Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Arsitektural (Tubuh) Seudati

oleh Anton Sabang

MEMASUKI fenomenologi ruang seudati sebagai produk budaya adalah memasuki medan makna filosofis. Peristiwa seudati dalam konsepsi seni pertunjukan merupakan petanda dan penanda yang dikonstruk oleh jaringan–jaringan simbol–identitas ke-Acehan.

Mendalami ruang seudati sama halnya memasuki wilayah tubuh dalam konsepsi sosial, politik, ekonomi dan historis. Artinya, arsitektural tubuh dalam wadah seudati merupakan perspektif konseptual tubuh yang merupakan “gambaran” hal ikwal secara asosiasi merupakan kontekstualitas problematik yang tergambar melalui identitas tekstualitas–sejarah perjalanan tubuh yang terus-menerus mengalami proses anasir ulang–berevolusi pada fase-fase kompleksitas yang relatif kompleks dan variatif.

Tubuh dalam frems wadah (etnokoreologi) seudati tidak terlepas dari fenomena legetimasi ideologi politik yang diserap dalam visualisasi makna simbol pada atribut-atribut konvensional yang bersifat hirarki. Di lain pihak, tubuh dalam konsepsi sosial politik berpotensi sebagai medium yang bertendensi pada konsepsi hegemoni “ideologi siapa” dalam arti dominasi legetimasi ideologi sosial budaya pada sub-dominasi (ordinat) varian sistem sosial masyarakat–menyimpan heroik survival parsial, dikotomi dan selalu melakukan relasi pada ideologi-ideologi institusi (lembaga-lembaga) secara etnografis dalam paradigma demografi/ giografis aktivitas tubuh.

Dalam pengembaraan tubuh tradisi (baca: seudati) selalu dapat diidentifikasi oleh kemapanan bentuk-bentuk konvensional yang cenderung memperlihatkan konstruksi identitas personal dan sosial tertentu, menjadikan tubuh terbelenggu dan tersekat pada kontekstual dan tekstual yang terbatas pada batas ruang. Akhirnya, dalam konsepsi dan paradigma interkultural maupun inter-etnik, tubuh mengalami guncangan keras (labil) ketika terjadinya interaksi pada nilai-nilai pluralitas. Ada dua kemungkinan yang terjadi mampu menerima (adaptasi) atau menolak (disakulturasi) dari pengaruh realitas sosial budaya yang menghampirinya, masuk dan menyebar. Kemajemukan (multikulturalisme) yang melebar dari persebaran menimbulkan konflit yang bisa dipahami secara subjektifitas dan objektifitas tubuh itu sendiri.

Tubuh berpotensi untuk tidak menjadi apa dan siapa. Pengembaraan tubuh dalam ruang menjadi pluralistik dari nilai-nilai yang digambarkan pada peristiwa koreografi dan tubuh pada perspektif pluralitas etniksitas/ interkulturalis berpotensi akan terjadi konflit horizontal linier pada konsepsi tubuh sebagai bangunan tradisinya dan identitas. Representasi makna simbol dalam perwujudan dan pencitraan sosial masyarakat pemiliknya–aktivitas sosial atau peristiwa budaya (pertunjukan seni) memiliki pemaknaan yang multitafsir dan universal. Dalam memposisikan tubuh sebagai jejaringan simbol atau jalinan tanda sebagai fungsi yang terkait dengan kontekstual (transenden) merupakan keniscayaan pada fungsi tubuh. Selain itu, konsep tubuh menjadi sesuatu yang urgen dalam fungsinya sebagai medium yang memiliki tujuan pada dimensi sosial masyarakatnya. (ritual, politik, ekonomi dan pariwisata).

Pada tingkat praksis, tubuh merupakan jaringan simbol yang mengejawantah dalam konstruksi teks yang mampu melukiskan dan menggambarkan hal ikwal peristiwa sosial budaya (heroik, perlawanan, kasar, lembut dan keras). Tetapi, maksud dalam pengertian ini adalah distorsi dan dekonstruksi teks pada fenomena historis tempat asal-muasal tubuh itu dimulai (terjadi/ tercipta). Akhirnya, dalam perjalanan waktu, gambaran tubuh sebagai ekspresi medium peribadi maupun kolektif: kehilangan esensinya, untuk menjadi penghubung jiwa-jiwa pada keindahan Ilahiah–degradasi pencapaian transenden maupun makna tubuh sebagai simbol-simbol etniksitas yang bersifat tipelogi relegius telah gagal.

Redikalisasi ekstrim pada dekonstruksi nilai tubuh merupakan aleniasi pada substansi fungsi tubuh yang akhirnya “membunuh” makna simbol terdalam dari sistem kebudaya, dalam pengertian tubuh adalah sistem kepercayaan, sistem kekerabatan, identitas dalam meresphone fenomena makrokosmos maupun mikrokosmos–akhirnya menjadi kulit dipermukaan atau figuran-figuran yang cenderung pragmatis–profan semata. Pada bagian konstruksi tubuh (baca: seudati), postulat jaringan simbol yang menyiratkan hal-hal keniscayaan transenden tidak terbatas, inheren pada batas-batas inmateri. Konsep Gothe dalam paradigma tubuh adalah sebuah wahyu yang hidup dan sesuatu yang tidak bisa diduga. Oleh sebab itu, konsep tubuh dalam pemaknaan simbol transenden bersifat universal. Kajian Gothe tentang simbol dapat diinterpretasi melalui paham subjektivitas dan objektivitas yang terpelihara dalam memori tubuh pada setiap personal maupun pelembagaan tubuh.

Dalam penjelajahan tubuh (baca: pentunjukan) paradigma interkulturalis positif tidak terbatas pada ruang dan waktu serta multivaule, tidak menjadikan tubuh kehilangan atau kekeringan makna terdalam bahkan menjadikan tubuh semakin kaya dalam vokabuler memori personal dan komunal pemiliknya. Tetapi, konsekuensi dari perspektif gambaran interkulturalis tersebut menjadikan tubuh lebih labil dan ambivalen dalam menjawab konteks fenomena estetika–artistika. Keniscayaan ekspresi tubuh merupakan metafora yang selalu hidup, bergerak menuju metafora yang lebil subtil karena terus diterjemahkan, dikritisi, dieksplorasi. Tubuh pada fase tertentu menjadi inspirasi yang terus bergerak menjadi embrio-embrio sumber pengkaryaan yang terus hidup (tidak pernah selesai) bagi proses kreatif koreografi. Sehingga membentuk arsitektural yang mampu menolak dan menarik energi dalam menghadapi globalisasi–industri leberal saat ini dan ke depan.

Dalam konsepsi tubuh pada vokabuler, tubuh adalah sebuah proses dalam merumuskan kalimat-kalimat pertanyaan yang belum selesai. Seberapa penting makna tubuh dalam kehidupan masyarakat Aceh? Sejauh apa fungsi tubuh dalam memberi keseimbangan dan keselarasan pada dimensi sosio-budaya Aceh?

Konsep tubuh dipandang oleh para filsuf, golongan manusia yang berusaha untuk terus menggali segala sesuatu secara ”radikal dan ekstrim”. Konsep dan fungsi tubuh merupakan sebuah lahan padang rumput luas, hijau yang membutuhkan sentuhan (garap) dengan memakai berbagai perseptif pemaknaan yang beragam yang terkadang berseberangan. Tetapi pemaknaan tubuh pada pengembaraan tidak akan menjadikan tubuh ”mati” walau kecendrungannya memiliki pemaknaan nilai idologi yang kering seperti penyataan filsuf idealis seperti Plato. Ia menyebutkan tubuh konkrit bukan hal yang penting. Tubuh dianggap sebagai penghalang tercapainya kemurnian jiwa. Plato juga berkata bahwa tubuh adalah kubur bagi jiwa dan jiwa bagaikan terpenjara dalam tubuh (Bertens: 1989).

Jika manusia terlalu memberi perhatian terhadap tubuh, hakikat keabadian hidup, yang terletak pada alam kejiwaan yang abstrak, akan sulit dicapai. Oleh karena itu, ia menganjurkan bentuk-bentuk askese dan mati raga. Bagi para filsuf eksistensialis seperti Sartre, berangkat dari realitas konkret kehidupan manusia konkret, bukan semata membahas ide-ide mengenai bagaimana manusia yang ideal. Berbicara mengenai konteks realitas konkret berarti berbicara tentang aspek sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang menyelimuti peradaban manusia. Dalam hal ini, tubuh merupakan konsep penting karena melalui tubuh manusia mula-mula disebut ‘ada’. Dari tubuh, manusia mencerna dan menyerap dunia realitas hidupnya.

Konsepsi tubuh sangat penting untuk memahami penindasan yang terjadi dalam hiruk pikuknya politik yang terjadi di Aceh. Sebab, melalui tubuhlah (baca: seudati) identitas Aceh tercipta. Ironisnya, masyarakat Aceh dalam memahami dan menyadari makna terdalam dari identitas telah kehilangan keyakinan pada tubuhnya sendiri. Akhirnya, esensi tubuh yang diharapkan mampu mengangkat citra kemanusiaan tidak lagi berdiri otonom dan dikotomi, artinya ada konstruksi/ lapisan luar secara sengaja dikonstruk dalam frems ideologi politik kekuasaan. ”Ia” dibangun dari struktur luar yang disebut tekstual (elemen-elemen tari) dan struktur dalam (nilai) seperti; politik ekonomi, politik historis, dan politik sosial budaya masyarakat pemiliknya. Sehingga layer-layer tersebut tidak lagi mempunyai fungsi sinigfikan sebagai pengembaraan teologi–sakralitas (transeden). Pada ruang dan waktu, tubuh tidak lagi mampu melepaskan kuasa-kuasa logika ideologi, materialistik, pragmatis dan mengejawantah menjadi profan semata, merepresentasikan tindakan, pikiran, emosional dan imajinasi dalam kontak-kontak realitas sosial masyarakat yang semu.

Tubuh dalam arti jaringan simbol pada wilayah aplikasinya dan realisasinya menjadi ”mati” karena stimulasi sejarah tubuh selalu hadir dalam kostruksi identitas personal dan kolektif pada lembaga-lembaga politik tertentu. Identifikasi pada konsep estetika tubuh dalam kaitan motif-motif teks yang ada, term-term, reposisi bentuk dan wujud identitas dan yang terakhir fungsi serta tujuan; sadar tidak sadar, mau tidak mau; esensi tubuh dalam arsitektural kekinian dapat dideskripsikan sebagai atribut-artibut suatu lembaga atau ideologi politik kuasa yang bersifat holistik. Beaground tersebut dapat terindra dan dikaji dari wujud tekstual dalam relasi-relasi fungsional legetimasi politik dari era Orba–pascatsunami yang memiliki tujuan tunggal ”menina bobokan” daya kritis sistem organik sosial masyarakat sebagai warisan yang bernilai hayatan.

oleh Anton Sabang, Koreografer Aceh dan Mahasiswa Pasca Sarjana ISI Surakarta

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. mobil88 berkata:

    Nah….ini baru menarik…. Sukses untuk Anda dari http://mobil88.wordpress.com
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: