Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Masyarakat Abdya (Masih) Takut Menulis

Saat masyarakat Aceh di beberapa penjuru mulai gemar menulis, masyarakat Alu Pade, Kemukiman Kruengbatee, Aceh Barat Daya, malah mengaku tidak berani melakoni hal itu. Alasannya, mereka takut pada pemerintah atau pengambil kebijakan.

“Kami takut kalau menuliskan ketimpagan di tempat kami, nanti kami mendapat teguran dari pemerintah atau atasan,” kata seorang PNS di Alu Pade, dalam acara pelatihan menulis yang diselenggarakan ProDeelat.

Pelatihan yang dimaksudkan untuk memancing kebebasan berpendapat bagi masyarakat lokal itu digelar selama dua hari (22-23/5) di Senter PeKKa. Tempat itu merupakan juga stasiun radio komunitas Khairatunnisa yang terdapat di Alu Pade, Abdya.

Sebenarnya, animo masyarakat Kruengbatee untuk menulis sangat besar. Persoalan sederhana yang merupakan ketakutan pada pengambil kebijakan telah membuat mereka tidak berani menuangkan suara lewat tulisan. Tak dinyana, praktek pembungkaman secara tak disengaja masih berlangsung di daerah yang mendapat julukan Negeri Sigupai tersebut.

Dari diskusi bersama fasilitator, para peserta mengaku banyak hal di sekeliling mereka yang belum terpublis ke permukaan publik, terutama soal kebiasaan masyarakat setempat yang merupakan adat di sana, termasuk pula soal ketimpangan kepemerintahan di negeri itu. Hamdi, seorang peserta mengatakan, selama ini mereka seperti dipasung di kampung sendiri. Hal ini berkaitan dengan penebangan pohon di daerah itu.

“Kami tidak boleh menebang pohon apa pun, meskipun itu pohon mangga yang kami tanam di halaman rumah sendiri. Namun, kalau Satpol PP, boleh mengambil kayu darimana saja. Pohon yang ada di halaman rumah kami pun seolah punya mereka,” ungkapnya kesal.

Hal itu berani diungkapkannya setelah diyakinkan oleh Arif Ramdan, fasilitator pelatihan itu, agar tidak perlu takut untuk berkata benar. Apa yang diungkapkan oleh Hamdi juga dibenarkan sebagian peserta lainnya.

Arif yang merupakan Redaktur Opini Harian Serambi Indonesia memfasilitasi kegiatan tersebut bersama Herman RN, Pemimpin Redaksi the Chiek. Keduanya saling bertukar ilmu dalam kegiatan itu bersama masyarakat Kruengbatee.

Menurut Arif, ketakutan masyarakat di sana untuk menulis karena kebijakan sentralisitik masih berlaku di negeri hasil pemekaran dari Aceh Selatan itu. “Jangan-jangan pengambil kebijakan di negeri ini, baik di tingkat II maupun tingkat SKPA masih bertangan besi,” ungkapnya khawatir.

Oleh karena itu, kedua fasilitator itu berusaha meyakinkan peserta untuk tidak takut menulis. Herman menyatakan bahwa dengan menulis kita dapat mengingat dan mengubah, termasuk mengubah kebijakan pemerintah sehingga tak perlu takut.

“Jika sejarah kampung kita selalu kita tunggu ditulis oleh orang luar seperti yang sudah-sudah, jangan menyesal kelak apa yang dituliskan oleh orang luar itu tidak seperti kebenaran sesungguhnya. Kitalah yang tahu dan paham tentang kampung kita, tentang sekeliling kita, bukan orang di luar sana,” tutur Herman memberikan motivasi kepada peserta.

Mulai berhasil

Hari pertama pelatihan, peserta lebih diarahkan agar termotivasi menulis, sedangkan hari kedua, mereka diminta menulis berperspektif lokal. Kenyataannya, banyak hal yang selama ini dianggap sederhana, mejadi patut dimunculkan.

“Dari beberapa peserta mulai kelihatan bahwa sebenarnya mereka punya kompetensi menulis,” kata Arif kepada the Chiek.

Pelatihan itu dibuka dan ditutup oleh Affan Ramli, aktivis ProDeelat. Menurutnya, jika peserta mampu menunjukkan keseriusannya dalam minat menulis, bukan semata sekadar berkumpul ramai-ramai, pelatihan itu kemungkinan akan berlanjut di masa mendatang.[Herman RN/the Chiek]

Iklan

Filed under: Feature

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.400 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: