Lidah Tinta

Ikon

Saatnya tinta bersuara lebih lantang dari suara senjata

Insan Cobaan

Sajak Herman RN

–TIP

Ini bukan tentang pohon gelumpang raya yang akarnya mencakar kekar kerak bumi berpualam. Bukan pula mengenai batu karang yang tegar ditunjang badai dan guruh siang dan malam. Bukan…sungguh bukan sama sekali.

Ini hanya kisah seorang manusia biasa yang memiliki kesabaran luar biasa. Ini hanya epigram seorang insan yang punya islam dan iman melebihi kekuatan batu karang atau kekokohan pohon gelumpang.

Manakala surya masih pada titah Tuhan, serupa itulah ia, si insan penuh cobaan. Manakala purnama tetap pada firman Tuhan, serupa itu ia, si insan yang kerap dalam ujian.

Dulu di rimba ia ditabalkan. Di kampung ia dibicarakan.

Kala henti perang ia disalahkan. Di kota ia dikambinghitamkan, lalu didekam dalam kurungan. Janji dan sumpah masa perang hanya jadi bualan sekelompok orang yang sebelumnya adalah rekan.

Seratus delapan belas bulan masih dalam hitungan. Mungkin bertambah entah sampai kapan. Menghirup udara Tuhan dari sebalik rumah tahanan. Berkali Ramadhan pula lebaran, membuang air mata melihat badan. Anak menjenguk, istri membesuk, beberapa teman jadi hiburan. Tak sampai hitung hingga dua jam, istri pamit teman pun meninggalkan. Anak berujar, “Ayah kapan pulang?”

Sewindu hal itu dijalankan. Sesak sedak siang dan malam. Silih berganti doa terkirimkan. Dari sanak famili dan handai taulan. Sesekali dapat kiriman, janji dilepaskan oleh pimpinan. Berkali-kali itu jadi harapan, surat berantai luruh dalam sekali fitnahan. Ramadhan tahun ini tipis harapan, menjenguk keluarga dan kampung halaman.

Belum usai mimpi lebaran, pun Ramadhan masih jadi tungguan. Tepat tanggal 17 Juli dalam hitungan. Ayahanda pamit dalam suratan. Duduk bersimpuh tangan ditengadahkan. Mencoba tulus ikhlas yang hanya tersisa jadi pilihan. Tubuh bergetar air mata bercucuran, usah ditanya remuk di dalam. Nun di sana, suara seorang putri serupa dalam bisikan, “Ayah, kapan pulang? Kakek sudah pergi ke Tuhan.”

Lagi-lagi doa penuh harapan. Kepada Allah Rabbu’alam. Ayah diterima di sisi Tuhan. Tabah dan sabar untuk yang ditinggalkan. Ujung terakhir doa dilisankan, semoga pimpinan dapat ibrah dari segala tanda-tanda alam.

Di bawah bulan tak bersinar,

18 Juli 2010

Iklan

Filed under: Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

TABIK

Pembaca yang budiman, tidak dilarang mengutip tulisan dari web blog ini, baik seluruh maupun sebagian. Harapan kami, jangan lupakan sumbernya. Senang kami jika ada komentar ditinggalkan, apa pun bentuknya. Diskusi lebih lanjut dilayani di pelangijantan@gmail.com Terima kasih.

PO TULEH

TWITTER SAYA

  • @tirtadaroy_bna yang baik, kenapa setiap Sabtu-Minggu air di sepanjang Jl. Prof. Ali Hasjmy mati total? Apakah ada batasan kubik pemakaian? 1 week ago

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 2.388 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: