Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kepunahan Bahasa

oleh Herman RN

Di dunia ini, terdapat lebih dari 7.000 bahasa yang digunakan oleh penutur. Dari jumlah ini, 300-an bahasa memiliki pentur per satu juta lebih. Bahasa-bahasa ini tersebar di seluruh penjuru dunia hingga ke pelosok-pelosok daerah terpencil sekalipun. Ironisnya, bahasa-bahasa yang terdapat di pelosok dimungkinkan akan punah (hilang). Namun, kepunahan bahasa tidak terkecuali di kota-kota besar yang sarat arus globalisasi.

Disebut “punah” tatkala bahasa pertama (bahasa dulu) tidak dipakai lagi semenjak masuknya bahasa kedua (bahasa sekarang). Hal ini mesti dicermati terkait lokasi. Misalnya, dahulu terdapat bahasa Portugis di Lamno, Aceh Jaya. Namun, setelah tsunami, seiring banyaknya penutur-penutur bahasa Portugis hilang dalam gelombang tsunami, bahasa Portugis tidak didapati lagi di Lamno. Artinya bahasa Portugis sudah “punah” di Lamno, tetapi tidak untuk wilayah Eropa.

Berikut ini diuraikan beberapa penyebab kepunahan bahasa.

  1. a. bencana alam

Seperti dijelaskan di atas, bencana tsunami telah menjadi salah satu penyebab kepunahan bahasa. Kasus sederhananya terjadi di Calang. Bencana serupa juga dapat terjadi akibat peperangan. Sebuah wilayah yang manakala orang-orang di daerah itu terbunuh semuanya, dimungkinkan bahasa yang digunakan di sana juga ikut punah. Namun, bahasa yang sama bisa jadi masih hidup jika ada penuturnya yang masih mengunakan bahasa itu di daerah lain. Terhadap masalah ini, belum ditemukan persentase penutur pengguna bahasa yang layak disebut punah atau belum. Apakah jika hanya tersisa 10% penutur suatu bahasa, bahasa tersebut sudah dianggap punah? Ini masih menjadi sebuah perdebatan, karena ada asumsi kata “punah” sama dengan hilang total.

  1. b. orang tua

Orang tua juga menjadi bagian dari penyebab punahnya suatu bahasa. Hal ini terjadi tatkala ada orang tua yang tidak mau lagi mengajarkan anaknya berbahasa daerah. Akibatnya, bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu si orang tua tidak akan memiliki regenerasi sehingga kepunahan akan terjadi.

  1. c. lingkungan

Faktor orang tua di atas juga berhubungan dengan faktor lingkungan. Umumnya, orang tua-orang tua yang tinggal di perkotaan yang enggan berbahasa daerah dengan anak-anaknya, termasuk dengan kerluarga secara luas. Faktor lingkungan juga disebabkan “malas”-nya masyarakat berkomunikasi dengan bahasa daerah dalam interaksi sehari-hari. Kecenderungan ini terjadi di negara-negara berkembang dan miskin. Beberapa negara di antaranya memiliki populasi etnik tak lebih dari 5.000 orang, meskipun beberapa di antaranya memiliki jumlah populasi etnik yang cukup besar, seperti bahasa Lenca (36.858 orang) dan bahasa Pipil (196.576 orang) di El Salvador. Namun, penutur aktif kedua bahasa ini hanya sekitar 20 orang. Jadi, bahasa-bahasa ini sesungguhnya telah terancam punah di antara populasi totalnya yang relatif banyak.

Menurut Kloss (1994), kepunahan bahasa itu dapat disebabkan pula oleh tiga hal: (1) kepunahan bahasa tanpa pergeseran bahasa (guyup tuturya lenyap); (2) kepunahan bahasa karena pergeseran bahasa (guyup tutur tidak berada dalam “wilayah tutur yang kompak” atau bahasa itu menyerah pada pertentangan intrinsik prasarana budaya modern yang berdasarkan teknologi; dan (3) kepunahan bahasa nominal melalui metamorfosis (misalnya, sebuah bahasa yang turun derajat statusnya menjadi status dialek karena guyup tuturnya tidak lagi menulis dalam bahasa tersebut, melainkan mulai menulis dengan bahasa lain).

Iklan

Filed under: Opini

6 Responses

  1. ihsan berkata:

    teknologi juga akan memperpunah bahasa, sedikit demi sedikit. banyak orng yang memulainya dengan ketikan di SMS dan FB. kebiasaan ini terbawa saat menulis makalah di kampus. sekarang masih dikoreksi oleh dosen, lama-lama saat si anak jadi donsen, maka ia akan membiarkan. nyan meunan sang….:-)

  2. Ada satu hal lagi yang membuat bahasa punah, penjajahan.
    kita patut bangga punya bahasa sendiri, aceh ataupun indonesia, ada beberapa negara yang karena bekas koloni negara tertentu,mereka sudah tidak punya bahasa sendiri, misalnya Nigeria, mereka berbicara inggris. kamerun, mereka berbicara inggris dan perancis.
    mungkin kita bisa belajar gaya eropa dalam melestarikan bahasa, walaupun mereka pintar inggris, tapi mereka tetap menggunakan bahasa negara mereka sendiri dalam interaksi sosial, dan salah satu syarat untuk menjadi warga negara mereka adalah harus lulus test bahasa negara tersebut.

  3. Pozan berkata:

    Sering-sering ikut gaya bicara Cinta Laura bisa hilang tu bahasanya…
    BTW fotonya mirip seniman yg di malaya itu, ya. hehehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: