Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Karakteristik Hikayat Aceh

Oleh Herman RN

Hikayat adalah jenis prosa sastra lama yang disusun dalam bentuk berbait, bersajak, berirama (ciri hikayat Aceh). Isi atau kisah dalam hikayat meliputi berbagai masalah kehidupan, seperti pelajaran-pelajaran tentang adat, masalah keagamaan, roman-roman duniawi, masalah kemasyarakatan, dan sejumlah peristiwa lainnya. Selain itu, hikayat juga bisa meliputi dongeng-dongeng, legenda, mitos, sage, maupun fabel.

Hikayat dikenal luas dalam masyarakat Aceh. Ia sudah ada sejak zaman dahulu kala. Mulanya hikayat dimainkan atau bawa dalam bentuk lisan oleh ahli (pawang). Karena itu, hikayat sering dikatakan sebagai seni tutur. Kemudian, setelah berkembangnya sastra tulis, hikayat mulai dituliskan, sama seperti jenis sastra lainnya di nusantara. Masa penulisan ini dimulai saat masuknya Islam pertama ke Aceh, diperkirakan abad ke-8 Masehi.

Hikayat Aceh berbeda dengan hikayat Melayu/Indonesia. Jika hikayat Melayu ditulis dalam bentuk prosa bernarasi, hikayat Aceh, kendati juga tergolong ke dalam bentuk prosa, ia ditulis berbait, bersajak, dan mengikuti rima. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Aceh. Namun, jika dilihat naskah aslinya pada zaman dahulu, hikayat Aceh ditulis dalam bahasa Jawoe (Arab Melayu).

Hikayat Aceh masih dapat dibedakan lagi, yakni menurut zaman dan menurut irama yang dibawakan oleh ‘tukang hikayat’. Hikayat Aceh pada zaman lama (dahulu) secara umum memiliki ciri di antaranya mukaddimah dimulai dengan basmalah, kemudian diiringi pujia-pujian kepada Allah, salawat kepada rasul. Biasanya, mukaddimah ini diisi pula dengan sifat-sifat Allah dan tugas-tugas rasulullah saw.

Selanjutnya, tokoh cerita dalam hikayat lama digambarkan sebagai orang yang taat kepada Allah, berakhlak tinggi, berhati budiman, berwatak pahlawan, berpendidikan sempurna, antaranya dinyatakan sejak kecil sudah mampu menghafal Alquran, mempelajari ilmu-ilmu agama, ilmu hikmat, ilmu firasat, ilmu mantra, dan ilmu pemerintahan. Hal ini boleh dilihat semisal pada tokoh Malem Diwa.

Jika tokoh dimaksud adalah seorang lelaki, ia digambarkan berwajah tampan dan gagah, pun berkulit bersih. Jika tokoh itu perempuan, digambarkan sebagai sosok putri cantik dan biasanya berambut panjang.

Dalam kisahnya, pada hikayat lama cenderung terjadi antara remaja atau pembesar istana. Hasil karya pada zaman ini masih dianggap sebagai milik masyarakat karena tidak tercantum nama penulis (anonimious).

Zaman Baru

Sedikit memiliki perbedaan dengan zaman lama, hikayat di zaman baru cenderung diawali langsung dengan kata basmalah, juga puji-pujian kepada Allah, kadang tersebut sifat Allah, salawat kepada rasul dan sedikit pembukaan tentang alam semesta. Namun, terkadang langsung pada isi cerita yang hendak disampaikan.

Tokoh utama dalam hikayat baru digambarkan sebagai manusia yang taat kepada Allah dan berakhlak tinggi. Namun, adakalanya digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki sifat terpuji. Dari sini kemudian muncul tokoh yang disebut sebagai antagonis, protagonis, dan tetragonis.

Berikutnya, topik pembicaraan tidak lagi terfokus pada perebutan putri cantik, melaikan kisah kehidupan sehari-hari sehingga kisah cinta (jika ada) yang terdapat pada hikayat zaman baru (modern) mulai meliputi masyarakat umum, baik kalangan atas maupun kalangan bawah. Adapun hasil karya dianggap sebagai milik individu, karena sudah ada nama pengarangnya.

Irama di Aceh

Tercatat pula beberapa irama hikayat yang ada di Aceh. Irama ini berdasarkan si pembaca (pelantun) hikayat. Namun demikian, hingga saat ini, yang paling dikenal ada dua: irama dangderia dan irama PMTOH. Irama hikayat dangderia disebut-sebut melantun perlahan, mengikuti irama alam semisal hempasan gelombang dan deru angin. Adapun hikayat dangderia ini diciptakan oleh Mak Lapeh, seorang tukang hikayat dari Bakongan Aceh Selatan.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, terkenal pula irama PMTOH. Irama yang penuturannya terdengar lebih cepat dari irama dangderia ini dipopulerkan oleh Tgk. H. Adnan (alm). Lakab PMTOH sebenarnya lebih kepada kisah almarhum sendiri saat berhikayat dari kampung ke kampung yang menggunakan bus lintas Sumatera PMTOH. Dalam perjalanannya, gaya dan irama yang dibawakan oleh Tgk. Adnan kemudian disebut-sebut sebagai irama PMTOH.[Serambi Indonesia, 7 Maret 2010]

Herman RN, penyuka sastra, bergiat di Gemasastrin dan Teater Nol Unsyiah

Filed under: Essay

One Response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna mohon kejelasan, suplay air di tempat kami sudah lebih seminggu macet. Di tempat orang lain lancar saja. Bagaimana ini? 1 week ago

LIKE FACEBOOK HRN

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.294 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: