Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Rumah Sakit Zaman Aladin

Oleh Herman RN

Sumber: Harian Aceh, 26 November 2009

Mungkin Tuan dan Puan sudah pernah mendengar kisah Aladin—seorang lelaki yang menjadi penguasa dunia dongeng berkat berkawan dengan jin yang ditemukan dari sebuah teko ajaib.

Kali ini saya kisahkan tentang rumah sakitnya. Karena rumah sakit tersebut seperti pada zaman Aladin menemukan teko mirip panyot culok, jadilah nama tempat perawatan orang-orang tidak sehat fisiknya itu dengan sebutan Rumah Sakit Zaman Aladin. Guna menghemat penyebutan yang terlalu panjang, Tuan dan Puan cukup menyingkatnya menjadi RSZA. Orang-orang kampung saya ada juga yang menyebutkan dengan RSUZA, barangkali maksudnya Rumah Sakit Untuk Zaman Aladin.


Tuan dan Puan yang budiman (berbudi dan beriman), sebenarnya kisah RSUZA ini sudah menjadi rahasia umum, terutama mengenai telantar menelantarkan pasien. Boleh jadi untuk kategori rumah sakit besar di kota-kota besar, RSZA adalah juara soal menelantarkan pasien. Namun demikian, kali ini saya merasa tertarik menuliskan kembali kisahnya, karena rumah sakit itu dikabarkan sudah berstandar internasional. Maka tentunya kisah ini akan saya sesuaikan dengan sahibul riwayat bertaraf internasional tersebut.

Sahdan, gedung baru RSZA itu dibangun dengan sumbangan pihak asing agar masyarakat kampung Aladin tidak kewalahan dalam perihal kesehatan. Gedung yang megah dan bertingkat tersebut memang pantas disebut bertaraf dunia. Saat pertama sekali masuk ke dalamnya saja, saya nyaris tersesat dan kelahan mencari jalan mula saya masuk—tapi sekarang tidak lagi. Hal yang kemudian menjadi bagian dari dongeng Aladin di rumah sakit itu adalah mengenai sistem dan sumberdaya manusianya (baca: dokter dan perawat).

Katakanlah pada sistem bertamu dan tatacara untuk keluarga pasien yang ditulis dan ditempel pada selebaran-selebaran depan pintu ruangan rawat inap. Bahkan, maksud tulisan tersebut juga ditegaskan kembali oleh para perawat dan satpam di RSZA secara lisan. Di sana tertulis bahwa waktu bertamu mulai dari pukul 12.00 WIB dan dibatasi hingga 20.00 WIB. Terkadang dispensasi juga masih ada bagi pengunjung hingga pukul 21.00 WIB—diketahui apakah dispensasi ini bukti baik RS itu.

Persoalan muncul tatkala sudah memasuki pukul 22.00 ke atas. Serta merta akan kita dengar teriakan satpam yang dengan pongahnya merasa diri sebagai keamanan untuk ‘mengamankan’ para tamu dan keluarga pasien dari ruangan rawat inap. Alasannya sangat logis, yakni demi keamanan alias tidak terjadi keributan yang dapat mengganggu pasien. Sayangnya, para satpam yang umumnya tidak sampai setinggi 1,65 sentimeter itu tidak pernah menyadari bahwa teriakatan mereka menyuruh tamu keluar dari ruangan lebih ribut dibanding suara tetamu yang saling bisik dalam ruangan. Saya sempat berpikir, barangkali dalam benak mereka (satpam) bahwa keluarga pasien yang umumnya dari kampung-kampung itu sangat takut dengan sistem militer sehingga mesti diteriaki serupa maling masuk rumah orang, walaupun cara lebih sopan belum pernah dicoba oleh satpam-satpam tamatan sekolah menengah tersebut.

Beberapa waktu lalu, pernah pula seorang teman mengaku dikeluarkan dari ruangan pasien karena sudah lewat batas berkunjung. Mulanya saya katakan salah teman itu sendiri. Namun, setelah mendengar ceritanya (semoga saja ia tak bohong), saya tertawa geli. Katanya, ia dikeluarkan oleh tiga satpam yang menggamit tangan kiri dan kanan teman saya ini seperti polisi yang mengeluarkan pencuri kambing dari kandang. “Itu cara tersopan ala militer. Tak perlu basa-basi, langsung main seret keluar,” kata saya pada teman tadi sembari bercanda.

Selanjutnya, kemarin (22 November) saya mendapati seorang satpam sedang melarang seorang lelaki setengah baya merokok di teras IGD Rumah Sakit Aladin itu. “Asap rokok Bapak bisa masuk ke AC utama,” kata satpam dengan gaya setengah tegas. Sayangnya, ia malah mendapatkan jawaban yang tak kalah tegas dari si lelaki setengah baya, yang dilarangnya merokok. “Dari mana jalannya asap rokok saya masuk ke AC utama? Saya merokok di alam terbuka seperti yang lainnya. Sudah kau bengak, jangan kau perbengak-bengak lagi kami. Saya tahu di mana ruangan ber-AC dan di mana tidak ber-AC. Sudah licin kepala saya ini duduk di ruang ber-AC, tahu?!” sengit lelaki setengah baya yang sempat mengundang tawa saya dan teman-teman yang kebetulan menyaksikan adegan tersebut.

Pasien Askeskin?

“Pasien Askeskin ya?” ini adalah kalimat lazim yang keluar dari mulut para perawat—termasuk dokter muda—setiap pertama kali menangani pasien yang baru masuk RSZA. Saya tidak paham maksud pertanyaan itu. Hemat saya, pertanyaan pertama dari perawat ataupun dokter seharusnya, “Apanya yang sakit, Pak/Bu?”, bukannya pasien Askeskin atau tidak, yang perawatan dan pelayanan diberikan nantinya akan berbeda dengan pasien kaya (tanpa Askeskin).

Hal ini pula yang dialami teman saya minggu lalu. Teman saya yang kecelakaan lalulintas itu masuk Rumah Sakit Zaman Aladin pukul 16.30 WIB. Namun, hingga pukul 21.00 WIB, pasien yang sudah dijanjikan akan dioperasi, tidak disentuh-sentuh lagi oleh dokter maupun perawat. Saya sendiri sudah berulang kali menanyakan tindak lanjut terhadap teman saya itu, apakah jadi dioperasi atau tidak. Namun, jawaban asisten dokter yang menanganinya, dokter belum masuk. Karena sudah menunggu berjam-jam, tetapi jawaban yang sama masih saya terima, ingatan saya langsung pada “Standar Internasional” yang dilekatkan pada rumah sakit itu. Saya tidak mengerti apakah dokter yang tidak masuk-masuk itu adalah ciri-ciri dari dokter internasional. Yang jelas, pukul 22.30 WIB, malamnya, salah satu di antara kami (yang paling tua) menjumpai kembali asisten dokter yang menangani teman saya tersebut. “Coba kasih tahu sama kami, apa alasannya kawan kami tidak segera dioperasi? Kalau alasan dokternya, boleh saya tahu di mana ruang dokternya? Atau pasien ini kami bawa ke rumah sakit lain saja?”

Mendengar kalimat itu, asisten dokter bedah tadi langsung menjawab, “Sudah bisa kita lakukan operasi sekarang, Pak.” Fenomena ini lagi-lagi membuat saya tersenyum kecut. Ternyata memang mereka suka ala militer atau semimiliter. Karena itu, keesokan harinya, gaya yang sama (semimiliter) saya coba terapkan kembali setelah menerima perlakukan acuh tak acuh dari para perawat. Sejak usai operasi malam itu hingga pukul 10.00 pagi harinya, kawan saya tidak dijenguk-jenguk lagi dan obat/resep obat pun tidak diberikan. Akhirnya, saya jumpai salah seorang perawatnya. “Bisa tolong berikan saya obat antibiotik yang cocok untuk teman saya yang dioperasi tadi malam? Sejak tadi malam ia tidak diberikan obat apa-apa. Kalau boleh pinjamkan saya suntiknya, biar saya suntik sendiri,” ujar saya dengan gaya ‘sok pintar’ pada salah seorang perawat. Mendengar itu, barulah perawat tersebut menjingau teman saya dan memberikan resep obat untuk kami tebus. Ironis, sepulang saya dari tebus obat, sudah ada dokter di samping teman saya yang memberikan resep obat yang lain lagi, dengan alasan, “Obat tambahan”. Ternyata masalah obat saja, masih asal tulis di rumah sakit standar internasional tersebut sehingga keluarga pasien kesannya mesti mencampakkan uang sembarangan. Ya, begitulah Tuan dan Puan kisah Rumah Sakit Zaman Aladin, semuanya mesti digosok-gosok dulu agar ‘jin aladin’ keluar membantu pasien. Benar-benar seperti di zaman Aladin!

Herman RN, masyarakat biasa, tinggal di Banda Aceh.

Iklan

Filed under: Opini

3 Responses

  1. didik rahmadi berkata:

    Kami siap membantu menggosokkan teko ajaib tersebut pak, agar jin-jin pada RSUZA tersebut tobat, dan dapat membantu majikannya yang sedang butuh bantuan. 😀

  2. asdsadsad berkata:

    wah hebat aladin zaman dahulu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: