Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Sejarah Aceh yang di Bawah Kasur (?)

Sejarah adalah sebuah manifesto kebudayaan satu tempat atau daerah yang tak seorang pun dapat menyangkal selama ia berlandas pada kebenaran; data dan fakta. Karena itu, tak ayal sejarah menjadi acuan orang-orang dalam menjalani kehidupan masa kini dan akan datang. Namun, tak jarang pula banyak orang nostalgia semata pada sejarah kejayaan masa silam sehingga kerap superior terlalu tinggi dalam diri orang tersebut guna menyongsong masa depan.

Adalah sebuah kejadian (baca:sejarah) di Aceh yang orang-orang luar Aceh menganggapnya sebagai nostalgia masyarakat Aceh. Sedangkan bagi Harry Kawilarang, Aceh dan masyarakatnya sesungguhnya sudah teramat lama menderita sehingga tak layak disebut sebagai nostalgia. Karena itu, saat menyaksikan amuk laut pekat 26 Desember 2004 silam, bertambah-tambahlah rasa iba Harry untuk Aceh sehingga “Aceh dan Sultan Iskandar Muda ke Helsinki” ini lahir.

Berbekal kenekatan pribadi untuk mengitari Aceh pasca-laut surut, lelaki kelahiran Tondano, Sulawesi Utara 27 September 1944, itu mengumpulkan lembaran sejarah Aceh, baik dari mulut ke mulut yang menurut dia dapat dipercaya, maupun tinjauan kepustakaan. Lelaki yang memiliki kegemaran bertualang ini pun menulis kembali sejarah Aceh dalam sebuah ‘kitab’ sampul merah setebal 200-an lembar. Di sini, sejarah Aceh dikupas mulai masa Iskandar Muda, yang terkenal dengan kejayaannya, hingga perjanjian damai antara “pemberontak di Aceh” (baca: GAM) dengan pemerintah RI.

Dalam buku ini disebutkan bahwa Aceh merupakan negara pertama di Asia Tenggara yang sudah dikenal banyak negara di Eropa. Tak sedikit pembesar-pembesar bangsa Eropa berkunjung ke Aceh, terutama masa pemerintahan Iskandar Muda. Bahkan, jauh sebelum Indonesia mengenal Turki, Neugara Aceh sudah terlebih dahulu menjalin hubungan diplomatik dengan nagara Islam tersebut. Selain itu, Aceh juga sudah pernah menjalin kerja sama dengan Inggris dan Perancis.

Dalam lembaran sejarah yang ditelaah ulang oleh Harry, disebutkan pula bahwa tatkala Pulau Sumatera jadi jajahan bangsa-bangsa luar, Aceh kerap menjadi pertimbangan bangsa penjajah untuk tetap dihormati. Salah satu bukti adalah saat Inggris harus melepaskan Sumatera untuk Belanda. Belanda menyatakan rela melepaskan Malaka kepada Inggris demi memperoleh Sumatera. Tatkala itu, Inggris berpikir takut Aceh akan tersakiti. Setelah yakin perjanjian London tersebut tidak menyakiti Aceh, barulah Inggris menarik pasukannya dari bumi Aceh (bab 2).

Kecamuk perang yang menjadi catatan panjang sejarah Aceh dikupas detail dalam buku terbitan Bandar Publishing ini. Jika dunia pernah mengalami perang hingga dua kali, dalam buku ini disebutkan bahwa Aceh pernah mengalami perang hingga empat kali dan keempat-empat menjadi perhatian belahan negara luar. Karena itu, Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, merasa sejarah Aceh selama ini telah disembunyikan di bawah karpet. Hal ini dapat dibaca pada kata pengantar yang diberikan Irwandi dalam buku tersebut. Benarkah demikian? Wallahu’alam… yang penting, buku ini sangat penting dibaca banyak orang, terutama bagi yang berkepentingan menggali lebih lanjut sejarah Aceh.[herman rn]

Judul Buku : Aceh dari Sultan Iskanda Muda ke Helsinki

Penulis : Harry Kawilarang

Editor :Murizal Hamzah

Sampul : Tgk. Jabbar Sabil

Penerbit :Bandar Publishing

Terbitan :2008

Tebal Buku :xx + 206 hlm: 14,8 x 21 cm

Iklan

Filed under: Resensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: