Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kesenian Aceh (sedang) Menangis

Oleh Herman RN

MENYIMAK tulisan Sjamsul Kahar terkait yang menimpa seniman tutur Muda Balia (Serambi, 17/1) lalu membuat saya terenyuh. Renyuh yang pertama memang sudah lama terpendam, yakni nasib kesenian dan seniman kita (baca: Aceh) yang jauh abai, baik dari pemerintah maupun lembaga payung dewan kesenian sendiri. Renyuh yang kedua, membaca kepedulian Pak Kahar terhadap dunia kesenian, patut diberikan acungan dua kempol.

Kendati Pak Kahar sudah disibukkan bergudang urusan sebagai pemimpin umum sebuah Harian nomor wahid di Aceh, kenyataannya jiwa seni semasa memimpin Dewan Kesenian Aceh (DKA) masih ada di hatinya hingga sekarang. Tulisan beliau “Muda Balia Menanti Hati yang Terbuka” adalah di antara bukti jiwa peduli seni tersebut.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya Pemerintah Aceh, baik tingkat provinsi, kabupaten, maupun dinas dan badan, peduli terhadap kesenian Aceh. Kesenian dan seniman jangan lagi hanya dianggap ada tatkala perlu acara saja yang bakal menisbatkan seniman Aceh sebagai penghibur semata. Terlepas dari itu, seniman pun tidak semestinya hanya bergantung pada kemurahan hati pemerintah saja. Seniman sebagai kalifah kreatif di bumi ini harus mampu berdikari. Soal bahu membahu dan bantu membantu dengan para pihak, jangankan seniman, pejabat pun pasti membutuhkannya. Yang tidak boleh bersemi di hati seniman adalah membiarkan rasa ‘selalu ingin dibantu’ terus membiak dalam hati dan perilaku sehari-hari.

Adapun yang dilakukan Muda Balia bertemu dengan pemimpin umum Harian Serambi Indonesia dua minggu lalu adalah hal wajar. Saya tidak menilai itu sebagai mengemis agar sampai ke Jakarta. Tgk. Muda—panggilan akrab saya padanya—adalah pelaku seni. Maka ia butuh orang sebagai manajer seni. Ingat, langka mendapatkan orang seperti Muda, berani meninggalkan kampung halamannya demi meneruskan cita-cita sang guru, Mak Lapeh memopulerkan seni tutur tradisi.

Melihat rekor MURI yang dicapai Muda dilatarbelakangi sebuah acara yang digelar oleh Dewan Kesenian Aceh (DKA) bekerja sama dengan Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) 26 Desember 2009 silam, saya menduga manajer seni Muda adalah DKA dan DKB itu sendiri. Maka saya menangis melihat Muda mendatangi kantor Serambi menuturkan kesahnya pada Sjamsul Kahar, sedangkan di belakangnya ada lembaga dewan kesenian yang teramat besar.

DKA dan DKB

Dua lembaga dewan kesenian (DKA dan SKB) adalah perpanjangan tangan pemerintah untuk memfasilitasi kesenian. DKA memperoleh dana operasional dari Pemerintah Aceh. DKB mendapatkan dana dari Pemerintah Kota Banda Aceh. Teramat sadislah kiranya dua lembaga dewan ini membiarkan seorang Muda terkakeh-kakeh menuju kantor Serambi hanya untuk tiket ke ibukota. Padahal, orang-orang di lembaga dewan kesenian itu sangat tahu bahwa Muda ke Jakarta membawa nama Aceh, kesenian Aceh, Kebudayaan Aceh, untuk memperoleh sertifikat MURI. Bahkan, yang membuat Muda mendapatkan gelar MURI itu adalah DKA dan DKB sendiri. Kok bisa penampilan Muda sehari semalam lebih (26 jam) itu tidak mendatangkan selembar tiket pun untuknya. Ada apa ini?

Akhirnya, saya mesti membongkar sedikit birokrasi berkesenian di Aceh dengan harapan ini dapat terbenahi. Adalah DKA yang baru saja melaksanakan Kongres Seniman Aceh (2009) yang kemudian SK-nya belum ditandatangai oleh Gubernur Aceh. Terserah polemik kongres yang disulap dari raker sehari itu. Yang penting, gubernur mesti turun langsung menyelesaikan hal ini. Jika memang gubernur tidak mau menandatangi SK kongres itu, ia harus mendesak DKA mengadakan kongres baru, kongres yang sah, yang melibatkan seluruh aspek kesenian di Aceh.

Saya katakan demikian, karena di tubuh sesama seniman Aceh sendiri saat ini tidak memiliki kesepahaman. Jangan sampai “menggunting dalam lipatan” digunakan secara besar-besaran oleh para seniman yang berujung pada terlantarnya kesenian kita. Gubernur mesti membuat pertemuan semacam Duek Pakat Seniman Aceh yang legal, ‘mengawinkan’ kembali kesepamahan para seniman. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan mandat gubernur. Kalau tak mempercayai DKA untuk membuatnya, serahkan pada lembaga kesenian yang dianggap berkompeten. Atau bisa diserahkan pada Komite Sentral Seniman Aceh (KSSA) yang suratnya sudah diserahkan ke kantor gubernur sejak tiga bulan lalu. DKA yang belum di-SK-kan ini tidak dapat jadi pegangan seniman Aceh. Makanya Muda Balia, sebagai salah satu contoh, terlantar selepas acara akbar yang digelar oleh DKA dan DKB. Seharusnya, sebagai lembaga dewan kesenian, mereka tidak membiarkan hal ini. Mereka (DKA) harus mencari jalan agar Muda sampai di Jakarta. Jangan hanya pintar membuat acara demi memenuhi kalender kegiatan kerja.

Demikian pula DKB. Lembaga Dewan Kesenian Kota Banda Aceh ini turut bertanggung jawab. Di kalender kegiatan MURI, nama DKB tertera. Mungkin DKB tidak bisa berbuat apa-apa terkait hal ini karena ia hanya menumpang nama di acara itu? Ah, lagi-lagi persoalan musyawarah besar. Bagaimana mungkin DKB bisa memiliki dana untuk membantu seniman jika masa kerjanya sudah habis setahun lebih? Tak mungkinlah Walikota Banda Aceh menurunkan dana operasional kembali pada DKB sebelum lembaga dewan kesenian ini mempertanggungjawabkan masa kerja periode yang telah berjalan. Jadinya, lembaga dewan kesenian mesti menjual kreativitas dan diri seniman sendiri?

Belakangan, media cetak memberitakan bahwa Muda Balia, ditemani Ketua DKA dan Ketua DKB sudah mengambil sertifikat MURI ke Jakarta. Namun, tidak diketahui pasti dari mana dananya. Apakah hasil sumbangan sejumlah orang/lembaga selepas membaca keprihatinan Sjamsul Kahar? Atau DKA dan SKB? Saya hanya bisa mengucapkan selamat kepada Muda Balia dan dua lembaga payung kesenian di Aceh itu telah berhasil membawa Muda mengambil MURI ke Jakarta, walaupun dalam keharusannya sertifikat itu bukan diminta (diambil), tapi diserahkan langsung oleh pimpinan MURI. Lucu kan, sertifikat nasional diminta ke Jakarta, bukan diserahkan langsung dari lembaga tersebut? Kalau memang peraturannya diundang ke Jakarta, kok tiket tidak ditanggung oleh lembaga MURI?

Bagi Muda Balia

Akhirnya, bagi Muda Balia, sahabat, guru, sekaligus kakandaku, berjaga-jagalah, jangan sampai dijegal kawan seiring. Penampilan Muda di Kapal Apung akhir tahun lalu adalah aven besar. Kalau memang harus mengemis ke media massa setelah berkesenian, seharusnya itu kerja manajer Muda, bukan Anda yang turun meutateh-tateh. Ingat, Muda adalah pelaku seni. Ada manajer seni di belakangmu. Saya masih ingat sebuah syair yang kita dendangkan bersama di bawah pohon kupila Taman Budaya, “Manyang-manyang gunong kalambalôh, abéh teukurông si bintang kala. Bhah lé abéh harta di gampông, bek di ranto tanyoe keunong peugala.” Selamat meraih MURI!

Penulis, penyuka sastra,

pernah berhikayat keliling Aceh bersama Muda Balia tahun  2006 lalu.

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. dedi berkata:

    ada yang tau apa arti Kutidhieng Aceh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: