Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Selepas Senja di Ulee Lheue (1)

oleh Herman RN

Pukul 18.00 WIB untuk wilayah Aceh, matahari masih memperlihatkan kegagahannya. Lima belas menit kemudian, perlahan warna ‘raja siang’ itu berubah memerah. Ketika itu pula, saya bersama seorang teman, Rusdi, sudah berada di Pelabuhan Ulee Lheue, Sabtu (29 Mei).

Sepanjang jalan yang sudah disulap dua jalur menuju pelabuhan Ulee Lheue berjejer pedagang jagung bakar dadakan. Para pedagang ini biasanya memang menjajakan jagung bakarnya menjelang magrib. Dengan meletakkan beberapa meja plastik di pinggir jalan dan setiap satu meja diapit oleh dua kursi plastik pula, menghadap ke arah matahari tenggelam, cukup menjadi modal penarik hati pelanggan, terutama pasangan muda-mudi.

Meja-meja dan kursi dengan ukuran rendah nyaris berjejer sepanjang jalan menuju pelabuhan dimulai dari turunan jembatan depan kantor Polsek Ulee Lheue. Antara meja yang satu dengan meja lainnya hanya renggang sekitar 1-2 meter yang mengesankan pemilik ‘rex sore’ itu satu orang. Padahal, yang punya dagangan jagung bakar tersebut puluhan.

Di tempat itulah orang-orang menghabiskan waktu menikmati senja. Seperti halnya mereka, saya dan teman saya tadi juga demikian. Mengambil posisi di meja paling ujung dekat pintu gerbang pelabuhan, sembari menghadap ke arah laut, kami menikmati jagung bakar yang sudah diberi saos. Di laut, matahari mulai merah saga.

Warna langit sudah jingga tatkala suara wahyu Ilahi sahut menyahut dari corong pengeras suara mesjid dan musalla sekitar Ulee Lheue. Perlahan ada getar di dalam dada, merasa seperti panggilan untuk segera bertemu Tuhan. Di mesjid Baiturrahim Ulee Lheue yang merupakan satu di antara sekian saksi tsunami, kami salat magrib. Mesjid itu adalah saksi tsunami 26 Desember 2006 silam sekaligus saksi kebesaran Tuhan. Tatkala semunya luluh lantak diterjang gelombang laut, mesjid tersebut tetap berdiri kokoh. Di sanalah kami menemui Tuhan kami.

Selepas magrib, saya dan teman kembali ke arah pelabuhan. Beberapa bintang mulai bermunculan. Cahaya temaram bulan yang baru saja melewati masa purnama mengubah warna laut jadi kemilau tujuh warna. Akan tetapi, tak lama kami di sana. Rasa lapar membuat kami segera mencari makan malam. Sepanjang perjalanan, kami nikmati panorama Kota Banda Aceh yang sudah mulai mekar sejak diamuk tsunami. Di depan kuburan massal korban tsunami, misalnya, sudah ada taman bermain. Pamflet namanya tertulis “Taman Kuliner” dengan beberapa permainan anak-anak seperti kereta lingkar, terdapat di sana.

Ironisnya, sebuah semibaliho seukuran satu meter per segi terpajang juga di sana yang menjadikan pemandangan muram. Di papan semibaliho itu ada tulisan “Tanah Ini Belum Dibayar”. Hal ini mengesankan Walikota Banda Aceh yang memiliki program mewujudkan Banda Aceh jadi Bandar Wisata Islami kurang peduli pada ganti rugi tanah. Belum lagi jika ditelusuri surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) seperti kasus taman Water Bom yang tidak jauh berada dari lokasi mesjid Ulee Lheue, yang menurut berita di media beberapa waktu lalu tidak memiliki IMB. Kami terus berjalan ke depan… (bersambung)

Iklan

Filed under: Memory

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: