Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Kesedihan Saya dan Pelecehan Karikatur Nabi

Oleh Herman RN

Hari ini saya merasa sedih. Teman saya mengaku akan menghapus semua datanya di facebook dalam 24 jam ke depan untuk selanjutnya menon-aktifkan akun facebook atas namanya.

Sedih, karena selama ini kami saling berbagi informasi di laman facebook masing-masing kini mesti mengakhirinya. Dulunya kami saling berbagi informasi lewat facebook, kini mungkin tidak lagi. Mengenal teman tersebut pun, untuk lebih akrab, selama ini karena situs jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg itu. Namun, dalam 24 jam ke depan, saya akan kehilangan satu jumlah teman akrab di facebook, yang mungkin ke depan jumlah kehilangan itu bertambah.

Kesedihan ini bukan karena kuantitas teman saya berkurang satu. Akan tetapi, karena alasan pengunduran diri teman saya itu dari dunia perteman jejaring faceebook. Semua karena ia menghargai nabinya. Sungguh, ini alasan yang tak sanggup saya terima secepat kilat. Karenanya, dalam perbincangan sore kemarin, di sebuah warung kopi di Darussalam, Banda Aceh, saya bertanya secara khusus kepada teman saya tersebut alasan dia menghapus akun faceebook-nya.

“Soal silaturrahmi, kita bisa berhubungan lewat blog,” katanya, tatkala saya sebutkan bahwa facebook telah membawa dampak positif dalam silaturrahmi kita.

Tentu saja alasan ini tidak dapat saya terima begitu saja. “Beda, kawan. Lewat blog, kita hanya bisa saling meninggalkan pesan atau komentar pada tulisan yang diposting, sedangkan melalui faceebook, kondisinya akan berbeda. Saya kira, kawan mengerti maksud saya, kan?”

Teman saya itu tersenyum. Kemudian ia memberitahukan alasan konkret ia menghapus akun facebook-nya. “Saya tak sanggup melihat pelecehan dan penghinaan lomba karikatur Nabi Muhammad saw. Jika saya punya kemampuan menghapus akun mereka, akan saya lakukan. Namun, karena saya tidak punya kemampuan untuk itu, saya menghapus akun facebook saya sendiri. Ini selemah-lemahnya iman,” kata kawan saya.

“Lantas, apakah dengan menghapus akun facebook-mu itu lomba karikatur Nabi saw. akan hilang? Tidak ‘kan?” tanya saya yang merasa iba atas kejadian tersebut.

“Memang, tapi inilah selemah-lemahnya iman. Karena saya tidak mampu mencegah, saya hapus milik sendiri. Minimal, saya tidak melihat pengumuman lomba itu lagi. Daripada saya harus mengeluarkan kata-kata kasar seperti komentar-komentar muslim lainnya ketika membaca pengumuman tersebut?” kata dia.

Saya terhenyak. “Bisa tidak akun itu bukan dinon-aktifkan, tapi dibekukan sementara. Nanti, beberapa waktu ke depan, sebulan atau beberapa bulan, aktifkan kembali?” tanya saya.

“Saya terlanjur berniat untuk menghapusnya. Dalam mazhab muktazilah, setiap perbuatan dosa itu tetap dosa jika dilakukan. Saya sudah mengatakan akan menghapusnya, maka saya akan menghapusnya,” jawab teman saya itu dengan tegas.

“Bagaimana kalau kita pakai mazhab Ahlussunnah saja untuk kasus yang satu ini. Masih ada jalan lain kan?” jawab saya bercanda.

“Tidak! Tidak bisa,” ketusnya sembari memaparkan sekilas konsep muktazilah.

“Kawan pernah menyadari tidak bahwa dengan facebook kita telah banyak menambah persaudaraan? Jangan melihat sisi negatifnya saja. Saya punya sisi positif facebook itu dan merasakannya,” ucap saya.

“Setiap orang punya cara pandang berbeda dan itu hak kita kan? Saya juga mengakui selama ini facebook telah banyak memberikan dampai positif bagi saya,” jawabnya.

Saya terdiam. Lalu kami tertawa terbahak sembari menyeruput kopi kental buatan ureueng Aceh. Entah apa yang kami tertawakan, mungkin menertawakan diri sendiri yang tidak memiliki kekuatan untuk menghapus akun facebook lomba karikatur Nabi Muhammad saw. yang jelas-jelas melecehkan umat Muslim sedunia itu.

Perlu cracker

Hemat saya, melawan karikatur pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. dengan membuat karikatur bandingan semisal gambar Isa, Yesus, dan sebagainya, yang juga dilecehkan, bukanlah solusi terbaik. Karikatur dilawan dengan karikatur tidak akan dapat membuahkan hasil apa-apa, kecuali saling melecehkan orang-orang yang dimuliakan oleh suatu kaum. Padahal, dalam hati kita juga merasa risih dan tak puas.

Alangkah bagusnya jika para cracker atau penghancur dunia maya bersatu menghancurkan situs-situs yang berisi pelecehan terhadap agama orang lain itu. Siapa pun dan dari mana pun dia, saya kira situsya mesti dihancurkan. Jika pelecehan dilakukan terhadap Nabi Muhammad, umat Muhammad yang memiliki ilmu cracker mesti menge-crack situs yang berisi pelecehan terhadap nabi mereka. Saya kita ini solusi lebih baik daripada mengumpulkan karikaturis seluruh dunia untuk membuat karikatur bandingan, yang pada akhirnya hanya menyemakkan dunia pergambaran penuh dengan saling melecehkan. Jika ini sampai terjadi, dunia seni lukis kita sama saja seperti “taik”.

Kepada para pembuat gambar dan terutama sekali para pembuat lomba karikatur tersebut, saya kira bisa berpikir positif. Apa untungnya mengadakan lomba karikatur pelecehan terjadap nabi orang lain. Bukankah lebih banyak tematik lain yang dapat diperlombakan? Saya kira ada unsur permusuhan yang hendak dikembangkan oleh kelompok tertentu sehingga ia mengadakan lomba yang bukan-bukan itu. Sangat disayangkan ini terjadi dalam dunia seni yang diagungkan orang sejak masa lampau. Maka butuh pula campur tengan pemerintah mencegahnya.

Akhrinya, kita berharap pada semuanya, untuk tidak terpancing dengan tema lomba yang mengusung permusuhan tersebut. Saya yakin, jika tak ada yang ikut lomba tersebut, si pembuat lomba akan berpikir 100 kali untuk membuat lomba serupa ke depannya. Semoga ada kesadaran bagi semuanya, si pembuat lomba, di pengikut lomba, bahkan kepada para crackers. Tak perlu menyaingi lomba yang bukan-bukan itu dengan mengadakan lomba yang sama, tapi bagaimana menghentikan lomba tersebut jangan sampai terjadi, merupakan jalan terbaik bagi semua.

Iklan

Filed under: Memory

3 Responses

  1. Hidayatullah Rosyidi berkata:

    Blokir atau tutup akun “Everybody Draw Muhammed Day” dan semua akun yang senada. Jangan tolerir upaya-upaya tak bertanggung jawab yang bersembunyi di balik kebebasan demokrasi dan ekspresi yang berisi pelecehan, menyebarkan provokasi dan menyulut kebencian massa antar pemeluk agama yang berlainan keyakinan.

  2. […] sederhana ditunjukkan dengan sikap seseorang,  Kesedihan Saya dan Pelecehan Karikatur Nabi. Boikot adalah salah satu cara, syiar kebenaran dan sebab akibat juga harus dijelaskan.  Namun, […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: