringat, sama saja PNS yang makan gaji buta atau pejabat yang makan uang rakyat. Karena itu, Pawang Dolah memilih tak open saja dengan hiruk-pikuk pembagian kue tersebut. Ia menganggap sudah mundur dari perkumpulan para tukang aduk kue.

Akan tapi, Pawang Dolah masih melihat geliat teman-teman sepropesinya yang sedang menjadi bubè dua jap seureukap dua muka, terus saja mengejar cara untuk mendapatkan bagian. Sedangkan di tempat lain, beberapa teungku yang mengaku idealis, tidak mau makan uang proyek, ternyata bak pèng gadöh janggôt, bak burôt gadoeh ulama. Begitulah demi kue tersebut. Apalagi, kabarnya kue itu dibungkus dengan sendi adat dan syariat sehingga diberi nama Peuneugot Kue Adat (PKA). Alah hom keuh. Semoga saja kue itu tidak cepat basi.

Iklan

Filed under: Haba-haba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: