Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kue Adat

Cerpen Herman RN

Pat gulipat orang-orang merapat bersesak erat di ruang bersekat ukuran empat kali empat itu. Kabarnya, ada kue yang sangat memikat, dibungkus kertas mengkilat, cukup untuk mendirikan gedung bertingkat. Kertas balutnya, sudah ditandatangani oleh pejabat negeri, pertanda sah kue adat untuk dibagi-bagi. Maka, serupa pawai takziah di rumah orang mati, perempuan dan laki mencari bagi. “Kita ada jatah untuk kue itu,” kata seorang lelaki yang kepalanya tanpa rambut lagi.

“Ya, sebagai pengamat seni, aku juga harus dapat bagi,” sahut seorang lelaki lagi.

Dari sinilah bermula kisah itu jadi, perempuan dan laki, perupa dan penari, pegiat dan pengamat seni, pengusaha maupun pegawai negeri, siswa maupun siswi, mendekat sambil berlari, mengharap kue itu dapat dibagi, “Bagi ramai-ramai!” pekik mereka.

Tak ketinggalan pejabat dan rakyat, yang kaya maupun yang melarat, yang alim maupun yang keparat, yang berpakaiaan longggar maupun yang berpakain ketat, tukang sapu dan yang punya pangkat, berserabut kuat menulis surat. Surat itu kemudian ditujukan kepada pemangku kue berkilat yang dimenanginya melalui pengajuan uang berlipat. Ya, sebuah lembaga mengatasnamakan peduli budaya adat telah berhasil menarik simpati lelang pejabat untuk memangku kue besar nan berat, yang kelak dikupas lepas, dibagi kelas, dalam perhelatan besar tentang tradisi dan adat di kampung luka parut bekas amuk laut surut.

Kabarnya, kue itu sangat besar sehingga memang mesti untuk acara yang akbar. Rencananya, memeriahkan pembukaan kue adat akan hadir negara belahan dunia. Makanya, semua orang, mulai dari yang muda hingga yang tua, pria dan wanita, pengangguran maupun mahasiswa, bakal dapat pembagian, walaupun tak dipukul rata. Namanya, bagi ramai-ramai atau BRR.

Seorang lelaki yang boleh dikata belum cukup tua, awalnya menolak perhelatan adat kue berkilat tersebut. “Belum tepat waktu,” ungkapnya dalam secarik kertas, yang ditulisnya secara lugas dan tegas, serta dapat dimaknai secara luas. “Tunda saja dulu berhelat adat kue mengkilat karena waktu yang belum tepat, karena saat bulan puasa hampir merapat. Selepas lebaran sakral milik umat Muhammad nanti, barulah berhelat ria atas nama adat dengan mengundang negara berjabat di kampung kita,” usul lelaki itu dalam surat dukanya.

Tanpa sempat berbilang minggu perjalanan waktu surat itu dibaca, si lelaki mendapat telepon dari pusat bahwa ia mendapat jatah bagi ramai-ramai kue adat. Tak tanggung-tanggung, si lelaki dipercayai memegang kendali komunikasi. “Waw…” kejut seorang teman yang juga sama propesi dengan lelaki aktivis seni yang kini jadi pemangku komunikasi. “Apakah untuk mendapatkan bagian kue adat kita mesti menulis surat?” keluhanya kemudian.

“Namaku sudah ada dalam surat keramat kue adat. Tentunya aku layak mendapat bagian tumpuk kue tersebut,” kata teman lainnya.

“Bersenanglah kau karena tanpa mesti menulis surat sudat dapat kerepoh upeti rakyat yang dibungkus dalam kertas mengkilat,” sahutku.

“Tidak! Justru gelisah melintang pukang dalam hatiku seperti ditusuk pucuk ilalang. Sesudah waktu panjang berbilang setelah telepon itu datang, belum ada seutas benang yang patut kutenun selendang. Sedang di seberang, mereka para ulubalang memang sedang tertawa riang mencolek bagian,” kata teman itu lagi.

“Lho…seharusnya  kau senang karena tanpa keringat kau tetap dapat jatah yang berlipat.”

“Maaf, aku tak sama melaknat!” sergah teman itu sembari mengisahkan bahwa kue adat tersebut sudah menjadi rebutan hebat yang berpuncak pada tuding-tudingan. Karena kue itu akan dibuka dalam perhelatan adat dan budaya, pemangku pertama saling tukar kerja dengan sejumlah penguasa. Makanya, kata temanku itu, sampai empat belas hari lagi menjelang peringatan adat, belum ada penanda bahwa taman pusaka akan diisi peragaan keramat. Sampah dari kaleng susu dan kaleng minuman, kertas keras bungkus rokok dan kertas lentur bekas lulur, masih berserabut kusut di muka taman paling sudut. Pemenang pangku kue adat mengatakan sampah urusan pejabat, sedangkan pejabat berucap taman sudah diserah pasrah kepada pemangku kue adat.

Saling tuding dan tolak urus terus berguling seperti gasing antara pemangku dan pejabat, pemenang tender dan penguasa. Surat keramat pun diteken ganda antara raja dan wakilnya. Kue itu akhirnya entah jadi milik siapa. Namun, mereka mengatakan, kue adat adalah milik rakyat. Maka mesti dibagi ramai ramai mulai dari penanam tomat hingga pembuat pesawat, atau perang kembali berkecamuk, tapi kali ini antara saudagar dan saudara.

Iseng sembari kerja, kucoba menjingau lewat jendela, seperti apakah kue adat yang mencipta banyak laknat di kampung luka sarat ini? Ah, ternyata hanya bungkusan yang tertulis “PKA”.

Herman RN, menulis cerpen di media lokal dan nasional

Iklan

Filed under: Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: