Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

17-an, Dulu dan Sekarang

Oleh Herman RN dan Thayeb Loh Angen

panjatTahun kemarin dan tahun-tahun tatkala Aceh masih dalam kecamuk konflik bersenjata, perhelatan kebudayaan atas nama 17 Agustus-an sangat semarak. Kami ingat benar, bahkan di beberapa daerah basis konflik sekalipun, tidak lepas dari kibaran merah putih. Sepanjang jalan, gedung-gedung sekolah dan instansi pemerintahan, penuh dengan umbul-umbul serta bendera Sangsaka Merah Putih sebagai tanda Aceh masih bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tahun ini, warna itu berubah. Kami tidak tahu pasti penyebabnya. Jika di Temanggug, Jawa Barat, beberapa desa memang tidak ada semarak patriotisme 17 Agustusan. Hal ini diakui oleh masyarakatnya karena mereka masih trauma dengan penggerebekan dan pengeboman rumah yang diduga tempat bersembunyi teroris Nurdin M. Top. Akan tetapi, di Aceh, konflik telah berlalu. Senjata sudah dipatahkan sejak September 2005 lalu, seusai perjanjian damai di Helsinki. Sesuai MoU itu pula, Aceh diakui masih bagian dari NKRI. Karena itu, setelah perjanjian damai, meriah “Merah-Putih” masih merona setiap Agustus di tanah Fansyuri ini.

Mengenang sejenak masa konflik Aceh yang menjadi catatan sejarah panjang bangsa ini, kemeriahan 17 Agustusan sangat jelas. Bahkan, pada pertengahan bulan Juli saja, rumah-rumah sudah dihias, diperindah. Pagar-pagarnya diberi warna merah dan putih. Kalau perlu diberikan pagar bambu sebagai simbol ‘keperkasaan’ bambu kuning. Hal ini saya dapati di beberapa kampung—termasuk di kampung kami, daerah Kluet di pelosok Aceh bagian Selatan dan di kampung kami Kawasan Budaya  Paloh Dayah Lhokseumawe di bagian utara Aceh—hingga di pusat-pusat kabupaten/kota seanteronya. Tak terkecuali, di ibukota provinsi ini, kemeriahan 17 Agustusan terlihat heroik masa itu.

Kepedulian terhadap hari kemerdekaan Indonesia, tahun-tahun sebelumnya, juga diperlihatkan oleh aparat keamanan semisal dengan mengadakan razia kendaraan agar memasang bendera merah putih. Potret inilah yang tidak kami temui tahun ini, di tahun senjata tidak lagi berbunyi. Kalaupun ada beberapa pemilik kendaraan yang memasang atribut merah putih di kendaraannya, masih dapat dihitung jemari. Penjual bendera merah putih pinggir jalan pun, tahun ini tidak sesemarak tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Apalagi, untuk menemukan rumah-rumah berpagar bambu atau rumah-rumah yang diberi warna baru. Pengumuman gotong royong 17 Agustusan saja, jarang terdengar.

Dari sini kemudian, timbul pertanyaan usil dari lubuk hati, apakah semangat patriotisme hanya ada saat konflik, saat banyak orang di daerah ini sembunyi ketakutan dari “Indonesia”? Demikian halnya dengan polisi, kami tidak melihat kehebohan aparat kepolisian dalam menertibkan jalanan menyambut 17 Agustusan. Entah karena menganggap negeri ini sudah aman dari kecamuk perang.

Jika memang alasannya karena Aceh sudah aman lantas tidak butuh lagi semangat 17 Agustusan, agaknya menarik juga untuk dikaji semangat kebangsaan terhadap Indonesia di daerah ini. Pasalnya, kalau di Temanggung, seperti kami sebutkan tadi, tidak ada kemeriahan 17 Agustusan karena sedang trauma gara-gara ledakan bom, di Aceh justru sangat berbalik. Kemeriahan “merah-putih” di Aceh justru kita dapati saat masyarakat negeri ini hidup di bawah trauma aparat keamanan Indonesia.

Entahlah, tulisan ini tidak bermaksud apa-apa. Tidak berkeinginan untuk “membangkitkan kembali batang terendam”. Tulisan ini sekdar mengenang yang pernah ada, yang pernah terjadi di tanah Iskandar Muda ini, bahwa di sini “Merah Putih berkibar saat senjata menyalak untuk menentang ibu pertiwi”. Homhai.

Penulis adalah peminta masalah kebudayaan dan penglola kawasan budaya Paloh Daya

Iklan

Filed under: Opini

3 Responses

  1. ketika dua tokoh budaya menulis satu artikel, tak usah didebatkan lagi soal bobot tulisan tersebut. mantap

  2. debrajoem berkata:

    ya dan lebih cover both side chit, karena mewakili 2 boh daerah dan mungken beda tutur bahasa chit antara Kluet dan Aceh Utara. lage timu ngon barat. Saleum>>>dedy ibrajoem moesa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: