Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Yang Pergi di Musim Damai

[Sumber: Serambi Indonesia, 4 April 2010]

Oleh Herman RN

Aku cari engkau saudaraku

yang sudah lama tidak kembali

Apakah musim badai tanah rencong ini

telah mendekapmu di penjara-penjara rahasia?

(Sajak “Yang Hilang di Musim Badai, A.A. Manggeng)

BUKAN aku terlambat mendapati kabar kepergianmu sehingga tak kau temui celotehku di lembaran media seperti biasa pada pagi Minggu sehari lalu selepas pergimu di pergantian Sabtu menejelang subuh itu, tetapi aku masih butuh waktu menyusun kuatnya jemari terutama lagi hatiku dalam menerima berita kepulanganmu di saat-saat aku merasakan getirnya rindu, wahai guruku.

Jumat malam menjelang pergantian cahaya bulan sebenarnya telah kuterima kembali pesan yang sama serupa sebulan silam melalui telepon genggam tentang kau yang kritis keadaan sehingga dipatutkan pindah ranjang dari “istana” kesukaan ke rumah sakit kemegahan kota kita dengan “geurutee” nama ruangan dan sungguh aku terlalu berdalih pada pekat malam sebagai alasan sehingga menunda pertemuan kita hingga kurencanakan pada pagi menjelang.

Jumat malam itu menjadi saksi buncah darah disusul peluh gundah sembari berharap kita masih dapat saling bertatap agar dapat kuucap kata maaf atas silap salah pada masa lalu oleh akibat sebuah cerpenku yang singkat dan telah dimuat di media hebat kampung kita pada Maret 2008 lewat.

Dua tahun silam tentu beda dengan sekarang, karena kala itu akibat sebuah cerpenku engkau sempat kalut, sedangkan aku kian dibalut rasa takut apalagi usai mendengar kabar dari kawan yang kautelepon suatu malam selepas cerpen itu jadi perbincangan dan si kawan meberitahukan bahwa aku sebagai murid mulai pintar menjadi lawan terhadap guru yang lama jadi pualam padahal sesungguhnya aku tak pernah bermaksud durhaka, tapi sesal sudah di kepala, sedangkan menatapmu saja aku tak punya muka sebagai tanda betapa hati ini teramat cinta dan dosaku kian terasa bahana selepas bukti nyata bahwa kita memang tak mungkin lagi dapat bersua dan bercanda kecuali mungkin nanti di yaumil mahsya pada hari akhir masa.

Kini, kau telah tenang di pembaringan lain dan aku yang tinggal semakin merasa asing hidup dalam sesak batin sembari memanjatkan ingin pada Rabbul ‘alamin agar kau—guruku—mendapatkan tempat paling sempurna dengan kawalan malaikat pada sekeliling dengan cahayanya yang melebihi seribu lilin.

Kini,  aku dan mereka tak perlu lagi menanti, pun tak patut mencari lagi sajak-sajak baru yang kautores penuh kontemplasi seperti hari-hari lalu, saat-saat kau masih bersama kami, dengan penuh canda dan selalu memberi motivasi.

Dulu, lewat barisan puisi kau mengajarkan aku mengenali diri dan memahami makna hidup ini sehingga untuk sekali lagi kupatutkan tak mungkin aku mengurangajari diri padamu yang telah banyak berbagi tentang lika-liku hidup ini, terutama atas nama menulis cerpen dan membuat puisi.

Kini, aku hanya punya doa yang dapat mengiring kepergianmu dalam beku waktu sembari menunggu kami yang masih mediwana di kampung pilu selepas musim hujan peluru yang diubah jadi musim bangunan dari batu-batu, yang telah mencampakkan identitas rumah kita yang lama berupa kayu sejak masa indatu.

Kini, aku dan mereka para sahabat-sahabatmu takkan lagi mencarimu bukan karena musim badai telah usai, melainkan karena benih damai yang telah kausemai dan doaku semoga kau permai.

“Suara tak selalu jadi kata Saudaraku,” demikian sajakmu dan serupa bait kedua dalam ‘Yang Hilang di Musim Badai’ itu, begitu pula hatiku yang telah terpastikan pada sanubari atas kepergianmu yang tak mungkin kami lepas dengan menyembunyikan air mata dan haru syahdu.

Selamat jalan, guru, sahabat, sekaligus kakandaku: hujan dan cahaya kunang-kunang memberi isyarat duka cita atas kepergianmu* dan aku tidak akan menguburkan kebenaran hanya karena penyesalan walau belum kudapatkan mencium jemarimu, karena kumafhum kau telah bersama malaikat-malaikat Tuhan dan kepada kami yang kautitipkan, doa serta perjuangan belum akan kami selesaikan walau musim badai telah tergantikan.

*bunyi sebaris sajak A.A Manggeng

Iklan

Filed under: Essay

One Response

  1. Zulfikar Akbar berkata:

    mantrap that tgk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: