Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Aceh Negeri Tumbal

[sumber: Kompas, Rabu, 10 Maret 2010]

Herman RN

Berita kedatangan kelompok teroris di Aceh dari pihak kepolisian telah menghangatkan halaman depan sejumlah media lokal terbitan Aceh. Polisi memang kerap mengajak wartawan meliput pemburuan teroris yang belakangan disebut-sebut sebagai jaringan Jemaah Islamiyah. Dibantu Densus 88, Kepolisian Daerah Aceh sudah sepekan melakukan pengepungan di hutan Jantho, Aceh Besar. Warga sipil mulai jadi tumbal timah panas. Seakan terlihat hebat dapat menumpas siapa saja di hadapannya, pasukan polisi telah memisahkan seorang warga biasa pemancing ikan, Kamaruddin, dari keluarganya. Anaknya yang bernama Suheri (14) turut jadi korban. Penembakan warga sipil dan isu teroris memadati halaman depan sejumlah media cetak terbitan Aceh dalam dua pekan terakhir. Juga jadi perbincangan hangat di warung-warung kopi dan kantor-kantor dinas. Razia KTP mulai marak.

Setelah perjanjian damai di Helsinki, warga Aceh sebenarnya sudah hidup nyaman dari suara senjata dan razia KTP. Akan tetapi, sejak pertengahan Februari lalu, warga di ujung Sumatera itu kembali cemas-gemas. Cemas memikirkan nyawa sendiri dan keluarga. Cemas bila namanya mirip-mirip nama orang Arab. Gemas pula melihat polisi main tembak sesuka hati.

Belimbing di tengah

Kehidupan warga Aceh saat ini tak lebih dari belimbing di batu gilingan. Dalam kearifan masyarakat Aceh tersua hadih maja (peribahasa): batee di ateuh batee di miyup, nyang caye boh limeng di teungoh ”di atas batu, di bawah batu, di tengah-tengah belimbing terjepit”. Betapa tidak, saat naik ke gunung hendak mencari nafkah, warga acap kena sweeping oleh pihak teroris. Tatkala turun kembali ke kampung, mereka dapat interogasi dari polisi. Tak ayal pula kadang giliran teroris menembak warga dengan alasan yang tak jauh beda dengan dalih polisi: karena lari dan dicurigai.

Trauma yang menghantui warga Aceh sekarang hampir sama dengan masa konflik GAM-RI dulu. Warga mulai dihadapkan pada manusia-manusia yang ditembak mati di depan umum, misalnya saja, seperti di Padangtiji, 3 Maret lalu. Berita sejumlah media terbitan Aceh yang mengutip keterangan polisi menyebutkan bahwa seorang penumpang bus yang ditembak tersebut adalah anggota Jemaah Islamiyah (JI).

Masalahnya terletak bukan pada siapa yang ditembak: teroris atau bukan. Yang jadi soal adalah bahwa pemandangan itu—ditembak di jalan—adalah ”lukisan” mencekam yang sudah lama terhapus dari lubuk hati masyarakat kini kembali disuguhkan. Nyawa manusia lagi-lagi lebih murah daripada hidup seekor ayam.

Tak tahu siapa yang harus disalahkan. Jika saja polisi tidak menembak orang yang disebut sebagai anggota JI itu, pastilah ia sudah melarikan diri. Karena itu, warga tak tahu harus menyalahkan siapa. Menyalahkan polisi karena main tembak di tempat agaknya tak mungkin juga. Yang jelas, kehidupan di Aceh benar- benar mulai mencekam.

Dari Pandeglang

Dugaan sementara, seperti disebutkan pihak kepolisian, anggota JI yang berada di Aceh berasal dari Pandeglang. Saat ini, mereka masih melakukan latihan di Pegunungan Jantho, Aceh Besar. Mereka kemungkinan masuk di Aceh pada tahun 2005 dengan misi awal: kemanusiaan pascatsunami. Di sinilah letak kezaliman para teroris yang menjual nama Islam itu. Bermuslihat kemanusiaan, lama-lama mereka memperkuat gerakan. Berkedok syahid, mereka menyusupkan misi berhati picik bahwa orang asing tak boleh ada di dunia.

Padahal, jika mereka benar- benar membaca sejumlah hadis bahwa Rasulullah SAW tidak pernah melarang, apalagi sampai membunuh orang asing yang notabene kafir, tentu gerakan bunuh diri tak perlu terjadi. Rasul sendiri sangat membenci orang yang menyakiti dirinya sendiri.

Dakwah dan jihad yang dilakukan Rasul dan para sahabat jelas tak pernah menghalalkan pembunuhan, kecuali dalam keadaan perang. Perang pun baru dilakukan setelah ada dakwah (ajakan) perdamaian sebelumnya. Itu sebabnya, saya tidak habis pikir mengapa JI dari tanah Jawa itu berkeinginan besar mengacaukan Aceh yang baru saja mengecap perdamaian dengan kehidupan bersama berbagai suku, etnisitas, bahkan bangsa.

Berita tentang ketidaknyamanan di Aceh saat ini belum terlalu meluas ke pusat. Jika saja isu Bank Century sudah reda di pusat, barangkali keberadaan teroris di Aceh akan menjadi isu nasional yang sangat besar.

Terkait razia KTP sekarang: sedikit terbalik dengan razia masa konflik dulu. Dulu, KTP yang dicari oleh polisi adalah yang kental keacehannya, semisal nama dan alamat dari Aceh. Sekarang, identitas yang disoroti adalah KTP asal Jawa. Terlepas dari itu, masyarakat Aceh tetap jadi tumbal. Dulu dengan alasan politik, sekarang dengan dalih jihad.

Herman RN Mahasiswa Pascasarjana Universitas Syiah Kuala

Iklan

Filed under: Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: