Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Arif, Menulis Itu Ibadah!

Oleh Herman RN

teunkuMENULIS adalah ibadah. Hal ini kemudian dijadikan banyak orang sebagai salah satu alasan—dari berbagai alasan lain—untuk menulis. Tentunya, tulisan yang baik-baiklah yang memiliki nilai ibadah. Tak dinyana, bulan Ramadhan ini kemudian dijadikan sebagian orang untuk menulis yang baik-baik, bernada ceramah, syarat dakwah, dengan tujuan sebagai ibadah kepada Allah subhanahuwata’ala.

Tak mau ketinggalan, sejumlah media pun membuka ruang khusus untuk tulisan sekitar ibadah di bulan Ramadhan. Harian Serambi Indonesia misalnya, dengan menyediakan kolom Ramadhan Mubarak. Sejak hari pertama, kolom tersebut diisi oleh orang-orang yang dianggap berkompeten tentang hal tersebut, mulai dari dosen hingga teungku biasa. Ada pula media yang membuka kolom khusus tentang tulisan Ramadhan seminggu sekali, misalnya setiap Jumat saja. Semua bertujuan sama: ibadah.

Jumat, 11 September, kemarin, kolom Ramadhan Mubarak Serambi Indonesia diisi oleh Arif Rahman, wartawan di surat kabar tersebut. Terang saja saya tersentak, bukan karena Arif yang bukan dosen atau bukan pula ulama mengisi Ramadhan Mubarrak. Namun, isi tulisan yang diulas Arif-lah yang membuat saya gelisah tak habis pikir. Beraninya Arif, dalam ulasannya, menyamakan sifat Allah dengan sifat manusia.

Manakala sifat-sifat yang sanggup dilakukan oleh manusia dikatakan sebagai sifat Allah, pertanyaannya adalah “Lantas, apa beda manusia dengan Allah?” Sejatinya, harus dibedakan maksud perintah Allah swt. terhadap larangan makan, minum, berdusta, menggauli istri/suami, dan sejenisnya, saat menjalankan ibadah puasa, dengan keber-ada-an Allah itu sendiri. Manusia jelas membutuhkan makan, minum, dan semua itu, sedangkan Allah tidak. Tidak makan dan minumnya manusia, diberikan ketakutan serta cobaan lainnya, adalah ujian dari Allah swt. Bahkan, kekurangan harta pun disebutkan Allah sebagai ujian bagi kita hamba (Q.S. Albaqarah:155). Maka, tidak makan dan tidak minumnya manusia tidak boleh disamakan dengan tidak makan dan tidak minumnya Allah Yang Mahaperkasa. Allah memang tidak membutuhkan semua itu. Karenanya, Arif terlalu lancang menyamakan kesanggupan manusia menahan diri dari segala nafsu dengan ke-Maha-an Allah terhadap segala sesuatu.

Di sisi lain, kalimat yang sangat meresahkan adalah ungkapan “…pelaku puasa sedang meneladani Allah”. Sampai saat ini, saya belum menemukan satu ayat atau riwayat pun yang menyatakan bahwa Allah itu adalah tauladan. Namun, jika dikatakan Muhammad adalah tauladan umat, itu memang jelas dalilnya.

Selanjutnya, wartawan SI asal Sunda itu juga menyederhanakan ke-Esa-an Allah dengan kekuatan manusia. Mengutip pendapat ahli kecerdasan emosional Daniel Goleman, Arif menyebutkan bahwa manusia berpuasa akan mampu mengendalikan sifat sabar, cerdas, mampu berkolaborasi, dan bertanggung jawab. Sampai di sini, saya sepakat. Akan tetapi, tatkala sifat-sifat itu dilekatkan sebagai kesejatian milik Allah swt., lagi-lagi Arif teramat lancang. Sesungguhnya, Qawiyy, Ash-Shabru, Ar-Rasyiid, Al-Jami’, Al-Matiin, dan yang lainnya (baca: asma’ul husna), bukan sifat, melainkan nama-nama Allah swt. Hal ini sesuai firman-Nya bahwa Allah memiliki nama-nama yang indah (lihat Q.S. Al-A’raf:180).

Antara Sifat dan Nama

Ingat, Allah swt. adalah Dzat. Ia tak sama dengan sebarang apa pun. Maha Esa, mahakuasa, mahamelihat, mahamengetahui, dan segala maha lainnya adalah nama-nama yang dimiliki oleh Allah Rabbul’izzati. Jelas, nama bukan sifat. Nama-nama tersebut melekat pada Dzat sebagai gelar yang indah. Sebagian ulama membagi nama-nama tersebut menjadi dua golongan besar: nama-nama indah dan nama-nama keagungan.

Nama-nama indah (jamaliah) sederhananya adalah nama-nama romantis. Nama keagungan (jalaliah) dapat pula disebut sebagai nama kebesaran; kekuasaan. Dengan nama-nama indahnya, Allah memaafkan hamba-Nya, meskipun si hamba berbuat nista kepada Allah—tentu saja ampunan ini dalam catatan taubat yang sungguh-sungguh. Bagi Allah, memberi ampunan lebih baik daripada memberikan hukuman. Tidak seperti manusia, meskipun sudah ketahuan ada yang berbuat salah, tetap diberikan sanksi walapun ada kata maaf. Ini membuktikan Allah itu beda dengan manusia.

Adapun nama keagungan dibuktikan dengan segala sesuatu yang ada di dunia ini—termasuk dunia itu sendiri—adalah ciptaan Allah Rabbul’alamin. Apa-apa yang sanggup dilakukan oleh Allah tidak sama dengan kesanggupan manusia. Sebaliknya, apa-apa yang disanggupi manusia tidak pula boleh disamakan dengan kesanggupan Allah ta’ala. Ketika kesanggupan manusia disebut sebagai kesanggupan Allah pula, maka sama saja dengan menyamakan Allah dengan manusia. Di sinilah salah kaprahnya Arif.

Jadi, meninggalkan makan dan minum bukan umpan untuk munculnya sifat Tuhan dalam diri orang yang berpuasa. Allah sama sekali tidak butuh meninggalkan makan dan minum karena Ia memang tidak pernah makan dan minum. Jadi, selama menulis itu adalah ibadah, jangan nistakan hanya dengan kecoplosan permainan kata-kata. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Amin.

Penulis adalah alumni FKIP Unsyiah. Peserta diskusi Ramadhan di Komunitas Panteue.

Iklan

Filed under: Opini

One Response

  1. Agus Suhanto berkata:

    hai,
    senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, tulisan yang menarik 🙂
    salam kenal yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: