Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Tuankah Gubernur Itu?

oleh Herman RN

Dari Serambi Indonesia, 6 September 2009

RNBERBEKAL secuil keikhlasan dan menyimpan segenggam keberanian, kutulis surat pendek ini tanpa maksud terpendam. Surat bertuju kepada sang raja makuta alam berkuasa, Tuan gubernur bernama, di negeri amuk perkara. Karena sudah acap kurangkai kata membentuk surat, kadang pada pejabat, pernah pula langsung tertuju pada rakyat, kuhidangkan kata bu leukat penanda pikiran tengah gawat melihat acap aksi dan ucap kata para penikmat tampuk jabat.

Kali ini pun aku berhimpun untuk berusaha tutur santun agar tak ada yang merasa disamun setelah membaca surat serumpun yang kucairkan tatkala matahari mengeringkan embun. Bermula dua perkara di sini hendak kusebut; salah satu dianggap tabu yang oleh sang raja disebut basi dan satu perkara lagi yakni memang sedang sangat keras-keras di ujung gigi dan serasa belum lepas dari sela jemari, yaitu tentang kepala dinas pendidikan di provinsi sini yang menjadi abdi pada sang raja bijak bestari, pula tentang adu lisan para pemangku jabatan di media serupa koran.

Inilah, pilu yang kurangkai dengan kedalaman kalbu merupa sejumlah soal yang kususun menjadi pertanyaan satu. Benarkah Tuan terbakar bangku tatkala abdi diketahui bergigi palsu? Maka dari itu, resah kami masyarakat guru dan pula resahku sebagai pembantu guru semakin nyata atas pilihan yang Tuan jatuhkan pada dia beberapa tempo lalu. Seperti kata indatu, yang utôh tayue ceumulék, yang lisék tayaue keunira. Beginilah akibat buet meuawé-awé sabông, dilihat memang ubiet watee uram, tetapi bisa rayek bak meusangkôt ujông. Apalagi, persoalan ia yang ditahan polisi, Tuan ambil sebagai sikap emosi dengan penilaian bahwa aparat kemanan negeri terlalu pongah mengacungkan diri.

Kalau boleh kutawar peri, insaflah Tuan dari segala kata bestari, bersebab ini perkara korupsi, bukan soal syair seloka di dalam peti, atau pula menyoal bagi-bagi dasi seperti yang Tuan sematkan padanya tempo hari. Tentunya, bapak-bapak polisi sudah mempertimbangkan jauh hari, karena mereka juga menilai hakim hukum negeri ini masih dapat ditawar-beli sehingga banyak kasus penyikat uang nagari yang didinginkan di dalam peti. Maka itu, kepatutan yang tak perlu sungkan mesti diberi dua belah tangan kepada aparat keamanan atas kerja dan ketegasan memberikan penahanan terhadap petinggi pemangku jabatan di Dinas Pendidikan. Bukan yang seperti Tuan ucapkan kemarin bahwa polisi gegabah memberikan putusan pada berita yang telah disalin. Sungguh, hanya keresahan Tuanlah sebagai raja nagari terhadap soal ditahannya tukang korupsi telah menelurkan polemik di banyak sudut kampung ini. Resah itu membuahkan bergundah-gundah kadang berkecamuk serupa laut pecah dan membentur keperyaan rakyat susah bahwa Tuan mulai anti-tindak korupsi.

Ah, apa karena ia pilihan Tuan, abdi kepercayaan Tuan, mungkin pula anak emas Tuan, atau tangan kanan yang Tuan sembunyikan dari banyak orang sehingga mesti berkecamuk hati tatkala mendengar ia ditahan polisi? Percayalah, Tuan, penahanan itu bukan soal anak emas atau bawahan kepercayaan Tuan karena tak orang beriri-dengki terhadap pimpinan apalagi sekarang sedang dalam masa bulan ibadah suci. Ini persoalan kebersihan. Sekali lagi, polisi pastinya punya dasaran atas setiap tindakan. Namun, keraguan Tuan terhadap aparat polisi telah pula menimbulkan keraguan saya pada kebersihan negeri ini bahwa yang ditahan bisa dilepaskan oleh kebijakan pimpinan sendirian. Sekali lagi maka, di mana letak kebersihan negeri ini dari praktik korupsi manakala atasan selalu campur tangan kerja aparat keamanan?

Kasus Barat-Selatan

Selain perkara itu, Tuan juga saya lihat mulai memudahkan kasus keramat atas nama adat. Betapa komentar terhadap momen PKA tempo hari Tuan nilai sebagai soalan yang sudah basi. Padahal, dalam even itu disinyalir lembaga antikorupsi sedang terjadi banyak kasus kolusi semisal menjual buku puisi, yang dapat dikategori korupsi adat pertiwi dan kolusi budaya negeri. Gamblangnya seorang panutan negeri mengutarakan bahwa perkara adat sebagai soalan basi padahal baru berlalu dua hari, sungguh sangat telah mengurangi percaya kami pada abdi. Kalau boleh menghemat kata, Tuan mulai merasa berbesar diri sehingga berpendapat bisa berbuat apa saja sekehendak hati, termasuk membuat yang hangat jadi basi, meragukan kinerja aparat sendiri, membenarkan yang telah salah terbukti. Lain lagi dengan dakwa-dakwi yang Tuan bentuk jadi polemik tersendiri antara Tuan dan beberapa bupati dari barat selatan negeri ini.

Di sisi lain, Tuan juga pernah dinilai telah berusaha memperlambat kurungan tiga pejuang negeri—kalau tak mau menyebutnya sebagai kawan sendiri—yang dijeruji di pusat ibukota pertiwi. Di saat banyak rakyat jelata menginginkan kebebasan tiga pejuang itu dari kerangkang Cipinang, Tuan (semoga hanya isu) disebutkan telah berusaha menahan amnesti. Inilah gundahan bertingkat dari kami yang hanya rakyat, lalu membentuk semacam amuk pekat terhadap Tuan punya pangkat. Benarkah Tuan gubernur itu, yang kami pilih saat penuh berkat tatkala selesai gelombang laut naik ke darat?

Entahlah, saya tetap berharap Tuan benar-benar masih amanah sehingga kami sebagai rakyat biasa tak larut dalam fitnah. Saya juga berharap Tuan selalu tabah kendati anak buah mulai direnda masalah sehingga kami tak perlu melisankan pertanyaan yang sudah setahun kami simpan dalam gudah tentang gubernur itu? Surat resah ini adalah takzim saya kepada Tuan, usah dimaknai sebagai bagian dari provokasi seperti aksi demo mahasiswa yang Tuan nilai tempo hari. Terakhir, izinkan saya berucap, selamat menjadikan puasa sebagai ibadah, semoga baraqah.

Herman RN, peminat pendidikan dan kebudayaan

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: