Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Malu Aku Punya Bahasa Daerah

Oleh Herman RN*

hernBERIRING salam saya mulai tulisan; menjumpai para budayawan, pemangku kebijakan, dan ahli bahasa di bumi Persada Iskandar Muda. Mungkin ini hanya sebuah coretan atau kerisauan yang masih tersisa, bekas dari kuliah yang pernah saya jejaki selama empat tahun lebih di Universitas Syiah Kuala.

“Usia bahasa itu sudah sangat tua,” kata salah seorang dosen saya kala itu di ruang kuliah. Saya sepakat. Bahkan, lebih tua dari usia negeri ini, Aceh. Banda Aceh saja resmi menjadi ibukota Kerajaan Aceh Darussalam 8 abad silam, tentunya bahasa Aceh sudah terlebih dahulu ada sebelum kota ini ada. Karena itu, ungkapan “Bangsa yang tinggi adalah bangsa yang pandai mencintai dan menghargai bahasanya,” sangat mutlak. Kalimat ini pula pernah didengungkan oleh Presiden Soeharto dalam pidatonya. Mungkin itu sebabnya presiden rezim Orde Baru yang banyak mendapat kecaman publik setelah runtuhnya rezim tersebut tidak pernah mau berbahasa Inggris (Remy Sylado, Makalah Seminar Nasional oleh Akademi Jakarta: 2005). Barangkali Soeharto tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak menghargai bangsa sendiri sehingga dalam pertemuan internasional, lelaki yang dijuluki Bapak Pembangunan itu selalu membawa pendamping sebagai penerjemah.

Terlepas dari diktator, tirani, atau apalah julukan untuk presiden kedua Republik Indonesia itu, dari segi bahasa, hemat saya, dia patut diberi acungan jempol. Acungan jempol ini khusus untuk hal ketidaksukaannya dalam “keinggris-inggrisan” berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan meminta Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (sekarang Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional) untuk mengubah kata/ kosa kata dalam bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia. Walhasil, masa pemerintahan Soeharto, villa ditulis menjadi “vila”, real estate ditulis “real estat”, tower diganti penulisannya menjadi “menara”, park ditulis “taman” sehingga istilah green park ditulis menjadi “taman hijau”. Bahkan, Pondok Indah Mall (sekarang) kala itu ditulis “Mal Pondok Indah”. Inilah bukti ia mencintai bahasa negaranya. Maka sangat ironis manakala saat ini “gila inggris” di daerah kita menjamur; di jalan, di pasar, dan tempat-tempat umum.

Di Aceh, sejumlah nama tempat, gedung, rumah makan, jalan, juga mulai disemarakkan dengan gaya bahasa asing. Hukum MD dalam bahasa Inggris seolah menjadi populer di bekas amuk stunami ini dan sebagian memang mengadopsi bahasa Inggris secara total untuk nama lembaganya. Sebagai contoh, Oasis Hotel, Green Hotel, Hermes Palace Hotel, Aceh Institute, Katahati Institute, Muharram Jurnalist College, Bandar Publishing. Apakah ini bukti kemajuan zaman dan teknologi? Apakah ini yang dimaksudkan kita harus menyesuaikan hidup sesuai dengan kemajuan zaman? Apakah dengan mengikuti istilah dalam bahasa asing itu, kita dikatakan sudah berkembang? Apakah dengan melupakan bahasa sendiri, kita dianggap sudah maju? Ah, keresahan ini sepertinya semakin panjang membentuk beragam pertanyaan.

Jika dengan gaya “keinggris-inggrisan” itu serta melupakan bahasa sendiri kita dianggap sebagai bangsa yang maju, saya tidak sepakat. Gerangan penyakit apa yang menimpa daerah ini sehingga pemangku berwenang di bidang bahasa dan budaya saat ini membiarkan istilah-istilah asing berkeliaran di segenap jalan, kota, dan kampung? Betapa banyak kita jumpai kata-kata asing yang sengaja dipampangkan dengan ukuran huruf besar. Pada baliho-baliho sebelum Pemilu/Pilkada, dahulu pun kita temui hal serupa. Bahkan, pada sebuah baliho pemilihan presiden beberapa waktu lalu tertulis “Korupsi No, SBY Yes!” Bukankah kata-kata tersebut (No-Yes) masih ada padanaannya dalam bahasa Indonesia? Lain halnya jika memang kata-kata tersebut tidak memiliki padanan dalam bahasa Indonesia sehingga dianggap sebagai peristilahan. Lagi-lagi alasannya, “Tidak keren, tidak gaya, tidak menyentuh, tidak hebat, tidak menggigit, dan sebagainya, jika tidak menggunakan istilah asing”. Bangsa ini memang sudah “gila asing” barangkali. Dalih-dalih yang menjatuhkan harkat dan martabat bahasa sendiri selalu dikedepankan. Di sisi lain, orang-orang kita pintar mengejek negara Jiran Malaysia gila Inggris. Padahal, tanpa disadari, daerah ini juga tak kurang “gila”-nya.

Merambah ke Layar Kaca

Kasus penggunaan bahasa asing seperti di atas juga mulai merambah ke layar kaca (telivisi). Tak perlu mengkaji terlalu jauh tentang ini, saya sekedar hendak mengatakan, sejumlah stasiun telivisi swasta sekarang lebih senang menggunakan istilah LIVE untuk siaran langsung. Padahal, masa Hasan Alwi menjabat sebagai Kepala Pusat Bahasa, dia sudah meminta semua stasiun telivisi (pemerintahan dan swasta) untuk menggunakan kata “SIARAN LANGSUNG” pada acara yang memang disiarkan secara langsung, bukan LIVE.

Suatu kali pada masanya, Alwi mendapati salah satu stasiun telivisi swasta di Indonesia menggunakan kata LIVE–kata ini biasanya muncul di sudut atas layar kaca kita saat acara tersebut berlangsung yang maksudnya untuk mengatakan acara itu disiarkan secara langsung semisal acara pertandingan sepak bola yang disiarkan secara langsung dari tempat berlangsungnya pertandingan. Alwi sebagai Kepala Pusat Bahasa kala itu langsung menelpon pemimpin redaksi TV swasta yang menyiarkan acara tersebut. Ia meminta agar kata LIVE diganti dengan “SIARAN LANGSUNG”. Tidak puas berbicara melalui telpon, Alwi juga mengirimkan surat resmi kepada stasiun TV tersebut sehingga pada penyiaran secara langsung berikutnya tidak ada lagi kata LIVE di sana. Sungguh sebuah kebijaksanaan.

Kepiawaian Alwi sebagai orang nomor satu di Pusat Bahasa masa itu dengan menelpon langsung pemilik TV swasta yang suka menggunakan kata asing dalam siarannya sudah menjadi rahasia umum di kalangan pegawai Pusat Bahasa. Hal ini bukanlah sekedar celoteh saya. Namun, saya mendengar langsung dari salah seorang peserta “Seminar tentang Pengutamaan Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai Lambang Jati Diri Bangsa” yang diikuti oleh guru-guru pengasuh matapelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMA se-Indonesia dan wartawan–aat itu, saya diundang juga sebagai peserta. Dalam acara yang diselenggarakan di Pusat Bahasa, Jakarta, itulah saya mengetahui sekelumit kisah Alwi yang piawai dan peduli dalam menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia agar tidak terjebak dengan bahasa asing.

Mengingat itu, menjadi pertanyaan untuk Kepala Pusat Bahasa sekarang, Dr. Dendy Sugono, yang membiarkan saja telivis-telivi saat ini menggunakan kata LIVE untuk pengungkapan “SIARAN LANGSUNG”.

Demikian halnya dengan Aceh, nama stasiun telivisnya saja mengambil hukum MD yang jelas-jelas Inggris: Aceh Teve. Saat siaran langsung pun ditulis LIVE. Ironis sungguh, sebab Balai Bahasa Aceh dan Pemerintah Aceh hanya “senyum” melihat hal ini.

Lantas, sudahkah masyarakat Aceh menghargai bahasanya? Bukankah bahasa menunjukkan bangsa sehingga ada adagium yang menuturkan “Bangsa yang baik adalah bangsa yang pintar menghargai bahasanya?” Hal ini diperkuat dalam sebuah pantun bijak,

tingkap papan kayu persegi

riga-riga di Pulau Angsa

indah tampan karena budi

tinggi bangsa karena bahasa

Oleh karena itu, saya menyisakan pertanyaan dalam bentuk kegalauan, sejauh mana masyarakat Aceh telah menghargai bangsanya, ditinjau dari segi pengutamaan penggunaan bahasa Aceh sebagai bahasa pengantar dalam masyarakat dan rumah tangga Aceh?

Terang saja, saya menangkap gejala “keinggris-inggrisan” mulai menyerang Aceh pascatsunami. Entah karena banyaknya lembaga pemberi bantuan dari bangsa asing yang masuk ke Aceh sehingga orang Aceh pun “gila inggris” dalam membuat nama lembaganya? Hal ini dapat dibuktikan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dibentuk di Aceh pascasmong, kendati lembaga tersebt milik orang Aceh yang pekerjanya pun orang-orang berbahasa Aceh. Saya misalkan saja Aceh Institute, Aceh Programe, Aceh Recoveri Forum, Aceh Syndicate, dan belakangan menyusul Sekolah Menulis Dokarim yang memakai stempel suratnya bertuliskan Dokarim School. Ini baru sebagian kecil, masih banyak nama-nama lainnya yang menggunakan bahasa asing, yang tak mungkin saya catat semua di sini.

Hemat saya, lebih baik menggunakan bahasa daerah guna mempopulerkan bahasa kita di khalayak daripada “gila inggris” tersebut. Jika sudah terbiasa menggunakan bahasa daerah dalam nama-nama atau kegiatan resmi, sebuah keniscayaan bahasa Aceh dapat masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sehingga menjadi sebuah kebanggaan bagi kita, saat ada kosa kata bahasa Aceh yang dibakukan menjadi kosa kata bahasa nasional.

Jujur saja, hati saya sangat miris, sakit, kecewa, dan entah apalagi, saat membolak-balik KBBI edisi terbaru, tidak saya temui kosa kata bahasa Aceh yang masuk ke dalam KBBI sebagai kosa kata yang sudah menasional selain seudati, saman, rencong, dan dayah. Padahal, bahasa dari daerah lain meusipak-ayak dalam KBBI, terutama bahasa Jawa.

Masuknya kosa kata dari bahasa daerah diakui menjadi kosa kata secara nasional adalah hal wajar, sebab salah satu fungsi bahasa daerah memang sebagai sarana pendukung budaya daerah dan bahasa Indonesia. Namun, yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak ada kosa kata dari bahasa Aceh yang masuk dalam KBBI sebagai salah satu kosa kata yang dapat memperkaya bahasa nasional?

Agaknya, jika begini terus nasib bahasa kita, patut malu kita memiliki bahasa Aceh sebagai bahasa daerah. Lembaga Bahasa Unsyiah dan Balai Bahasa Aceh di Lampineung itu pun kelihatannya hanya bisa meuleumpem menyaksikan fenomena ini. Maka, saya sebagai salah seorang yang pernah mengecap bangku kuliah di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unsyiah merasa malu terhadap semua ini sehingga mengambil judul surat singkat ini: Malu Aku Punya Bahasa Daerah.

*Herman RN, Pengasuh rubrik esai majalah SAMAN.

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. Oki tristanty berkata:

    Pakk.. izin ya kopi paste artikel nya .. misii… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: