Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kesenian Setelah Si “Burung Merak”?

Oleh Herman RN

Harian Aceh, 16 Agustus 2009

aku“Tiba-tiba aku jadi muak pada seniman-seniman muda yang tidak mempunyai tenaga, tidak mempunyai kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman.” (Keagungan Penari-penari Losari, 1982).

Kalimat tegas itu dilontarkan budayawan kharismatik (Alm) W.S. Rendra, 27 tahun silam, saat ia menonton seorang penari tua (sekitar 70 tahunan kala itu) di Losari Cirebon. Pasalnya, penari itu terlihat agresif dan ekspresif dalam gerakan-gerakan tenaganya seperti anak muda. Karenanya, lelaki bernama lengkap Willibrordus Surendra Rendra Bawana Rendra tiba-tiba saja merasa ada yang paradoks dalam pikirannya. Ia mengamati ada seniman tua yang masih kuat berkesenian, tetapi di sisi lain kehidupan berkesenian generasi muda terlalu terpedaya dengan alam maya, alam nalar semata.

Inilah yang kini melanda proses kesenian di Aceh. Jika beberapa waktu lalu, semasa masih hidup Hasyim KS, Nurgani Asyik, Maskirbi, Mukhlis, dan kawan-kawannya, dunia kesenian Aceh terdengar masygul hingga ke luar—belum lagi kalau kita membalik lembaran sejarah Chik Pante Kulu, Hamzah Fansyuri, Abdul Karim, Nuruddin ar-Raniry, dan lain-lain, kesenian di Aceh sekarang ini masih dipertanyakan. Dalam usia yang sudah berbau tanah itu, para seniman terdahulu masih terlihat ekspresif berkesenian (bersastra). Mengingat itu, rasanya patut malu saya lahir terlambat. Namun, apa boleh buat, kata guru saya, “Tiap orang ada masanya, tiap masa ada orangnya.” Kelahiran dan kematian sudah menjadi takdir Tuhan yang tak seorang pun sanggup mempercepat atau memperlambat. Hal ini pula yang juga tengah dirasa dunia kesenian, terutama di Indonesia, atas ‘terbangnya si Burung Merak Rendra’ ke arasy Sang Pencipta.

Terlepas dari semua itu, berbekal “kemaluan” yang masih saya miliki inilah, segores resah saya susun menjadi per kalimat, tentunya seusai mencermati penggalan pidato Mas Willi di Losari tersebut. Saya berharap, penggalan pidato tersebut cukup menjadi ‘obituary’ Rendra bagi yang masih tinggal di dunia ini—terutama pelaku seni—di samping gelinjang obitaury-obituary yang dikirimkan seniman (sastrawan) kepada si Burung Merak.

Petikan pidato tersebut jelas memperlihatkan keresahan si Burung Merak terhadap seniman-seniman muda. Seniman-seniman muda masa Rendra mungkin boleh jadi ai dan teman-temannya sendiri sehingga keresahan Rendra kadang dapat mewakili keresahan sebagian teman-temannya. Dalam konteks sekarang, seniman muda dimaksud sebut saja pelaku dan pegiat seni seusia mahasiswa hingga yang 40-an, yang semestinya memperlihatkan eksistensi dan ekspresi diri mereka di kancah kesenian.

Untuk wilayah Aceh, ada pemeo berkembang bahwa kegiatan kesenian kaum muda tidak jalan karena tidak ada dukungan dari yang tua-tua, di samping juga kepedulian pemerintah daerah. Hemat saya, persoalan kepedulian seniman tua tak dapat dijadikan standar ukur eksistensi seniman muda. Namun, kebutuhan ‘tangan’ Pemda dan Dewan Kesenian, pasti saja sangat perlu.

Seperti saya sebutkan di atas, tak perlu membuka lembaran sejarah terlalu lampau, sekedar mengingat erah ’90-an hingga pratsunami saja, cukup ditarik simpul bahwa kegiatan kesenian di Aceh sekarang ini jauh menurun. Seniman-seniman sekarang terlalu manja dengan ‘bantuan’. Kalau tidak ada ‘bantuan’, kegiatan seni disebut-sebut sulit jalan. Akibatnya, lahan kesenian menjadi lahan proyek. Berkesenian tidak lagi karena hobi dan kebutuhan terhadap dunia seni, melainkan ‘kebutuhan’ akan periuk nasi.

Sekali lagi saya harus merasa malu, saat mendengar beberapa cerita dari seniman-seniman ‘berumur’ di Banda Aceh sekarang ini. Menurut beberapa seniman senior itu—tak perlu saya sebutkan nama satu per satu karena takut nanti ada yang ketinggalan—masa-masa Hasyim KS, Maskirbi, Nurgani Asyik, dkk. Mereka berkesenian penuh semangat, tuntutan hobi dan kebutuhan terhadap seni itu sendiri. Mereka membaca puisi di beberapa tempat walau tanpa bayaran.

Antikritik

Dan yang paling membuat saya takjub adanya kegiatan “Pengadilan Seni/Sastra” yang di dalamnya boleh jadi “Pengadilan Puisi” atau “Pengadilan Cerpen”. Kegiatan tersebut digagas oleh sejumlah seniman tua di atas saat mereka di Dewan Kesenian Aceh (DKA). Kabarnya, kegiatan itu tidak memakai dana yang begitu berlimpah apalagi dengan proposal segala. Akan tetapi, kegiatan tersebut dapat berjalan lancar. Bahkan, dilakoni secara kontinyu. Tentu saja ini berkat dukungan DKA masa itu. Pertanyaanya adalah ada apa dengan DKA sekarang ini? Mandulkah? Jika memang ‘mandul’, mengapa tidak diambil alih oleh Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB)? Atau karena dugaan bahwa seniman sekarang tidak suka dikritik, melainkan lebih suka mengkritik saja?

Boleh jadi alasan terakhir itu benar. Hal ini saya temui dalam beberapa komentar saya terhadap beberapa hasil pementasan seni teman-teman muda. Setiap ada komentar yang tujuannya untuk perbaikan ke depan bagi kelompok seni tersebut, selalu saya disuguhi kalimat lebih kurang, “Itu sudah untung kami berbuat. Coba kamu, bisa pun tidak.”

Ironisnya lagi, beberapa waktu lalu saya sempat membaca status wall seorang teman di facebooknya yang mengungkapkan kata-kata makian hanya karena penilaian, “Mungkin sudah waktunya alat musik pementasan itu dibeli yang baru untuk perbaikan ke depan.” Karena komentar itu, makian yang dikeluarkan teman saya tadi sangat sadis. Andai dibaca oleh orang luar makian itu, ketahuanlah bahwa teman saya ini sangat antikritik dalam berkesenian. Maka pertanyaannya adalah untuk siapa dia berkesenian kalau tidak boleh penonton memberi penilaian?

Nah, bila saja “pengadilan seni” masih ada di zaman ini, sungguh saya tidak tahu temeunak bagaimana yang akan ditombakkan teman saya itu kepada tim pengadilan tersebut tatkala disebutkan semisal “Ini bukan karya seni.”

Degradasi Pemikiran

Mungkin inilah yang dimaksudkan Rendra bahwa seniman muda saat ini tidak memiliki “kelurusan pikiran dan pengendapan pengalaman”. Jelas, ketidakmauan menerima penilaian dari orang adalah degradasi pemikiran. Menurut saya, lebih baik orang-orang seperti ini tidak berkesenian. Kalaupun harus berkesenian, cukuplah di rumah sendiri. Akan tetapi, mesti diingat bahwa karya seni—termasuk karya sastra—diciptakan untuk dinikmati. Maka setelah karya tersebut diperlihatkan kepada audiens, ia bukan lagi seutuhnya milik pencipta/pengarang. Jika takut dinilai dan dikomentari oleh penikmat, simpan saja karya tersebut di dalam peti dan kunci dengan sembilan puluh sembilan terali besi.

Saya kira, membina kesabaran dalam berkesenian sangat perlu sama perlunya terhadap keberanian mengeksplorasi kesenian. Hal ini seperti kata Rendra juga, “Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Selamat jalan Seniman W.S. Rendra.

Herman RN adalah penikmat seni dan sastra. Mantan pengurus Gemasastrin dan Teater Nol Unsyiah.

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: