Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Janji Presiden Jadi Insiden

Oleh Herman RN

Mungkin, yang dilakoni oleh seorang kepada daerah dengan membuka baju saat kedatangan kepala negara adalah ‘urang ajar’. Namun, kondisi itu kelihatannya terpaksa dilakukan Bupati Aceh Selatan beberapa waktu lalu. Pasalnya, beberapa hari sebelum ketibaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Aceh dalam rangka membuka “piasan” adat Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang kelima, dikatakan oleh panitia pelaksana kegiatan tersebut bahwa presiden akan menyinggahi anjungan Aceh Selatan.

Anjungan itu dipilih presiden untuk mengamati kelebihan Kabupaten Aceh Selatan yang menjadi juara umum pada PKA-IV lalu. Sayangnya, janji presiden hendak mengunjungi anjungan dari daerah ‘penghasil pala’ tersebut malah menjadi insiden. Insiden dimaksud telah membuat tangis histeris kaum ibu dalam anjungan Aceh Selatan karena SBY tidak jadi singgah. Lain halnya dengan bupati setempat, ia malah membuka baju adat yang sedang dikenakannya hingga tinggal baju dalam semata.

Insiden ini boleh jadi hal ‘teraneh’ sepanjang sejarah Pekan Kebudayaan Aceh—mungkin pula paling aneh sepanjang sejarah Aceh. Ironisnya lagi, Bupati Aceh Selatan, Husein Yusuf juga menutup anjugan Aceh Selatan. Padahal, penghelatan PKA-5 baru berlangsung setengah jalan (masih ada lima hari lagi). Namun, sikap yang diambil bupati setempat menurut para kontingen dari Aceh Selatan adalah pilihan tepat dan terbaik.

Betapa tidak, ternyata SBY “tidak menepati” janjinya mengunjungi anjungan Kabupaten Aceh Selatan. Padahal, dalam petunjuk teknis kunjungan presiden ke Aceh dalam paket PKA-V, anjungan Aceh Selatan akan disinggahi presiden. Anehnya, anjungan Aceh Besar yang tak ada dalam agenda kunjungan presiden malah disinggahi rombongan kepala negara tersebut. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kontroversi. Ada yang beranggapan bahwa Bupati Aceh Selatan cengeng dengan alasan hanya karena tidak dikunjungi presiden, tega menutup anjungannya sebelum acara usai. Akan tetapi, bagi sebagian masyarakat Aceh, terutama yang berasal dari Aceh Selatan, sikap bupati mereka adalah sangat tepat.

Juknis dan juklak

Menurut SK Panitia PKA-V Provinsi Aceh dengan nomor: TU.430/1842/2009-30 Juli 2009 yang tembusannya diterima Gubernur Aceh, tiga anjungan kabupaten yang bakal dikunjungi SBY adalah anjungan Kota Banda Aceh, anjungan Aceh Selatan, dan anjungan Dekranasda Aceh. Namun, kenyataannya kunjungan ke anjungan Aceh Selatan diganti ke anjugan Aceh Besar. Jubir SBY, Andi Malarangeng, mengakui insiden itu atas arahan dari protokelor Provinsi Aceh. Padahal, Bupati Aceh Selatan, Husein Yusuf, mengaku telah mempersiapkan segala sesuatu terkait penyambutan Presiden SBY dengan maksimal. Di antaranya, sinopsis khusus mengenai anjungan Aceh Selatan, toilet khusus untuk presiden yang di dalamnya dilengkapi dengan alat-alat standar Istana Negara. Selain itu, permadani khusus sepanjang 25 meter sampai dengan lapis tangga terbawah juga sudah disediakan sesuai permintaan protokoler kepada panitia Aceh Selatan. Tak ayal, dana untuk persiapan tersebut mencapai Rp3,7 miliar, nominal terbesar dibanding kabupaten lain di Aceh. Kontingen Aceh Selatan pun disebut sebagai kontingen yang membawa peserta dengan jumlah terbesar dari kontingen lainnya, yakni 600-an orang. Itu sebabnya Pemda dan masyarakat Aceh Selatan mengaku sangat kecewa tatkala menyadari SBY tidak jadi mengunjungi anjungan tersebut.

Menurut Tanius selaku panitia dari Aceh Selatan, kekecewaan tersebut karena anjungan mereka masuk dalam agenda presiden. Pemda Aceh Selatan pun merasa dikibuli. Setelah diselidiki, ternyata memang upaya ‘kebiri’ dari panitia PKA di Pemerintahan Aceh terhadap kontingen Aceh Selatan. Hal ini senada dengan pengakuan Malarangeng bahwa Presiden SBY tidak jadi mengunjungi anjungan Aceh Selatan karena ulah protokoler dan panitia provinsi.

Dalam beberapa teknis acara lainnya, kontingen Aceh Selatan juga sudah kelihatan dikebiri oleh panitia provinsi. Perubahan petunjuk teknis dan keputusan meeting, misalnya, dilakukan secara sepihak oleh panitia provinsi. Hasil meeting pun tak diberitahukan kepada kontingen dari Kabupaten Aceh Selatan. Keputusan sepihak itu antara lain menggugurkan peserta putri dari Aceh Selatan dalam tangkai sayembara baca hikayat dengan alasan tidak ada peserta putri dari kabupaten lain yang putri. Padahal, sebelumnya tidak ada peraturan seperti itu. Gebyar seni tadarus dari Aceh Selatan pun kena diskualifikasi panitia provinsi karena Kabupaten Aceh Selatan tidak memiliki perwakilan hingga enam orang. Padahal, dalam juknis disebutkan bahwa setiap kabupaten/kota hanya diperkenankan memberikan satu nama peserta untuk cabang gebyar tersebut. Beberapa jadwal sayembara tangkai lainnya pun diubah panitia pelaksana secara sepihak. Puncak kebiri tersebut adalah saat kunjungan Presiden SBY ke lokasi PKA-V yang hanya memberikan ‘punggung’ kepada masyarakat dan kontingen Aceh Selatan. Akhirnya, Pemda Aceh Selatan atas nama masyarakatnya menyatakan walk out dari kegiatan PKA-V. Kamis malam, 6 Agustus kemarin, kontingen Aceh Selatan kembali ke daerahnya, melintasi Gunung Geurutee dengan puluhan minibus.

Kekecewaan kontingen Aceh Selatan ditunjukkan pula dengan tidak mau menerima piala beberapa cabang sayembara yang telah mereka menangi. Inilah potret dari penghelatan kebudayaan Aceh masa pemerintahan Irwandi-Nazar (gubernur dan wakil gubernur) Aceh. Aceh Selatan kembali merasakan diskriminasi pemerintahan provinsi. Akibatnya, gaung ABAS (Aceh Barat Selatan) kembali bergema di tanah “Tuan Tapa” tersebut. Nantikan saja!

 

Herman RN, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: