Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Meluruskan Hipotesis Prof. Chaedar

Oleh Herman RN

Tulisan ini sekadar berbagi keresahan setelah mendengar resahnya Profesor Chaedar Alwasilah saat menyampaikan makalahnya dalam seminar nasional tentang kebahasaan di Banda Aceh. Dalam seminar yang digelar di Auditorium Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala, Minggu, 25 Mei 2008, lalu, Chaedar menyatakan bahwa guru atau dosen, atau lebih mudah disebut pendidik untuk kuliah atau pelajaran Bahasa Indonesia telah gagal dalam menyampaikan ilmunya kepada anak didik.

Sungguh sangat terenyuh hati saya mendengar kata-kata Chaedar yang katanya semua itu merupakan hasil hipotesis dia selama bertahun-tahun. Pembantu Rektor I di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu mengatakan, mulai dari Indonesia sampai ke Amerika dan beberapa negara lainnya, yang pernah menjadi tempat dia belajar, mengajar, dan melakukan penelitian, kemampuan guru Bahasa Indonesia masih sangat rendah. Untuk yang ini, saya apresiasi terhadap hipotesis dia, karena rendahnya mutu tenaga pendidik Bahasa Indonesia dikaitkan Chaedar dengan hal tulis-menulis.

Sejatinya, seorang guru memang mesti dapat mengaplikasikan kemampuan dia ke lapangan. Tidak hanya memberikan tugas kepada siswa bahwa siswalah yang mesti mengaplikasikannya ke dunia luar. Sebagai contoh, ambil saja perihal menulis. Guru mestinya tidak hanya memberikan tugas mengarang dan membaca kepada siswanya, tetapi guru juga mesti dapat membuktikan teori-teori yang dia berikan kepada anak didiknya tentang menulis. Pembuktian itu salah satunya adalah menunjukkan dirinya juga dapat menulis. Maksudnya menulis yang dapat dibaca oleh khalayak luas, seperti artikel di koran atau menulis buku. Guru jangan sekedar memberi teori bahwa menulis itu adalah begini.. begini.. dan begitu. Bahasa Acehnya, meunoe geutak, meudéh geukoh, lagèe nyo neucang, lagè jéh neuculék.

Semua itu hanya teori klasik yang dicobakembangkan oleh beberapa instruktur saat diminta mengisi acara dalam pelatihan menulis, padahal dirinya sendiri belum tentu melakukan semua yang dikatakannya itu. Karenanya, hati saya sempat tertawa saat salah seorang guru, peserta seminar bahasa hari itu, mengaku sudah memberikan motivasi kepada siswanya. Bahkan, guru tersebut mengaku, sebagai apresiasi, bagi siswa yang dimuat tulisannya di koran akan diberikan hadiah, entah berupa nilai atau berupa benda. Sekilas sungguh menarik apa yang disampaikan oleh guru Bahasa Indonesia itu, tetapi pernahkah dia bertanya pada dirinya sendiri, “Sudahkah saya melakukan seperti yang saya inginkan dari siswa saya (menulis di koran?)”

Selama ini, guru bahkan akademisi tingkat perguruan tinggi, umumnya hanya menulis untuk kewajiban dan tugas semata, misal menulis penelitian dan jurnal. Kalaupun ada yang mencoba mengirimkannya ke media cetak, juga karena kebutuhan sesuatu. Katakan saja, untuk kebutuhan mendapatkan nilai akreditasi yang mewajibkan memiliki tulisan sudah dimuat di media cetak atau dibukukan. Hanya saat itulah, sejumlah guru berjuba-juba mengirimkan tlisannya ke media cetak, setelah lulus sertifikasi, semua selesai.

Sejatinya, seorang tenaga pendidik, menulis tidak hanya karena tugas dan kewajiban akademik semata. Namun, bagaimana memperoleh ruang publik juga bagian dari mentransfer ilmu, sesuai spesifikasi masing-masing. Artinya, koran sebagai sekolah alternatif yang dibaca oleh masyarakat mulai dari kalangan penanam tomat hingga pembuat pesawat (baca: masyarakat kalangan bawah hingga pejabat/pengusaha), sangatlah perlu mendapat perhatian dari kalangan guru. Dalam hal ini, Chaedar sempat menyinggung guru-guru Bahasa Indonesia. Katanya, tenaga pendidik, baik guru maupun dosen, yang mengasuh pelajaran/ matakuliah Bahasa Indonesia telah gagal dalam mendidik anak didiknya. Padahal, mempelajari bahasa erat kaitannya dengan tulis-menulis.

Klaim Chaedar yang menyatakan guru-guru Bahasa Indonesia telah gagal, juga dikarenakan selama ini penilaian terhadap pelajaran Bahasa Indonesia hanya sebatas pengetahuan “tentang” bahasa, bukan pemakaian bahasa secara alami. Terhadap asumsi ini, saya masih setuju, sebab fakta di lapangan memang menunjukkan masih banyak kesalahan berbahasa masyarakat Indonesia umumnya dalam tindakan sehari-hari, baik dari segi tuturan maupun tulisan. Kesalahan ejaan adalah hal yang paling banyak ditemukan. Mulai dari penulisan surat, terutama penulisan surat resmi yang menuntut penggunaan bahasa yang benar, sampai kepada penulisan di sejumlah pamflet.

Chaedar sendiri mengaku pernah menjadi penguji penulisan tesis S2 di tempat dia mengabdi. Kata Chaedar, dalam tesis seorang mahasiswa S2 Bahasa Indonesia yang dia uji, masih banyak ditemukan kesalahan ejaan. Menurut dia, sebagai mahasiswa S2 seharusnya masalah ejaan tidak lagi mesti dibimbing. Artinya, seorang mahasiswa S2 mesti sudah paham benar masalah ejaan, karena ejaan sudah diajarkan mulai dari bangku sekolah hingga diperdalam lagi pada jenjang S1.

Sekali lagi, saya masih mengangguk terhadap hipotesis mantan Dekan UPI Bandung itu. Namun, dia lupa bahwa dirinya adalah juga tenaga pendidik di jurusan bahasa, yakni bahasa Inggris. Nada dia berbicara yang terlalu mengagungkan bahasa Inggris sempat membuat saya asék-asék ulèe (geleng-geleng kepala; bahasa Aceh). Pasalnya, Chaedar beranggapan pembelajaran bahasa Indonesia telah gagal dilakukan oleh kurikulum yang ada di Indonesia, tetapi sebaliknya, hipotesis dia tidak menyebutkan sejauhmana perkembangan pembelajaran bahasa Inggris yang sudah dianggap sebagai bahasa wajib internasional. Dia hanya menyorot kegagalan pembelajaran bahasa Indonesia seakan pembelajaran bahasa asing telah berhasil diterapkan di negara ini.

Memang benar kurikulum nasional telah gagal terhadap penerapan metode pembelajaran bahasa Indonesia selama ini, tetapi hipotesis Chaedar masih perlu diluruskan oleh kenyataan yang ada pada mahasiswa-mahasiswa Bahasa Inggris sekarang, mungkin pula dosen-dosen pengasuh matakuliah Bahasa Inggris. Jika memang alat ukurnya adalah menulis dan tindakan berbahasa sehari-sehari, patut kita tanyakan, seberapa banyak sudah dosen-dosen pengasuh matakuliah Bahasa Inggris yang sudah menghasilkan tulisan, yang memperoleh tempat pangsa pasar? Selain menulis jurnal, apa yang dapat dilakukan oleh seorang dosen atau guru pengasuh bahasa Inggris? Seberapa banyak sudah mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di seluruh perguruan tinggi di republik ini yang sudah menghasilkan karya tulisnya untuk dipasarkan? Atau di mana dapat kita temukan, mahasiswa dan mahasiswa atau mahasiswa dan dosen atau dosen dan dosen jurusan Bahasa Inggris yang berbicara berbahasa Inggris saat bertemu sesama mereka, selain di dalam kelas? Maka, melaui tulisan ini saya hendak meluruskan hipotesis Prof. Chaedar bahwa pembelajaran bahasa Inggris juga telah gagal diterapkan di Indonesia, jika alat ukurnya menulis untuk pangsa pasar dan pemakaian bahasa secara alami.

Sebagai seorang dosen pengasuh matakuliah Bahasa Inggris, Chaedar mesti mengakui kegagalan tersebut sembari terus berusahan mencari jalan keluar dari kurikulum pendidikan yang sentralistik ini, sebab dia juga seorang penulis, di samping dosen. Semoga!

Penulis, Alumni Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Unsyiah

Iklan

Filed under: Opini

3 Responses

  1. semoga saja kegagalan ini segera diperbaiki oleh generasi muda kita…..

  2. muda berkata:

    Menurut saya perkembangan bahasa inggris sangat pesat, perkembangan teknologi telah menghilangkan batas dan jarak dengan pengaruh luar, hal ini juga pasti diikuti oleh ketergantungan akan bahasa asing, atau dlm hal ini bhs inggris. kenyataan tersebut merupakan salah satu alasan mengapa bahasa inggris sangat cepat perkembanganya, saya setuju dng Prof Chaedar kl perkembangan bahasa inggris di negara ini jauh lebih maju dari bahasa ibu pertiwi kita…

  3. yunita berkata:

    saya juga prihatin atas perkambangan bahasa indonesia,, yang tidak sepopuler bahasa asing…
    oleh karena itu perlu adanya usaha dalam menciptakan guru bahasa indonesia yang bermutu dan terampil dalam mengajarkan bahasa indonesia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: