Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Pesan yang Tak Sempat Terkirimkan

Cerpen Herman RN

[sumber: Serambi, 18 April 2010]

SUNGGUH sialan! Berbilang bulan berganti tahun hingga hitungan genap pada angka delapan, penantian hanya jadi sebuah kepura-puraan. Kali ini menimpa Buyung, seorang lajang dari Kampung Lamkutang yang memetik kecuraman dari Upik, dara yang tak pantas disebut jalang, yang berasal dari kampung sebelah kemukiman.

Selepas kepergian Upik ke perantauan demi cita-cita dan ilmu pengetahuan, Buyung bujang mencoba setia pada kebujangannya hingga masa sampai keharusan melepas lajang, ia tetap masih menjadi bujang. Tatkala kini usia Buyung sudah sangat matang untuk tidak lagi setia pada status lajang, bergudang cara dan aral melintang ia lewati demi mencari jalan agar dapat bertemu pandang dengan si Upik yang dikiranya juga masih lajang.

Penantian yang lewat kepalang! Tatkala Buyung menghempas hasrat pada gundah yang lama ia sekap hingga suatu ketika diucapkan pada Upik melalui surat yang tak panjang agar tidak berbelit-belit seperti orang lari dari utang.

Sayangnya, kenyataan di luar dari impian. “Lupakanlah aku,” sahut Upik yang juga tak mau berbelit dan tak mau berpanjang dalam surat balasan.

Pada malam lain, antara Upik dan Buyung yang sudah saling berbagi user untuk chating berkesempatan saling tegur sapa yang diawali dengan saling mengucap salam. Selepas ditanyakan Buyung tentang penantian, Upik masih berkesimpulan pada suratnya sebulan silam, “Lupakan aku!”

“Semudah itukah?” balas Buyung, yang kemudian bertanya kembali atas alasan Upik terhadap jawabannya. Sayang, Upik tidak memberikan alasan seperti harapan Buyung. Ia hanya berujar, “Ada hal yang lebih penting yang harus kita lakukan sekarang.”

Buyung terhenyak. Dalam benak, ia coba mengingat-ingat sangat apa yang telah dijalaninya selama sekurun. Apakah penantiannya selama ini bukan hal penting? Apakah kejujurannya selama ini bukan hal penting? Apakah kesetiannya selama ini bukan hal penting? Apakah..apakah.. bergundal pertanyaan di kepala Buyung.

“Bagiku kau juga bagian yang terpenting, melebihi yang penting?” hampir saja Buyug berucap serupa itu. Ia cepat-cepat kuasai emosi agar tak lepas silap pada ucap yang belum tentu memiliki arti.

“Lupakanlah aku, lupakanlah semua tentang kita!”

Ucapan Upik tersebut seperti gelegar petir di telinga Buyung. Ia serupa baru kena samun. Jauh terhenyak dalam lamun, pada masa-masa lalu berbilang tahun. “Maksudmu, Upik,” kata Buyung berpura tak paham, hingga kembali Upik harus menegaskan, “Lupakan saja tentang kita yang pernah besama. Kalau Tuhan berkehendak, kita akan bersua. Kini aku jauh di rantau orang demi cita-cita.”

Ada nada pemaksaan ditangkap Buyung dari ucap Upik barusan, paksaan agar Buyung segera dapat melupakan pada setiap kenangan dan keriangan masa silam, saat-saat mereka masih tanggung dikatakan dara dan bujang.

“Kau sungguh-sungguh, Upik?” tanya Buyung, berusaha menguatkan hatinya yang kian tercabik.

“Kita hanya dapat berdoa, Buyung. Jangan terlalu larut dalam masalah tak penting ini. Ingat, tugas kita hanya berdoa, Tuhan yang menentukan.”

“Aku selalu berdoa, Upik. Tapi, apa guna doaku jika berlainan dengan doamu? Apakah Tuhan akan mengabulkan semua doa hamba-Nya? Jika demikian, bagaimana dengan doa kita yang bertentangan? Aku mendoakan dirimu agar ikhlas menerimaku, sedangkan kau berdoa agar aku dapat melupakanmu. Doa mana yang harus dikabulkan Tuhan?”

Upik diam. Buyung juga. Malam merangkak perlahan. “Jika tugas kita adalah berdoa, apakah tugas Tuhan mengabulkan setiap doa hamba-Nya? Bagaimana dengan doa kita, Upik?” lanjut Buyung kemudian.

Lama setelah itu mereka saling diam. Buyung memperhatikan layar monitor komputernya. Selepas tiga puluh menit kemudian, ia tulis sebuah pesan, “Baiklah, aku akan lakukan seperti yang kauharapkan. Mungkin setelah kaubaca pesan ini, kau pun cukup berikan jawaban dengan diam. Sungguh, selama ini aku tak pernah mengerti arti sebuah penantian dan makna sebuah harapan. Maka setelah ini jelaskan saja dengan diam.”

Buyung berhenti sejenak menulis pesannya. Ia tarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan tulisan. “Wahai kau yang sejak dulu tak pernah kusapa kekasih tetapi kau sangat tahu bahwa aku amat kasih, terlalu lama kau lepaskan aku serupa layang-layang, sedangkan benangnya ada pada genggamanmu. Inilah kelemahanku selama ini yang kututupi dan sempat kusadari. Sekali lagi maka, setelah ini jelaskanlah dengan diam, karena aku akan berusaha melupakanmu walau itu menyalahi janjiku dengan Tuhan yang sempat kuucap suatu waktu sewindu lalu. Aku akan belajar seperti inginmu, yakni melupakanmu dan menghentikan doaku, tetapi aku akan terus mengamini doamu. Akhirukalam kulisankan syukran, jazakumullahu khairan…”

Buyung menutup pesannya dengan tanpa ucapan wassalam, semana biasa ia lakukan. Sialnya, belum sempat pesan itu dikirimkan, listrik di rumahnya tiba-tiba padam yang ia ketahui kemudian PLN sengaja memutuskan arus karena tetangga Buyung sudah menunggak rekening tiga bulan.

Jeulingke, 10 April 2010

Iklan

Filed under: Cerpen

One Response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 2 weeks ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: