Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Simeulue, Kekayaan yang Tersisa dari Konflik dan Tsunami

tuhoe | Sinabang

hutanAceh memang terkenal dengan kekayaan hutannya, tetapi hutan-hutan Aceh dewasa ini mulai mengalami degradasi. Penebangan liar dan pembakaran hutan semakin merajalela. Namun, semua itu tidak menghilangkan kebanggaan Aceh terhadap sebuah pulau terpencil di propinsi ini. Simeulue, demikian nama pulau tersebut.

Simeulue berada lebih kurang 150 km dari lepas pantai barat Aceh. Ia berdiri tegar di tengah Samudera Hindia. Simeulue sebagai sebuah daerah tingkat II dalam provinsi Aceh merupakan pemekaran dari kabupaten Aceh Barat. Ia resmi berdiri sendiri sebagai sebuah kabupaten sejak tahun 1999, dengan harapan dapat menata perekonomian masyarakat di sana.

Menurut puloe-simeulue.blogspot.com, wilayah ini memiliki potensi hutan mencapai 100.000 hektar lebih. Dengan demikian, 50% dari total wilayah kepulauan terpencil ini diisi dengan hutan. Sayangnya, pemanfaatan hutan di kepulauan ini masih memerlukan tindakan tegas dari pemerintah. Selama ini, pemanfatan hutan di Simeulue cenderung disalahgunakan dengan penebangan ilegal.

Selain jenis kayu bulat, hutan Simeulue juga menghasilkan beberapa jenis rotan, seperti manau, saga, dan lain-lain. Oleh karenanya, hutan dan hasilnya di Simeuelu telah menjadi penyumbang terbesar kedua bagi kegiatan ekonomi masyarakat setempat, setelah peternakan.

Adapun penyumbang utama bagi perekonomian masyarakat Simeulue, lebih kepada pertanian. Pertanian cengkeh merupakan hasil devisa terbesar daerah ini. Menurut mantan Wakil Bupati Simeulue, Ibnu Aban, masyarakat Simeulue sebagian besar hidup dari hasil cengkeh dan kelapa. “Tahun 1970-an hingga 1980-an, warga Simeulue mendapat hasil yang lumayan dari pertanian cengkeh. Dengan cengkeh pula, banyak masyarakat di sini yang mampu menyekolahkan ana-anaknya ke luar,” kata Ibnu Aban semasa masih menjabat wakil bupati setempat, seperti diterbitkan oleh puloe-simeulue.blogspot.com.

Namun, setelah itu harga cengkeh anjlok sehingga kejayaan masyarakat Simeulue pun sirna. Akibatnya, pohon cengkeh tak terurus lagi. Data pemerintah setempat menunjukkan sedikitnya 18.414 hektar tanaman cengkeh produktif di Simeulue tahun 1995. Namun, jumlah itu kini anjlok hingga 50 persen karena petani enggan merawat dan mengusahakan tanaman itu akibat anjloknya harga.

Di sana juga tercatat sekitar 6.000 hektar tanaman kelapa, sekitar 18.814 hektar areal sawah. Hal yang sangat mengejutkan selanjutnya di pulau kecil dan terpencil itu adalah populasi ternak kerbau mencapai 45.000 ekor. Tentu ini sangat menakjubkan, sebab penduduk di sana hanya berkisar sekira 66.306 jiwa.

Jauh dari Konflik Senjata

Secara geografis, Kepulauan Simeulue terletak pada posisi 4-4,3 LU dan 96-07 BT. Wilayah ini memiliki keluasan 205.955 hektar, dengan panjang pulau sekitar 97,5 kilometer dan lebar 15,8 kilometer. Oleh karena letaknya yang terpaut hingga 150 kilometer dari pantai barat Aceh, Simeulue aman dari konflik bersenjata yang pernah melanda Aceh hingga 32 tahun. Sampai sekarang, kita tidak pernah mendengar ada Panglima GAM wilayah Simeulue. Ini salah satu pertanda masyarakat di Simeulue hidup bermasyarakat tanpa menghendaki konflik bersenjata.

Memang hampir tak ditemui fakta sejarah yang menunjukkan keadaan pulau Simeulue sebagaimana wilayah lain di Aceh. Namun, tak dapat pula dipungkiri di pulau kecil itu hidup masyarakat bersuku-suku. Suku Simeulue memiliki bahasa yang disebut bahasa Devayan dengan beberapa dialek. Akan tetapi, masyarakat Simeulue, jika sudah keluar dari pulau itu, lebih senang berbahasa Jamee sesama dia daripada bahasa Simeulue. Rasa kurang percaya terhadap bahasa sendiri bagi masyarakat Simeulue membuat mereka ‘malu’ berbahasa Devayan. Ditambah lagi ada isu yang menyebutkan bahasa Simeulue adalah “mirip bahasa burung”. Padahal, semua bahasa memiliki keunikan tersendiri sehingga seyogianya masyarakat mana pun tak harus malu berbahasa daerah sendiri, apalagi bahasa itu adalah bahasa ibu.

Secara sepesifik, terdapat tiga bahasa yang dominan dipakai masyarakat Pulau Simeulue, yaitu bahasa Ulau, bahasa Sibigo, dan bahasa Jamee (wikipedia.com). Bahasa Ulau umumnya digunakan oleh masyarakat yang mendiami Kecamatan Simeulue Timur, Teupah Selatan, Simeulue Tengah, Teupah Barat, dan Teluk Dalam. Bahasa Sibigo umumnya dipakai oleh masyarakat yang berdomisili di Kecamatan Simeulue Barat, Alafan, dan Salang.

Bahasa Jamee dipakai oleh masyarakat yang mendiami skitar Kota Sinabang. Umumnya mereka yang mendiami Kota Sinabang ini adalah pendatang yang dahulu bermaksud berniaga di pulau tersebut. Kebanyakan mereka adalah suku Minang dan Mandailing. Mungkin karena itu pula, masyarakat Simeulue memiliki ciri seperti orang Cina, bermata sipit.

Asal-Usul

Dalam sebuah situs disebutkan bahwa kata “Simeulue” diambil dari bahasa Aceh yang berarti “Cantik”. Sementara itu, Sinabang yang menjadi Ibukota Simeulue sering diucapkan dengan logat daerah masyarakat di sana, “Sinafang”, yang artinya “senapan” atau senjata api. Aneh memang, daerah yang tak pernah terdengar letusan senjata selama konflik di Aceh malh diambil dari nama “senjata api”. Namun demikian, semua itu tak aneh lagi jika kita membaca buku sejarah tentang Aceh. Di sana disebutkan bahwa pembubuhan nama “Senapan” yang berasal dari kata “Sinafang” lalu menjadi Sinabang itu bermula saat wilayah Aceh dijajah oleh Kompeni Belanda.

Penduduk pulau itu yang dominan menganut agama Islam memiliki adat dan budaya tersendiri yang berbeda dengan daerah Aceh lainnya. Salah satu adat tersebut dapat dilihat dari kesenian “Nandong”, yaitu suatu nyanyi bertutur yang diiringi dengan tabuhan gendang dan biola. Biasanya adat kesenian ini ditampilkan semalam suntuk pada acara-acara istimewa.

Menyimak sejarah pulau kecil dan terpencil di Aceh ini, sungguh sebuah kebanggan bagi Aceh. Ia bukan hanya jauh dari konflik bersenjata, tetapi juga jauh dari amuk gelombang tsunami yang sempat melenyapkan ratusan ribu nyawa akhir Desember 2004 lalu. Kendati letaknya berupa pulau dikelilingi oleh lautan, Simeulue, saat terjadi amuk tsunami sangat minim terjadi korban jiwa. Hal ini karena masyarakat di sana memiliki kearifan lokal yang sudah mengenal geliat gelombang laut saat akan meluah ke darat.

Tsunami bagi masyarakat Simeulue disebut dengan smong, yakni peristiwa air laut surut setelah terjadi gempa. Saat mengalami kejadian seperti ini, masyarakat seluruhnya lari ke bagian tempat yang sangat tinggi. Oleh karenanya, meskipun Simeulue berada pada palung laut dunia dan pada pertemuan lempeng Asia dengan lempeng Australia, yang sangat sedat dengan pusat gempa tsunami 2004, pulau Simeulue tetap selamat. Akan tetapi bukan berarti selamanya pulau kebanggaan Aceh akan senantiasa damai jika penebangan hutan masih merajalela. Semoga pemerintah bisa menanganinya.*[Herman / dbs]

Iklan

Filed under: Feature

6 Responses

  1. Jundi berkata:

    bagus memang ceritanya.. tapi masih kurang lengkap… dari anak pulau simeulue..

  2. ridwan berkata:

    simeulue adalah pulau kesanyangan ku dan aku bercitaa aka membangun nxa menjdi pulau yang terkenal diindonesia nanti nxx?????

  3. jefri berkata:

    hy????simulue akw jg asal dry simulue
    dn kw tg ll cg di lationg sebuah desa yg sngt kecil di ats bukit >>>>>.kanggen p.kw (simeulue)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: