Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Melihat Kutu di Seberang

oleh Herman RN

(Harian Serambi Indonesia, 29 Agustus 2009)

hernSERABUT pendidikan Aceh yang diresahkan Dr Sofyan A. Gani, MA, patut diapresiasi. Sebagai seorang dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsyiah, ia telah berusaha menjernihkan berbagai persoalan dunia pendidikan. Namun dalam tulisannya yang terakir (baca: Serambi, 26 Agustus 2009), saat menyatir semraut dunia pengelola pendidikan (LPTK) perguruan tinggi selain Unsyiah, tebersit resah—jangan-jangan Pak Yan (sapaan Sofyan A Gani) melihat kutu di seberang, sedangkan gajah di pelupuk mata dikatupkan.

Apa yang diungkapkan oleh Pak Yan dalam tulisannya itu tidak jauh berbeda juga terjadi di FKIP Unsyiah, tempat ia mengabdikan diri. Bahkan, program studi (prodi) beliau sendiri, tahun ini menerima mahasiswa seratusan lebih. Maka, pertanyaan yang sama saya kembalikan padanya, “Apakah ratusan mahasiswa yang diluluskan di prodi itu dapat menjamin kualitas pendidikan di bidang jurusannya kelak?” Memang, selama ini banyak orang yang hanya pintar memberikan penilaian terhadap pihak lain, baik berupa individu maupun atasnama lembaga. Karena itu, saya yang lulusan FKIP Unsyiah, merasa berkewajaran memberikan secuil gambaran tempat pendidikan saya tersebut. Terserah kalau kemudian saya dinilai “membuka baju di dada” karena apa yang hendak saya ungkapkan ini adalah sebuah realita.

Lulusan terbanyak
Setiap tahun, FKIP Unsyiah dapat dipastikan menerima calon mahasiswa sebagai kategori terbanyak dibanding fakultas-fakultas lain di perguruan tinggi tersebut. Belum lagi dengan penerimaan mahasiswa untuk jalur nonreguler (ekstensi). Rasa iba terhadap dunia pendidikan akibat penerimaan yang mengandalkan kuantitas ini bukan hanya karena harus dipertanyakan kualitas kelulusannnya kelak, tetapi juga dari segi fasilitas yang diterima mahsiswa saat kuliah. Dari kakak-kakak kelas saya, sampai pada saat saya kuliah, dan sekarang menjalar ke adik-adik kelas saya, bangku Ruang Kuliah Umum (RKU) III itu tidak pernah diganti, meskipun kondisinya sudah sangat memprihatinkan. RKU III itu pun statusnya pinjaman dari pihak rektorat untuk mahasiswa FKIP kuliah, di samping juga kadang mesti kuliah di RKU-RKU lainnya yang semestinya hanya dipergunakan untuk semua mahasiswa yang memprogram Mata Kuliah Umum (MKU). Lantas, di manakah sesungguhnya mahasiswa FKIP kuliah?

Itulah kenyataan yang mesti ditelan pahit oleh semua mahasiswa FKIP setiap angkatan. Ditambah lagi, seperti jurusan/prodi bahasa dan seni yang semestinya memiliki sanggar atau wadah apresiasi, tetapi sama sekali tidak ada. Jadi, mengenai wadah sastra yang tidak dimiliki perguruan tinggi lain sebenarnya juga terjadi di FKIP Unsyiah. Dengan demikian, kekhawatiran Pak Yan tehadap keberlangsungan pembelajaran di LPTK luar Unsyiah adalah berawal dari pengalaman dirinya di tempat ia mengabdi sendiri. Begitu pun di lain hal, saya sepakat dengan beliau yang menginginkan peninjauan ulang terhadap pembukaan kelas jauh. Saya juga setuju jika dilihat lagi kualitas dosen sebagai tenaga pengajar. Hal ini berkaitan dengan kualitas lulusan nantinya. Jika Pak Yan bisa mengatakan bahwa tugas belajar mahasiswa bukan sekedar mengajar di kelas, tetapi juga harus mengadakan penelitian lapangan dan pelatihan kerja, alangkah bagusnya hal itu juga ditekankan pada setiap dosen.

Sebagai tenaga pengajar yang kerap memberikan tugas kepada mahasiswa untuk membuat makalah atau paper, dosen juga mesti mampu dan berkualitas membuat makalah. Artinya, seorang dosen juga harus dapat menulis, tidak sekedar pidato dalam kelas dan memberikan tugas agar mahasiswa menulis tetapi si dosen sendiri tidak melakukan hal itu. Diktat atau modul kuliah harus diperbaharui, minimal tiga tahun sekali, jangan sekedar foto kopi diktat 90-an lalu. Ini salah satu cara menigkatkan kualitas dosen. Terkait keresahan Pak Yan akan kualifikasi tenaga pengajar, barangkali memang perlu dicermati. Hal ini berkaitan dengan pengambilan/pengangkatan asisten dosen (asdos). Hemat saya, asdos tetap diperlukan sebagai ajang pelatihan bagi individu si asdos. Karena itu, asdos mestilah orang yang benar-benar dipersiapkan untuk menjadi tenaga pengajar kelak. Asisten dosen sebagai orang yang mengabdi kepada dosen sekaligus almamaternya. Maka asisten dosen mestilah orang-orang yang sudah selesai kuliah dan berdasarkan penilaian memiliki kemampuan menghadapi mahasiswa. Inilah yang mesti dipersiapkan menjadi dosen, tidak seperti yang sudah-sudah, menerima pendaftaran dosen secara umum yang kemudian tidak diketahui kualitasnya dalam mengajar-sekedar mementingkan ijazah master (S.2).

Jika semua itu diterapkan sesuai prosedut dan standar kualitas, saya kira tidak perlu meributkan bertaburnya asisten dosen. Namun, jika asdos dipilih hanya untuk menutupi kesibukan dosen yang bersangkutan dalam menyelesaikan proyek di luar kampus, keberadaan asdos memang perlu ditinjau ulang. Hal semacam ini saya temui di FKIP, almamater saya. Seorang mahasiswa angkatan 2007 yang pernah mengambil mata kuliah dengan saya tahun ini-kebetulan saya sempat menjadi pembantu dosen (kalau tak mau menyebut sebagai asdos) masa itu-dipercayakan masuk kelas mengajar matrikulasi mahasiswa Usmu tahun ini. Terus terang saya sedih, bukan karenameragukan kualitas si mahasiswa. Akan tetapi, karena saya paham benar si mahasiswa belum memprogram mata kuliah pembelajaran micro apalagi PPL, yang merupakan salah satu syarat seorang menjadi guru. Namun, inilah yang terjadi di prodi tetangga saya. Andaikan hal-hal seperti ini yang dikritisi oleh dosen-dosen FKIP Unsyiah, saya yakin lima tahun ke depan FKIP Unsyiah benar-benar menjadi FKIP Jantong Hate Rakyat Aceh sehingga tidak lagi ‘takut’ melihat gajah di pelupuk mata tetapi jelas mengamati kutu di seberang lautan.

Penulis, alumnus FKIP Unsyiah, peminat dunia pendidikan dan kebudayaan.

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: