Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pilih Pemimpin

Oleh Herman RN

Hari Adat (8)Setiap negeri memiliki pemimpinya. Itulah jargon realitas yang kita temui. Dalam kearifan masyarakat Aceh, hal tersebut tercermin dalam hadih maja lampôh meupageu umong meupitak, nanggroe meusyarak maséng na raja. Karena itu, kearifan dalam kepemimpinan yang dianut masyarakat Aceh sejak lampau bahwa seorang pemimpin itu seolah raja yang mesti jadi panutan, guguan, dan tiruan. Jika pemimpin tidak baik, ditakutkan pengikutnya juga akan mengambil jalan tak baik.

Hal ini bukan hanya tergambar pada hadih maja Aceh, tetapi hampir semua peribahasa atau pepatah dalam bahasa apa saja disebutkan. Untuk bahasa Indonesia sendiri ada ungkapan kalau guru kencing berdiri, anak kencing berlari. Dalam bahasa Jawa ada pepatah ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tutwuri handayani. Dalam bahasa Minang ada juga bidal indak jauah buah jatuah dari batang. Sedangkan bagi orang Aceh disebutkan, pakiban u meunan minyeuk, pakiban abu meunan aneuk.

Kalimat tegas dan lugas oleh peribahasa tersebut ditamsilkan bahwa dalam sebuah wilayah atau kesatuan, ada yang diikuti dan ada yang mengikuti. Lazimnya, yang mengikuti itu tidak jauh beda dengan yang diikuti. Yang diikuti di sini, meskipun ada yang menamsilkan dalam peribahasa dengan kata guru atau abu, maksudnya adalah pemimpin. Akibatnya, kalau pemimpin berbuat salah, pengikut akan berguru pada yang salah. Karena itu, kearifan ureueng Aceh mendidik masyarakat agar memilih pemimpin sesuai dengan kemampuan atau kapasitasnya. Dengan kata lain, berikan suatu pekerjaan pada yang ahlinya. Ini sangat jelas ditegaskan dalam hadih maja berbentuk syair berikut.

//yang utôh tayue ceumulék/ yang lisék tayaue keunira

yang baca tayue ék kayèe/ yang dungèe tayue jaga kuta

yang beu-o tayue keumimiet/ yang meugriet tayue meumita

yang malém tayue beut kitab/ yang bansat tayue rabé guda

yang bagah tayue seumeujak/ yang bijak tayue peugah haba//

‘si tukang disuruh mengukir/ orang teliti atau cermat diminta menghitung

orang yang lincah disuruh naik pohon/ yang tampang bengis diminta jaga kota

yang malas disuruh menghuni padi/ yang suka sibuk disuruh mencari

yang alim disuruh baca kitab/ yang bangsat disuruh jaga kuda

yang gesit disuruh bepergian/ yang bijak diminta bertutur kata’

Jika yang dimaksudkan oleh hadih maja tersebut dilaksanakan oleh masyarakat dan tak terkecuali oleh pemimpin kita dalam memberikan tugas/jabatan kepada bawahan, tentunya petaka pemimpin masuk penjara tak perlu terdengar di negeri ini. Apalagi, yang masuk penjara itu seorang Kepala Dinas Pendidikan. Bukankah seorang kadis merupakan salah satu pemimpin juga? Yang lebih ironis adalah Kadis Pendidikan yang merupakan gurunya para guru.

Akan tetapi, ini lah realisme di negeri kita. Kebiasaan menyelewengkan kepercayaan seakan sudah menjadi gejala regenerasi. Sebelum Kadis Pendidikan, gubernur di negeri ini pun pernah di penjara karena kasus yang sama, yakni “makan” uang yang bukan jatahnya. Tak terkecuali, beberapa bupati di provinsi kita juga pernah mendapat “hak” yang sama untuk sampai ke “hotel prodeo”. Sebut saja di antaranya bupati di sebelah utara Aceh dan bupati di sebelah selatan Aceh.

Selain itu, kita juga mengamati tingkah lain dari pemimpin kita yang tak semestinya dilakukan oleh seorang panutan di negeri ini, sebab—seperti saya sebutkan di atas—pemimpin bagi orang Aceh adalah raja yang merupakan guru bagi rakyatnya. Misalkan saja apa yang dilakukan oleh Bupati Aceh Selatan dalam acara Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V, 5 Agustus kemarin, sungguh sebuah perkara yang mesti diperhitungkan. Sebagai orang Aceh, seperti apa pun sakit hati, seorang pemimpin tak etis membuka baju hingga telanjang dada di hadapan orang ramai. Apalagi, saat menyambut kedatangan tamu kehormatan. Semarah apa pun kita, sebagai pemimpin baiknya bersikap bijaksana. Indatu kita menganjurkan surôt lhèe langkah meureundah diri, mangat jituri tanyoe bijaksana.

Oleh sebab itu, persoalan mundurnya kontingen Aceh Selatan dalam PKA V dapat dianggap sebagai perkara “merendah diri”. Namun, soal buka baju—apalagi baju kebesaran adat—ini mesti ditinjau ulang lagi. Ah, ada-ada saja pemimpin negeri ini. Semoga ke depan pemimpin kita benar-benar memiliki jiwa kepemimpinan. Amin…

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: