Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Celoteh Singkat untuk Dramatisasi Puisi Ekstensi

MUNGKIN saya telalu berbangga hati hari ini melihat suguhan mahasiswa kelas ekstensi PBSI yang memprogram mata kuliah Puisi bersama saya. Lima kelompok dari kelas ekstensi A dan lima kelompok dari kelas ektensi B telah membuktikan diri mereka bahwa—meskipun mereka dari nonreguler—juga mampu menampilkan yang terbaik.

Celoteh kecil dan singkat ini bukan hendak membandingkan sisi bagus atau sisi buruk dari pementasan tersebut. Namun, kebahagiaan di hati sayalah yang membuat jemari ini lancar memilih tut di keyboard laptop saya selepas magrib hingga tulisan ini selesai sebelum tiba waktu isya.

Berbicara soal penampilan para mahasiswa tersebut—saya gunakan istilah ‘para’ agar tidak ada deskriminasi kelompok baik dan kelompok bagus atau kelompok A dan kelompok B—memang masih banyak yang mesti dikomentari. Kekurangan yang mereka suguhkan, sejatinya salah saya yang bersama selama satu semester. Agar kegiatan ujian akhir (final) itu tidak sekadar eporia akhir semester belaka, saya kenan membuat sedikit ulasan tentang dramatisasi puisi yang saya pahami.

Apa yang saya paparkan tentang dramatisasi puisi di sini sebenarnya sudah saya sampaikan di kelas saat memberikan teori dramatisasi puisi tersebut. Jika yang saya sampaikan di sini masih ada yang salah, sewajarnya kesalahan yang mereka suguhkan itu miliki saya semata.

Dramatisasi puisi yang saya mafhumkan adalah menyampaikan pesan yang terdapat dalam puisi ke dalam bentuk drama panggung (akting). Pengertian ini saya ambil setelah memperoleh definisi musikalisasi puisi dari beberapa literatur bahwa musikalisasi puisi adalah penyampaian pesan yang terdapat dalam puisi dengan diiringi musik sehingga adanya irama dan ritma. Jika puisi hanya dibacakan diiringi dengan musik, disebut sebagai ilustrasi puisi. Puisi yang dinyanyikan (boleh disisip pembacaan) diiringi dengan musiklah disebut musikalisasi puisi.

Dari sini kemudian saya memahami bahwa dramatisasi puisi merupakan penyampaian pesan dari puisi ke bentuk drama panggung yang di dalamnya ada dialog/monolog dan kemampaun akting, di samping pembacaan puisi.

Definisi ini kemudian saya bahasakan dengan sederhana menjadi “memvisualisasikan puisi” ke panggung dalam bentuk akting/lakon. Saya tidak menggunakan bahasa teater, tetapi drama atau akting karena teater punya ruang lingkup sendiri. Ia merupakan sebuah kesatuan yang terstruktur menyampaikan sebuah kisah/cerita yang habis diperankan dalam satu malam. Teater tentu beda dengan drama. Oleh karena bahasa yang dipakai drama-tisasi puisi, saya membatasi gerak lakon dan dialog pada puisi yang dipertunjukkan tidak sampai menjadi naskah drama seutuhnya yang kemudian dapat dimainkan menjadi teater. Jikapun harus menggunakan dialog, cukuplah kata/kosa kata/kalimat/ yang diambil dari puisi tersebut, kecuali beberapa hal seperti suara azan, teriakan, kicau burung, dan sejenisnya. Jika untuk dialog yang ping pong, saya menyarankan agar tidak terlalu lari dari teks puisi yang akan membuat dialog menjadi kesatuan tersendiri.

Jika hal ini terjadi, definisinya harus diubah, yakni membuat naskah drama dari puisi. Artinya, sebuah teks puisi digubah menjadi naskah. Ini sama halnya dengan “mengubah cerpen menjadi naskah drama”. Ide dasarnya diambil dari cerpen tersebut, tetapi ceritanya punya cerita tersendiri. Maka, dalam puisi pun, jika terlalu luas pengubahan ceritanya dari teks puisi, saya anggap sebagai naskah drama yang beriri sendiri, tetapi idenya dari teks puisi.

Oleh karena itu, saya menyarankan kepada mahasiswa PBSI yang mengambil mata kuliah puisi bersama saya itu, agar membatasi dialog pingpong jangan sampai menciptakan kalimat-kalimat atau bahkan paragraf baru yang terlalu melebar dari apa yang hendak disampaikan dari puisi yang dipertunjukkan. Saya lebih sepakat dialog atau monolog yang dipakai munculnya dari kata-kata yang terdapat dalam puisi yang dimainkan.

Maka itu, saran saya jangan lupa interpretasi terlebih dahulu puisi yang hendak didramatisasikan. Jangan karena batasan yang saya kemukukakan, lantas penampilan dramatisasinya menjadi kaku, karena takut lari dari pesan yang hendak disampaikan puisi dimaksud.

Adapun penggunaan musik pengiring—baik rekaman maupun main langsung—menurut saya sah-sah saja. Bahkan, keluwesan dalam dramatisasi puisi, diperbolehkan memasukkan lagu dari luar. Hanya saja saran saya, lagu yang disisipi itu jangan total dari A sampai Z (habis sehabis-habisnya). Ini akan membuat tempo yang terlalu lama sehingga penonton jemu. Jika ini tidak hati-hati, definisinya pun bisa berubah, yaitu lagu yang disisipi puisi, bukan lagi puisi yang disisipi lagu. Lagu yang disisipi pun hendaknya lagu yang nyanmbung dengan puisi yang dibawakan. Sekali lagi, intinya interpretasi terlebih dahulu. Jangan sekedar membaca teks yang tampak, tapi lakukan parafrase, temukan hermeneutik-nya.

Ini semua sudah saya sampaikan di kelas. Hanya saja mungkin tidak semua tertangkap dengan jelas. Maklum, bahasa saya masih kurang dari sempurna.

Kepada Pak Mukhlis, Pak Budi, Pak Harun, dan kawan-kawan yang mendukung serta menyemangati final mata kuliah Puisi ini, saya mengucapkan banyak terima kasih. Saya tunggu catatatan kecil dari teman-teman, Edi, Risma, Akmal, Decky, Hendra, Candra, dkk.

Akhirukalam, kok sudah panjang tulisan saya ini? Beginilah kesenangan saya, tak sadar rupanya sudah panjang celoteh saya. Padahal, tadi saya katakan celoteh singkat. Hehehe…

Salam,

Herman RN

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. semanga…salam kenal…

    di tungu kunjungan baliknya…

    terima kasih,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: