Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Dari Tuhan (?)

Oleh Herman RN

SUNGGUH, Alquran, tidak ada keraguan apa pun atasnya. Bersebab Yang Mahapenjaga selalu ‘merawat’ firman-Nya, tak semakhluk jua dapat mengubah atau mengutak-atik atau sekadar mengganti satu huruf saja. Jangankan mengubah huruf, baris saja tak ada kemampuan makhluk mengubahnya. Alquran senantiasa suci sejak diturunkan kepada Muhammad saw. dengan perantara Jibril untuk disampaikan kepada segenap insan. Kesucian Alquranulkarim tak terlawan oleh nista apa pun. Saya kira, banyak orang sepakat akan ungkapan ini meski ia beda keyakinan dengan agama yang dirisalahkan junjungan alam Muhammad saw..

Banyak ayat dalam Alquran yang menyatakan bahwa Allah Mahapemberi sehingga Dia menitahkan agar memintalah kepada-Nya. Entah karena ini, tatkala musibah menimpa, banyak orang menyebutkan bahwa musibah pun datangnya dari Allah swt. “Ini sudah takdir Allah,” demikian ungkapan yang sering terdengar.

Maka itu, sebagai refleksi musibah mahadahsyat lima tahun amuk laut pekat, saya coba memberikan secuil analisis, tentunya dengan tetap memohon perlindungan dari-Nya.

Perkara semua hal datangnya dari Allah, baik buruk maupun yang baik, sudah lama tercantum dalam enam perkara yang diimankan sebagai rukun keyakinan. Perkara yang keenam dari enam perkara itulah kerap merisaukan hati saya, terutama saat ada masalah, musibah, petaka, dan segala yang dibahasakan sebagai sesuatu yang buruk oleh manusia sehingga banyak orang tak suka jika musibah dan masalah melanda diri atau kampungnya. Karena itu, saat banjir datang, saat longsor menerjang, orang-orang mengatakan musibah itu datangnya dari Allah, seakan Azzawajalla teramat benci pada hamba-Nya sehingga kerap menimpakan musibah bencana alam. Dalam bahasa sederhana disebutkan “Untung baik dan untung buruk datangnya dari Allah”. Di sisi lain lagi, ada ungkapan “kebaikan akan melahirkan/mendatangkan kebaikan sehingga keburukanlah yang pantas mendatangkan keburukukan pula”.

Mengacu pada jargon tersebut, rasio saya berontak, bagaimana mungkin yang buruk dipercaya datangnya dari Allah, sedangkan Allah itu baik, suci, dan segala kebaikan ada padanya. Saya sangat yakin, tak ada seorang hamba pun yang mau menyebutkan Tuhannya tidak baik. Karena itu, hati dan rasio saya selalu gelisah dengan pernyataan “Ini sudah takdir dari Allah” yang mengesankan Allah-lah senang memberikan keburukan kepada hamba-Nya. Benarkah Allah yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang memberikan yang buruk kepada hamba-Nya sehingga manusia dituntut harus percaya bahwa “qadar buruk itu datangnya dari Allah swat.?” Apakah Allah itu buruk sehingga Dia disebutkan mendatangkan yang buruk? Na’uzubillah… aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari segala keburukan anggapan.

Allah swt. berfirman dalam Surat Annisa’ ayat 79. Ayat itu ditujukan kepada orang-orang munafik yang kerap “mengeluh” saat musibah menimpanya dengan menuduh bahwa musibah (keburukan) itu datangnya dari Allah swt.. “Apa saja nikmat (kebaikan) yang kamu peroleh, datangnya dari Allah. Dan apa saja bencana (kejahatan) yang kamu peroleh, datangnya dari dirimu sendiri…” (Q.S. Annisa’:79).

Mengacu pada firman tersebut, pantaskah keburukan dituduhkan dari Allah swt.? Sesungguhnya Allah itu baik, maka mustahil dari-Nya lahir yang tidak baik. Allah hanya memberikan apa-apa yang diminta oleh hamba-Nya. Maka apa yang diterima oleh manusia adalah sesuai seperti apa yang diminta oleh si manusia, karena Allah swt. memang Yang Mahapemberi.

Hemat saya, segala keburukan yang diterima oleh manusia sejatinya dari manusia itu sendiri. Kehancuran, musibah, bala, dan segala yang dianggap buruk lainnya adalah akibat ulah manusia itu sendiri. Banjir yang melanda Kota Banda Aceh beberapa hari lalu, adalah akibat manusia. Demikian banjir yang melanda Pidie, juga ulah manusia sendiri. Allah hanya memberikan apa yang dipinta oleh hamba-Nya. Jadi, tak pantas disebutkan bahwa musibah itu dari Allah yang mengesankan Allah suka memberikan musibah. Padahal, yang diberikan Allah adalah apa yang dituntut oleh hamba. Misalkan si hamba suka menebang pohon, maka ini adalah bentuk dari permintaan hamba agar kalau hujan datang, kampungnya akan banjir. Sungguh, Allah mahapemberi.

Hal ini senada dengan firman Allah dalam Surat Arrum ayat 41: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Semakin jelas bahwa segala keburukan itu tak dapat ditimpakan dari Allah bersebab Ia Tuhan Yang Mahasempurna. Nista, bencana, dan segenap keburukan sudah berulang kali ditegaskan oleh Allah bahwa datangnya dari (ulah) manusia itu sendiri. Maka, setelah merefleksi lima tahun musibah mahadahsyat sebagai sebuah renungan, akankah kita minta musibah-musibah lainnya?

Iklan

Filed under: Essay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.399 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: